Whatsapp Share Like Simpan

Kontraksi adalah hal yang umum terjadi pada Ibu hamil dan tidak hanya terjadi pada saat mendekati persalinan. Sebagian Ibu hamil sering mengalami kontraksi palsu (Braxton Hicks), yakni kondisi rahim mengencang lalu mengendur. Secara sederhana, rasanya seperti ketika Ibu mengalami kram perut karena menstruasi. Namun, apabila kontraksi terjadi menjelang persalinan, intensitasnya lebih kuat serta frekuensinya pun lebih sering dan lebih lama.

Apabila Ibu mengalami Braxton Hicks atau kontraksi palsu yang kadang terasa dan kadang hilang tak tentu waktu, ini bukan berarti tanda-tanda Ibu akan bersalin. Kontraksi palsu bisa terjadi karena Ibu kelelahan. Lantas, bagaimana membedakan kontraksi yang terjadi selama kehamilan? Untuk itu, sebaiknya Ibu mengetahui beberapa jenis kontraksi, dengan begitu saat terjadi kontraksi Ibu tidak menjadi panik dan khawatir yang berlebihan.

Kontraksi Dini

Kontraksi jenis ini biasanya terjadi saat awal kehamilan atau pada trimester pertama kehamilan. Kondisi dini terjadi saat tubuh masih sedang dalam proses penyesuaian dengan berbagai perubahan akibat adanya kehamilan. Kontraksi ini terjadi karena meregangnya jaringan ikat di sekitar rahim yang biasanya diikuti oleh perut kembung, sembelit, dan kekurangan cairan. Namun yang perlu diwaspadai saat kontraksi adalah ritmenya yang menetap dan disertai dengan adanya bercak padahal belum cukup bulan. Bila itu terjadi, maka segeralah Ibu ke dokter/bidan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kontraksi Palsu

Kontraksi palsu atau Braxton-Hicks biasanya sering terjadi pada saat kehamilan memasuki usia 32-34 minggu dan berlangsung selama 30 menit sekali dengan lama kontraksi sekitar 30 detik. Saat mengalami kontraksi, Ibu akan mengalami seperti nyeri kram saat menstruasi. Jika kontraksi ini tidak terjadi lama, kemudian intervalnya memendek dan tidak bertambah kuat, maka persalinan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Untuk mengatasi kontraksi palsu ini, Ibu bisa berendam di air hangat untuk meredakannya. Namun apabila kontraksi ini semakin kuat dan intervalnya semakin pendek, maka bisa jadi bahwa persalinan akan segera berlangsung.

Artikel Sejenis

Baca Juga: Waspadai Tempat Rekreasi Ini bila si Kecil Kurang Sehat

Kontraksi Ketika Berhubungan Intim

Salah satu hal yang dapat memicu munculnya kontraksi adalah berhubungan intim. Ibu tentu pernah mendengar bukan, bahwa Ibu hamil tidak boleh melakukan hubungan intim dengan pasangannya? Anjuran ini biasanya untuk Ibu yang sedang hamil muda, yakni di bawah 3 bulan atau pada saat hamil tua di atas 8 bulan. Alasannya, karena untuk menghindari keguguran atau bayi lahir prematur.

Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Yang pasti, sperma mengandung hormon prostaglandin. Hormon ini sering menyebabkan kontraksi pada rahim, sehingga dikhawatirkan mencetuskan kejadian abortus (keguguran) atau persalinan prematur.

Lantas bagaimana menyiasatinya? Apakah benar harus “berpuasa”? Tidak juga, hal ini bisa disiasati dengan senggama terputus (coitus interuptus) atau memakai kondom. Sebelum melakukannya, Ibu terlebih dulu bisa mengonsultasikan hal ini dengan dokter/bidan tentang keadaan kehamilan. Apakah Ibu berisiko atau tidak bila melakukan hubungan intim, termasuk untuk mengetahui adanya riwayat keguguran, riwayat persalinan prematur, riwayat perdarahan vagina yang tidak diketahui penyebabnya, mulut rahim yang lemah, dan sebagainya.


