Share Like
Simpan

Imunisasi merupakan salah satu investasi kesehatan sejak dini. Dengan pemberian imunisasi pada si Kecil, Ibu telah memberikan perlindungan padanya dan mencegah terjadinya penyakit infeksi yang berbahaya bagi kesehatan si Kecil. Mengapa si Kecil perlu perlindungan terhadap beberapa jenis penyakit yang umumnya menyerang dalam usia 1 tahun pertama? Sejak lahir hingga usia satu tahun pertama, daya tahan tubuh si Kecil belum sempurna dan rentan terhadap penyakit. Oleh sebab itu, perlu mendapat perlindungan dari imunisasi. Pemberian imunisasi juga dapat mencegah si Kecil terjangkit penyakit yang menyebabkan kematian dan kecacatan, karena sekira 5 % kematian anak dapat dicegah dengan imunisasi.

Beberapa imunisasi untuk si Kecil diberikan beberapa kali dalam jadwal imunisasi. Misalnya imunisasi hepatitis B yang diberikan 12 jam setelah lahir, harus diberikan kembali saat si Kecil berusia 1 bulan dan 6 bulan. Imunisasi lainnya, BCG diberikan untuk mencegah si Kecil tertular tuberkulosa atau TBC. Imunisasi ini diberikan saat si Kecil berusia 2 sampai 3 bulan melalui suntikan. Untuk mencegah penyakit difteria, tetanus dan batuk rejan (pertusis), dokter akan memberikan vaksin DTP sejak si Kecil berumur 3-6 minggu. Imunisasi ini ada dua jenis, yaitu vaksin DTwP atau DTaP. Apa perbedaannya? Kedua vaksin tersebut berbeda pada jenis vaksin pertusis. DTaP mengandung vaksin pertusis yang lebih baru dibandingkan DTwP, dimana efek samping seperti panas tinggi dan kejang lebih rendah. Selain itu DTwP tidak dianjurkan diberikan pada anak usia di atas 7 tahun, karena beresiko memberikan efek samping. Vaksin DTP ( baik DTwP maupun DTaP umumnya diberikan saat si Kecil berusia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan, serta imunisasi ulangan atau booster saat ia 18 bulan dan 5 tahun. Pemberian 3 kali imunisasi DTP sangat diperlukan, karena si Kecil tidak mendapatkan daya tahan alami saat ia masih dalam kandungan terhadap penyakit pertusis. Imunisasi DTP dapat diberikan bersama dengan imunisasi Hepatitis B atau Hib (untuk mencegah infeksi bakteri Haemophilus influensa tipe b yang dapat berakibat fatal, salah satunya adalah radang selaput otak) dan polio.

Imunisasi Pneumokokus yang memberikan perlindungan terhadap infeksi pneumonia atau radang paru yang lebih lanjut dapat menyerang selaput otak ( radang selaput otak), dapat diberikan pada umur 2, 4, 6, 12-15 bulan. Pada umur 5-12 tahun, diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; pada umur > 1 tahun diberikan 1 kali, namun keduanya perlu dosis ulangan 1 kali pada umur 15 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.

Imunisasi lainnya, rotavirus monovalen memberikan perlindungan si Kecil terhadap diare yang disebabkan oleh rotavirus. Sedangkan imunisasi varisela yang dapat diberikan setelah umur 12 bulan, atau sebelum si Kecil masuk sekolah dasar, memberikan perlindungan terhadap infeksi cacar air. Apabila belum mendapat vaksin campak umur 9 bulan, vaksin MMR yang mencegah penyakit campak (Measles), gondongan (Mumps) dan campak jerman (Rubella) dapat diberikan pada umur 12 bulan. Imunisasi lainnya adalah vaksin influenza yang umumnya dapat diberikan pada umur ≥ 6 bulan, setiap tahun, dan pada anak usia 6 bulan - < 9 tahun diberikan 2 kali dengan jarak waktu minimal 4 minggu.


Vaksin yang memberikan perlindungan terhadap kanker serviks ( HPV) dapat diberikan mulai umur 10 tahun dan diberikan dalam kisaran waktu 0, 1, 6 bulan atau jenis lainnya untuk vaksin HPV tetravalen diberikan dalam rentang waktu 0, 2, 6 bulan.


 

Beberapa Pertanyaan Seputar Imunisasi

T : Biasanya anak demam setelah imunisasi, apakah perlu setiap imunisasi, anak diberikan obat penurun demam?
J : Tidak perlu, karena tidak semua imunisasi menyebabkan demam dan reaksi tubuh masing–masing anak tidak selalu sama. Terkadang ada anak yang demam tinggi, ada pula yang hanya terasa hangat. Ibu perlu mempersiapkan termometer di rumah untuk mengukur suhu tubuh si Kecil. Bila suhu tubuhnya ≥ 37.5 derajat C, Ibu dapat memberikan obat penurun demam sesuai dengan aturan pakai. Sebelum imunisasi, konsultasikan dengan dokter mengenai penanganan demam dan kemungkinan gejala lainnya pada anak setelah imunisasi.

T : Anak saya baru sembuh, jadwal imunisasinya terlambat, apa yang harus saya lakukan?
J : Berikan imunisasi sesuai jadwal termasuk yang terlambat, Ibu tidak perlu mengulang dari awal

T : Bekas suntikan anak saya bengkak, apa yang harus saya lakukan?
J : Ibu dapat memberikan kompres air biasa dengan kasa pada daerah bekas suntikan yang kemerahan dan bengkak

Semoga dengan imunisasi, si Kecil tetap sehat, sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Ibu dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter seputar imunisasi untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.