Share Like
Simpan

Air ketuban merupakan ‘media’ yang penting bagi kelangsungan hidup si Kecil di dalam rahim Ibu. Air ketuban diproduksi setelah terbentuk kantung kehamilan atau sekira 12 hari setelah terjadi pembuahan (konsepsi). Air ketuban didapat dari cairan yang berasal dari tubuh Ibu dan akan terus bertambah seiring dengan berjalannya usia kehamilan dan perkembangan si Kecil. Oleh karena itu, keseimbangan cairan dalam tubuh Ibu perlu dijaga karena berpengaruh pada jumlah volume air ketuban.

Pada usia kehamilan 10 minggu, cairan ketuban sekira 30 mL dan pada usia kehamilan 20 minggu, sumber utama air ketuban berasal dari urin si Kecil. Volume air ketuban mencapai jumlah tertinggi pada usia kehamilan 34-36 minggu dan akan berkurang pada saat mendekati kelahiran si Kecil atau pada usia kehamilan 40 minggu. Air ketuban berfungsi sebagai proteksi atau ‘bantalan’ terhadap benturan di perut Ibu. Selain itu, air ketuban membantu perkembangan otot, paru-paru serta alat cerna si Kecil selama dalam kandungan. Seiring dengan pertumbuhan si Kecil ia akan semakin aktif bergerak dan ‘berenang’ dalam rahim Ibu. Saat memasuki usia kehamilan trimester kedua, si Kecil mulai bernapas dan dapat menelan air ketuban.

Pada keadaan tertentu, kadang-kadang volume air ketuban terlalu sedikit atau dalam istilah medis disebut sebagai oligohidramnion. Keadaan ini dapat diketahui oleh dokter melalui pemeriksaan pencitraan atau USG, dan dengan menggunakan metode indeks cairan amnion (amniotic fluid index/AFI) atau dengan cara mengukur kedalaman kantung kehamilan (maximum vertical pocket/MPV). Tanda-tanda oligohidramnion yang biasanya terjadi pada 3 bulan terakhir kehamilan/trimester ketiga :
• Pada usia kehamilan 32-36 minggu, volume cairan ketuban kurang dari 500 mL.
• Tingkat indeks cairan amnion (AFI) kurang dari 5 cm.
• Maximum vertical pocket (MPV) kurang dari 2 cm.

Apa saja yang dapat menyebabkan oligohidramnion?

  • Adanya cacat lahir yang menyebabkan gangguan pada perkembangan ginjal atau saluran kencing si Kecil, sehingga produksi urin sedikit dan berpengaruh pada jumlah volume air ketuban.
  • Adanya masalah pada plasenta sehingga tidak cukup menyediakan suplai darah dan nutrisi untuk si Kecil. Akibatnya, sirkulasi air ketuban dalam tubuh si Kecil pun terganggu.
  • Adanya kebocoran atau robekan kantung ketuban, sehingga secara perlahan air ketuban merembes keluar dan mengurangi volume air ketuban.
  • Pada kehamilan lewat waktu atau lebih dari 42 minggu, biasanya air ketuban akan berkurang akibat fungsi plasenta turun.
  • Komplikasi atau adanya kelainan pada Ibu seperti dehidrasi, hipertensi, diabetes, preeklamsia atau kurangnya oksigen dalam darah (hipoksia) dapat berpengaruh pada volume air ketuban.

 

Oligohidramnion dapat mengakibatkan kelahiran prematur hingga keguguran, juga infeksi pada janin dan Ibu. Namun Ibu tidak perlu khawatir, karena dokter akan mengambil tindakan sesuai dengan usia kehamilan Ibu saat itu. Bila usia kehamilan telah cukup, maka dokter akan mengakhiri kehamilan dan melahirkan si Kecil. Bila usia kehamilan Ibu belum cukup, dokter akan melakukan pemantauan jumlah air ketuban, keadaan janin dan pertumbuhannya serta kondisi kesehatan Ibu hingga usia kehamilan cukup dan si Kecil siap dilahirkan.

Tindakan lain yang dilakukan dokter adalah menambah air ketuban selama proses persalinan melalui kateter, sehingga memberikan ‘bantalan’ pada tali pusat dan si Kecil terhindar dari risiko lilitan tali pusat dan dapat dilahirkan secara normal. Tambahan air ketuban ini juga dapat dilakukan dengan menyuntikkan cairan salin ke dalam kantung kehamilan atau dikenal sebagai tindakan amniosentesis. Hal ini dilakukan agar dokter dapat melihat anatomi bagian-bagian janin lebih jelas untuk membuat suatu diagnosis. Pemberian cairan pada Ibu atau rehidrasi juga bermanfaat dan membantu meningkatkan volume air ketuban.