Whatsapp Share Like
Simpan

ASI atau Air Susu Ibu adalah sumber nutrisi yang terbaik bagi bayi karena mengandung semua zat penting yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Di antara kandungan ASI tersebut yaitu kolostrum, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, air, karnitin, serta mineral. Organisasi kesehatan besar dunia seperti WHO dan AAP (American Academy of Pediatrics) bahkan merekomendasikan pemberian ASI secara eksklusif kepada bayi berusia 0 hingga 6 bulan.

Namun beberapa ibu memiliki pertanyaan, bolehkah memberikan susu formula kepada bayi usia 0 hingga 6 bulan? Boleh saja, tapi dalam kondisi tertentu.

Boleh Memberi Susu Formula Jika ….

  1. Produksi ASI Hanya Sedikit

    Tidak semua ibu dikaruniai dengan ASI yang melimpah. Beberapa ibu bahkan hanya bisa menghasilkan ASI yang sedikit sehingga kurang mencukupi kebutuhan bayinya. Segala macam upaya sudah dilakukan sang ibu untuk bisa memproduksi banyak ASI tapi tetap kurang mencukupi. Dalam kondisi ini, maka Ibu boleh saja memberikan susu tambahan kepada buah hatinya agar kebutuhan nutrisi si Kecil tetap tercukupi.

  2. Ibu Bekerja

    Ibu yang bekerja secara otomatis akan jarang menyusui anaknya secara langsung. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab menurunnya produksi ASI. Meski ada juga ibu pekerja yang tetap bisa menghasilkan ASI yang melimpah, sehingga bisa menyediakan stok ASIP (ASI Perah) bagi anaknya. Namun jika Ibu tetap tidak bisa memproduksi cukup ASI saat ditinggal bekerja, maka tak masalah untuk memberikan susu formula kepada si Kecil.

  3. Ibu Terkena Penyakit Tertentu

    Semua ibu tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, salah satunya dengan menyusui. Namun dalam dalam kondisi tertentu, ibu tidak diperbolehkan untuk menyusui. Di antara beberapa kondisi tersebut adalah:

    • Ibu Mengidap HIV

      Ibu yang mengidap HIV tentunya tidak diperbolehkan untuk menyusui karena dapat menularkan virus HIV pada bayinya. Namun khusus di negara berkembang yang miskin di mana tidak tersedia susu formula, menyusui pun diperbolehkan. Syaratnya, ibu harus mengonsumsi obat anti-retro virus (ARV) secara rutin. Di samping pengobatan yang ketat, ASI juga tidak boleh diberikan secara langsung tapi dipanaskan lebih dulu untuk membunuh virus HIV di dalamnya.

      Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang menerima ASI eksklusif selama tiga bulan memiliki resiko terinfeksi HIV lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang menerima campuran ASI dan susu tambahan. Kemudian jika bayi menerima ASI eksklusif selama enam bulan yang dikombinasikan dengan obat ARV selama enam bulan, maka semakin menurunkan resiko terinfeksi HIV.

    • Ibu Menderita Tuberkolosis dan Herpes

      Penyakit tuberkolosis (TBC) dan herpes simplex pada payudara sangat menular. Untuk itu ibu yang menderita kedua penyakit tersebut dilarang untuk menyusui bayinya secara langsung. ASI baru boleh diberikan melalui botol susu.

      Bagi ibu penderita TBC harus menjalani terapi TB selama setidaknya dua minggu hingga terbukti sudah bebas dari bakteri TBC baru diperbolehkan untuk menyusui. Sementara penyakit herpes simplex sangatlah berbahaya hingga bisa menyebabkan kematian bagi bayi yang terinfeksi.

    • Ibu Sedang Kemoterapi

      Ibu yang sedang menjalani kemoterapi karena penyakit kanker yang dideritanya tidak hanya dilarang untuk menyusui, tapi juga sebaiknya tidak memberikan ASI kepada bayinya. Ini dikarenakan ASI ibu dapat tercemar oleh obat yang ada di dalam darah, sehingga dapat berdampak buruk terhadap bayi. ASI sebaiknya dipompa dan dibuang untuk menjaga produksi ASI. Setelah proses kemoterapi selesai dan telah diizinkan oleh dokter spesialis onkologi, maka Ibu sudah bisa memberikan ASI-nya lagi.

  4. Berat Badan Bayi Kurang

    Setiap bulan bayi harus mengalami kenaikan berat badan yang menunjukkan bahwa ia memiliki fase tumbuh yang baik. Namun jika berat badannya di bawah batas normal untuk usianya sedangkan ibu telah memberikan ASI, maka disarankan untuk memberikan susu formula untuk menambah berat badannya. Dalam susu tambahan bayi mengandung beberapa zat yang efektif untuk menaikkan berat badan, seperti karbohidrat, protein, dan lemak.

  5. Bayi Pengidap Galaktosemia

    Galaktosemia adalah sebuah penyakit genetik di mana bayi tidak dapat memproses galaktosa menjadi glukosa yang disebabkan oleh defisiensi enzim GALT. Merupakan penyakit yang sangat langka, bayi yang menderita galaktosemia terlahir normal seperti bayi biasa. Gejalanya baru terlihat saat konsumsi ASI-nya meningkat.

    Karbohidrat yang ada pada ASI mengandung banyak laktosa yang akan dipecah di saluran pencernaan menjadi galaktosa dan diserap ke dalam darah. Bayi yang menderita galaktosemia tidak dapat mengubah glukosa di dalam darah sehingga akan terjadi penumpukan. Tidak hanya tidak boleh mengonsumsi ASI, bahkan bayi penderita kelainan ini harus mengonsumsi makanan khusus yang tidak mengandung glukosa.

Itu dia, Bu, informasi yang penting untuk Ibu ketahui. Begitu pentingnya ASI untuk tumbuh kembang bayi sehingga Ibu harus mengusahakan segala cara untuk memenuhinya bagi si Kecil. Jika memang tidak ada jalan lain dan sangat diperlukan untuk memberikan susu formula, maka Ibu boleh memberikannya. Berkonsultasilah dengan tenaga medis bila ibu memutuskan untuk menggunakan susu formula.

Sumber: https://hellosehat.com, https://lifestyle.kompas.com