Baca juga: Waspadai Air Ketuban Terlalu Sedikit

Kontraksi Inersia

Merupakan kontraksi dalam proses persalinan yang lemah, pendek, atau tidak sesuai fase. Kontraksi inersia umumnya disebabkan karena kelainan fisik Ibu, seperti kurangnya nutrisi dan gizi saat hamil, anemia, hepatitis atau TBC, dan miom. Ada dua macam kontraksi inersia, yaitu primer dan sekunder.

Disebut primer apabila sama sekali tidak terjadi kontraksi sejak awal persalinan. Sedangkan sekunder adalah kontraksi yang awalnya bagus, kuat dan teratur tetapi setelah itu menghilang. Kontraksi ini dapat dilihat melalui evaluasi pembukaan mulut rahim dan ketuban.

Kontraksi Persalinan Prematur

Beberapa faktor bisa menyebabkan munculnya kontraksi persalinan prematur pada usia kehamilan memasuki minggu ke-37 atau sebelumnya. Kontraksi ini terjadi secara konsisten setiap 10-12 menit selama lebih dari 1 jam. Saat mengalami kontraksi persalinan prematur, Ibu akan merasakan beberapa gejala seperti perut terasa sakit saat disentuh, rahim semakin kencang, kram perut, punggung nyeri, terasa ada tekanan di pinggul, dan tekanan di perut.

Apabila Ibu mengalami gejala tersebut, apalagi disertai dengan munculnya diare, perdarahan dari vagina, atau semburan cairan yang kemungkinan sebagai air ketuban yang pecah. Berbagai faktor yang dapat menyebabkan kontraksi ini antara lain:

  • Memiliki riwayat persalinan prematur sebelumnya.
  • Mengalami stres berat.
  • Kehamilan kembar.
  • Berat badan kurang atau berlebih sebelum kehamilan.
  • Kondisi rahim tidak normal, plasenta, atau serviks.
  • Kurang mendapatkan perawatan tepat selama kehamilan.
  • Pengguna narkoba atau pecandu rokok.

Kontraksi Sesungguhnya

Kontraksi sebenarnya terjadi menjelang persalinan, yakni saat Ibu memasuki kehamilan 36 minggu atau saat bayi mulai turun ke tulang panggul lebih dalam. Akibatnya, timbul desakan di kandung kemih, panggul dan vagina. Saat inilah muncul kontraksi sungguhan, di mana Ibu sudah waktunya untuk melahirkan.

Kontraksi ini biasanya berlangsung 3 kali dalam 10 menit dengan durasi 20 sampai 40 detik. Frekuensinya pun meningkat hingga lebih dari 5 kali dalam 10 menit. Hal ini disertai pula dengan keluarnya lendir bercampur darah, pecahnya ketuban, serta dorongan ingin mengejan. Jika kurang yakin ini kontraksi sungguhan, berendamlah di air hangat. Kontraksi sungguhan akan menguat di air hangat. Atau Ibu bisa segera melakukan pemeriksaan ke bidan atau dokter untuk memastikan lengkap tidaknya pembukaan dan kapan dimulainya proses persalinan.

Kini Ibu bisa membedakan kontraksi persalinan selama kehamilan. Hal yang perlu Ibu ingat bila merasakan kontraksi adalah jangan lupa untuk mencatat kapan kontraksi itu mulai dan berakhir, seberapa kuat. dan di bagian tubuh mana Ibu merasakan tekanan atau ketidaknyamanan. Hal ini sangat penting untuk menilai kemajuan persalinan. Namun bila Ibu masih merasa ragu, Ibu bisa segera menghubungi dokter atau bidan. Semoga artikel ini bermanfaat ya, Bu.

Untuk Ibu yang ingin berkonsultasi seputar kehamilan, bisa berkunjung ke laman Tanya Pakar, ya. Pertanyaan Ibu akan dijawab langsung oleh ahlinya. Untuk bisa mengakses laman tersebut, jangan lupa untuk registrasi terlebih dulu.

 

Sumber:

Smarthealth