Whatsapp Share Like Simpan

Selama masa kehamilan, banyak hal yang akan membuat Ibu merasa was-was, salah satunya ketika air ketuban pecah sebelumnya. Lalu bagaimana cara mengatasi air ketuban pecah? Sebelumnya, mari cari tahu dulu fungsi dari air ketuban itu sendiri. Cairan amnion atau air ketuban dalam kantong kehamilan (selaput ketuban) ibarat air di dalam balon. Keberadaan cairan amnion ini memungkinkan si Kecil bergerak bebas ‘berenang’ di dalam kantong kehamilan. Bila terjadi robekan selaput ketuban, baik karena suatu trauma maupun terjadi spontan, air ketuban dapat merembes keluar atau bahkan pecah. Kebocoran kantung kehamilan yang menyebabkan air ketuban merembes dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan si Kecil dalam rahim, karena bakteri dapat dengan mudah masuk dan menyebabkan infeksi, apalagi jika air ketuban pecah sebelum waktu melahirkan.

Kadang kala, air ketuban yang merembes sukar dibedakan dengan cairan lain yang keluar dari vagina atau rembesan urin. Misalnya, saat kehamilan trimester tiga, akibat tekanan pada dinding rahim oleh si Kecil yang makin tumbuh besar, Ibu akan mengalami ‘keputihan’. Keputihan yang normal terjadi saat kehamilan tua, sering dikira rembesan air ketuban. Demikian juga bila kandung kemih Ibu tertekan oleh rahim yang makin membesar, tanpa sadar urin dapat merembes keluar dan sering disangka air ketuban.

Bagaimana cara mengatasi air ketuban merembes atau pecah dan  membedakan cairan yang keluar adalah air ketuban dan bukan urin? Gunakanlah pembalut yang bersih untuk menampung cairan yang keluar dan amati warnanya. Air ketuban tidak berwarna dan tidak berbau. Bila Ibu ragu, apakah cairan yang keluar urin atau air ketuban, hendaknya Ibu segera ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dokter atau bidan akan melakukan tes keasaman pada cairan yang keluar atau disebut sebagai tes nitrazine atau dengan tes kertas lakmus. Bila cairan yang keluar adalah air ketuban, maka tes keasaman cairan bersifat basa dan kertas lakmus akan berubah menjadi warna biru. Urin tidak mengubah warna kertas lakmus dan kertas tetap berwarna merah karena bersifat asam. Pada kasus tertentu air, ketuban dapat berwarna kuning kecoklatan atau kehijauan, dan hal ini perlu penanganan dokter segera. Ceritakan pada dokter warna cairan ketuban yang keluar pertama kali agar dokter dapat mengidentifikasi dan mengambil tindakan yang diperlukan sebagai untuk mengatasi air ketuban pecah atau merembes.

Banyaknya volume air ketuban yang merembes akibat robekan selaput ketuban tergantung dari besarnya robekan. Makin besar robekannya, maka air ketuban makin deras merembes keluar alias pecah. Bila hal ini terjadi saat usia kehamilan Ibu telah cukup, keluarnya air ketuban merupakan salah satu tanda Ibu akan melahirkan. Namun bila kehamilan Ibu belum cukup bulan, merembes atau pecahnya air ketuban yang deras dapat menyebabkan kelahiran prematur. Umumnya dokter akan mengambil tindakan tertentu sebagai cara mengatasi air ketuban merembes untuk menghindari risiko infeksi pada si Kecil dan Ibu akibat robekan selaput ketuban ini. Bila selaput ketuban robek sangat kecil, sebagian besar dapat sembuh dengan sendirinya.

Namun bila kehamilan Ibu belum cukup bulan, merembes atau pecahnya air ketuban yang deras dapat menyebabkan kelahiran prematur. Umumnya dokter akan mengambil tindakan tertentu sebagai cara mengatasi air ketuban merembes untuk menghindari risiko infeksi pada si Kecil dan Ibu akibat robekan selaput ketuban ini. Bila selaput ketuban robek sangat kecil, sebagian besar dapat sembuh dengan sendirinya.

Artikel Sejenis

Indikasi Penyebab Air Ketuban Pecah

Melansir Buku Goresan Tangan Spesialis Kandungan (2014) oleh Dr HM Andalas, Sp.OG, peluang ketuban pecah dini dilaporkan sekitar 3 persen dari populasi wanita hamil. Penyebab ketuban pecah dini sesungguhnya belum diketahui secara pasti.

Namun, ada dugaan bahwa infeksi dan peradangan selaput korion menjadi salah satu penyebab kolagen yang menyusun dinding ketuban pecah. Akibatnya, berisiko meningkatkan kesakitan pada bayi dan sang ibu, seperti:

  • Gangguan sistem pernapasan
  • Infeksi serius, bisa berupa infeksi selaput ketuban
  • Prolaps tali pusar plasenta terlepas
  • Bahkan sampai pada kematian bayi

Selain itu, beberapa kondisi berikut juga berisiko mengakibatkan ketuban pecah dini: 

  • Infeksi pada rahim, mulut rahim, atau vagina ibu hamil
  • Kantung ketuban meregang berlebihan karena produksi air ketuban terlalu banyak (polihidramnion)
  • Pada kasus tertentu, ketuban pecah dini juga bisa terjadi pada ibu hamil yang mengalami kekurangan air ketuban (oligohidramnios)
  • Mengalami perdarahan melalui vagina Berat badan ibu hamil kurang atau mengalami kekurangan gizi
  • Risiko hamil anak kembar
  • Jarak antara kehamilan kurang dari enam bulan Ibu hamil merokok atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang
  • Pernah menjalani operasi atau biopsi pada mulut rahim
  • Punya riwayat melahirkan bayi prematur sebelumnya
  • Pernah mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnya.

Diagnosis Ketuban Pecah Dini

Dokter dapat mendiagnosis ketuban pecah dini dari keluhan yang dirasakan pasien dan melalui pemeriksaan fisik. Dalam pemeriksaan fisik, dokter terutama akan memeriksa bagian dalam mulut rahim untuk memastikan pecahnya ketuban. Bila diperlukan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan tambahan berupa:

  • Tes pH, untuk memeriksa tingkat keasaman cairan vagina. Apabila ketuban sudah pecah, maka tingkat keasaman cairan vagina akan lebih tinggi (harusnya kondisinya lebih basa).
  • USG, pencitraan dengan USG kehamilan dapat dilakukan untuk memeriksa kondisi janin dan rahim, serta melihat jumlah air ketuban yang masih tersisa.

Mencegah ketuban pecah dini

Mengingat ada begitu banyak risiko yang bisa muncul akibat ketuban pecah dini, setiap ibu hamil perlu mewaspadai kondisi tersebut. Beberapa kelompok ibu hamil bahkan sangat dianjurkan untuk dapat mewaspadai ketuban pecah dini, seperti:

  • Ibu hamil dengan gizi yang kurang baik
  • Ibu hamil perokok
  • Ibu dengan penyakit infeksi menular seksual
  • Mempunyai riwayat pecah ketuban pada kehamilan sebelumnya dan adanya pendarahan pada vagina selama kehamilan

Semoga artikel ini bermanfaat ya, Bu. Dapatkan juga berbagai keuntungan dengan melakukan registrasi member Ibu & Balita.