Whatsapp Share Like
Simpan

Sejak bayi lahir, berat badan bayi merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian utama, karena terkait kesehatan dan tumbuh kembangnya. Kenaikan berat badan bayi menurut KMS (Kartu Menuju Sehat) dapat dijadikan acuan Ibu untuk memantau apakah kenaikan BB bayi sudah ideal. Nah, apa saja yang perlu Ibu ketahui seputar berat badan bayi dan pertumbuhannya?

Pentingnya Memantau Pertumbuhan Bayi Melalui KMS

KMS yang Ibu peroleh dari dokter atau bidan harus selalu dibawa saat pemeriksaan bayi karena akan bermanfaat sebagai berikut:

  1. Mengetahui pertumbuhan fisik bayi. Secara umum, pertumbuhan fisik bayi dapat diamati dari perubahan berat badan bayi. Petugas medis akan menimbang bayi dan mencatatnya pada KMS secara teratur sesuai dengan jadwal pemeriksaan. Dari data tersebut, terdapat catatan grafik pertumbuhan sesuai umur, jenis kelamin, dan berat badan untuk mendapatkan gambaran pertumbuhan bayi dari bulan ke bulan serta status gizinya.
  2. Memantau kesehatan bayi. Setelah lahir, bayi akan mengalami penurunan berat badan dengan kisaran normal 5-10% dari beratnya saat lahir. Kemudian setelah dua minggu beratnya akan kembali seperti saat ia lahir atau lebih dari itu. Dokter atau bidan pun akan meminta Ibu melakukan kontrol bayi seminggu setelahnya.
    Pada KMS akan tertulis kenaikan berat minimum bayi setiap bulannya. Ketika bayi mencapai berat minimumnya, artinya bayi Ibu sehat dan sudah mendapatkan cukup asupan nutrisi dari ASI Ibu. Namun jika kurang, maka petugas media akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.
  3. Mengetahui kecukupan ASI dari Ibu. Hingga usia 6 bulan, bayi hanya memerlukan ASI sebagai sumber nutrisinya. Sayangnya produksi ASI setiap Ibu tidaklah sama. Memantau berat badan bayi melalui KMS dapat menjadi tolak ukur apakah ia cukup mendapatkan ASI serta menyusu dengan baik atau tidak. Jika kenaikan berat badannya agak lambat, bisa jadi sebuah tanda kalau asupan ASI nya kurang mencukupi.

    Dari sini, petugas medis akan menanyakan proses menyusui Ibu untuk bayi. Berikut beberapa bahan evaluasi seputar menyusui yang perlu Ibu ketahui:

    • Bayi mungkin mengalami tongue-tie, yaitu cacat lahir pada lidah karena frenulum (jaringan penghubung lidah dan dasar mulut) terlalu pendek.
    • Frekuensi dan proses pemberian ASI, apakah secara langsung dari payudara atau melalui media lain, seperti cup feeder, pipet, atau sendok.
    • Bayi mengalami bingung puting, terlebih jika memberikan ASI melalui dot.
    • Posisi pelekatan saat menyusui.
  4. Untuk mendapatkan penanganan secepatnya. Kondisi kesehatan bayi dapat terpantau dengan baik dengan penimbangan bayi secara rutin setiap bulannya. Jika terdapat hal yang tidak sesuai, meski kecil, tetap bisa menjadi tolak ukur bagi petugas medis dalam menilai status kesehatannya.

    Contohnya saja saat kenaikan berat badannya hanya sedikit dalam dua bulan terakhir. Ibu pun akan mendapatkan beberapa pertanyaan, seperti pemberian ASI, komposisi ASI jika bayi sudah berusia 6 bulan, serta hal lainnya seputar pemenuhan gizi bayi. Jika terdapat hal yang tidak normal, maka petugas medis bisa melakukan penanganan secepatnya.

Berat Badan Bayi saat Lahir

Beberapa hari setelah lahir, berat badan bayi akan turun lima hingga sepuluh persen dari berat badan bayi saat lahir. Hal ini normal terjadi karena bayi kehilangan cairan saat dilahirkan dan asupan ASI pada hari-hari pertama belum maksimal. Karena itulah, berat badan ideal bayi tidak dapat segera kembali seperti saat dilahirkan, atau naik dengan cepat. Namun, Ibu tidak perlu khawatir, karena biasanya dalam 14 hari, berat badan bayi akan meningkat seiring dengan kemahirannya menyusu dan mendapatkan ASI.

Artikel Sejenis

Baca juga: Asupan Bergizi untuk Tambah Berat Badan si Kecil

Pertumbuhan Berat Badan Ideal Bayi yang Normal

Saat Ibu membawa bayi untuk kontrol atau imunisasi, dokter atau bidan biasanya akan menimbang berat badan bayi dan mencatatnya di buku kesehatan untuk memantau pertumbuhannya. Berat badan bayi umumnya naik 170-220 gram per minggu atau 450-900 gram per bulan selama beberapa bulan pertama. Perkiraan perubahan berat badan ideal bayi yang normal terjadi setelah kelahirannya, yakni:

  • Pada usia beberapa hari, berat badan bayi umumnya turun 5-10 persen dan akan naik kembali dalam 2-3 minggu kemudian.
  • Pada usia 4-6 bulan, berat badan bayi meningkat dua kali lipat dari berat badan saat lahir dan menjadi tiga kali lipat ketika usianya mencapai 12 bulan.
  • Seiring dengan peningkatan berat badan bayi, panjang badan bayi juga bertambah 1,5 kali panjang saat lahir dan lingkar kepalanya bertambah 7,6 cm saat ia mencapai usia 12 bulan.

Tips Menimbang Berat Badan Bayi

Kenaikan berat badan bayi dari minggu ke minggu umumnya bervariasi. Bila minggu ini kenaikan berat badan bayinya tidak terlalu banyak, mungkin minggu depannya berat badannya dapat naik lebih berat dari minggu lalu. Pemantauan berat badan ideal bayi umumnya dilakukan setiap 3-4 minggu sekali. Untuk mendapatkan hasil berat badan yang tepat, hendaknya saat menimbang bayi lakukanlah beberapa tips di bawah ini:

  • Gunakanlah alat timbangan yang sama setiap kali menimbang berat badan bayi. Alat timbang yang berbeda dapat membuat hasil berat badan bayi berbeda.
  • Saat menimbang, usahakan bayi mengenakan pakaian yang tipis atau tanggalkan pakaiannya sebelum ditimbang.
  • Jika bayi ditimbang setelah menyusu atau diberi makan, maka hasil berat badan bayi dapat berbeda sekitar 100-200 gram.

Grafik Pertumbuhan sebagai Panduan Berat Badan Bayi

Grafik pertumbuhan standar yang digunakan untuk menilai pertambahan berat badan ideal bayi disusun oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) berdasarkan data sejumlah anak-anak yang mendapat ASI di beberapa negara dan dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, usia, dan panjang badan. Hasil pengukuran berat badan bayi akan dicantumkan atau diplot pada grafik tersebut untuk menilai apakah berat badannya sesuai dengan berat badan bayi rata-rata. Di Indonesia, grafik ini dituangkan ke dalam bentuk Kartu Menuju Sehat (KMS) yang dapat Ibu peroleh dari posyandu, puskesmas, bidan, atau dokter.

Waspadai bila hasil pengukuran berat badan bayi ada di atas atau di bawah grafik pertumbuhan, dan konsultasikan lebih lanjut pada dokter untuk memastikan kesehatan bayi tidak terganggu. Bagaimana kenaikan berat badan bayi menurut KMS termasuk lambat dan menjadi masalah? Waspadai hal-hal berikut :

  • Pada usia 10 hari, berat badan bayi terus turun dan tidak naik hingga usia 3 tiga minggu.
  • Rata-rata kenaikan berat badan bayi kurang dari 100 gram per minggu selama 3 tiga bulan pertama.
  • Berat badan bayi di bawah garis terendah pada grafik pertumbuhan standar WHO.
  • Bila sebelum usia 5 bulan, berat badan bayi turun dalam waktu 2-3 bulan, atau saat Ibu memakaikan pakaian pada bayi, terlihat makin longgar, terutama pada bagian bawah perut, panggul, dan pahanya.

Penyebab Berat Badan Bayi Rendah

Beberapa faktor yang menyebabkan berat badan bayi tetap rendah walau telah diberikan cukup ASI yaitu mungkin karena :

  • Bayi menderita penyakit atau infeksi, seperti mual, muntah, diare, refluks asam lambung, atau infeksi di mulut dan tenggorokan.
  • adanya kelainan bawaan pada kerongkongan atau lambung bayi yang menyebabkan bayi sering muntah sehingga tidak mendapat ASI yang mencukupi untuk pertumbuhannya.
  • bayi sensitif terhadap makanan yang dimakan ibu yang dihantarkan melalui ASI.

Bila Ibu menemukan kenaikan berat badan bayi menurut KMS tidak naik atau malah turun, termasuk karena hal-hal di atas, bawalah segera ke dokter untuk ditangani lebih lanjut. Ingat, Bu, selalu pantau kenaikan berat badan bayi menurut KMS untuk mengawasi tumbuh kembangnya. Ibu juga perlu waspada saat menemui hal yang janggal pada bayi dan berkonsultasi pada ahlinya.

Jika Ibu masih punya pertanyaan seputar tumbuh kembang bayi, jangan ragu untuk melakukan konsultasi anak pada laman Tanya Pakar. Namun pastikan Ibu sudah melakukan registrasi sebelumnya ya, Bu!

Sumber:

Popmama