Whatsapp Share Like
Simpan

Kehadiran bayi sungguh memberikan kebahagiaan bagi setiap orang tua. Apapun akan dilakukan untuk menjaga bayi selalu dalam keadaan sehat. Salah satu ciri bayi yang sehat adalah sistem pencernaannya lancar yang ditandai dengan buang air besar (BAB) secara lancar. Namun jika bayi mengalami susah BAB atau biasa disebut konstipasi, maka orang tuanya pun pasti akan sangat khawatir. Seperti apakah tanda-tandanya? Apa pula penyebab dan bagaimana cara mengatasi bayi susah BAB? Berikut informasi selengkapnya untuk Ibu:

Frekuensi Rata-rata BAB Bayi

Bayi memiliki frekuensi BAB yang berbeda-beda, tergantung pada asupan makanan dan usianya. Sebenarnya tidak ada patokan pasti seberapa sering BAB yang normal pada bayi. Namun rata-rata bayi memiliki frekuensi BAB sebagai berikut:

  • Bayi usia 5-6 hari: setiap kali setelah menyusu.
  • Bayi usia 1 bulan: 4 kali sehari.
  • Bayi usia 2 bulan: 1 kali sehari.
  • Bayi usia 3 bulan dengan ASI eksklusif: bisa tidak BAB selama 10-14 hari. Di usia ini ia sedang mengalami pertumbuhan pesat, sehingga berusaha mencerna seluruh asupan yang masuk. Kondisi tersebut berlangsung hingga bayi memasuki masa MPASI.

Hal yang perlu Ibu khawatirkan adalah saat si Kecil mengalami perubahan frekuensi BAB. Misalnya saja bila ia setiap hari BAB, tapi sudah lebih dari 2 hari tidak BAB dan tinjanya menjadi lebih padat. Namun jika ia biasanya memang hanya memiliki frekuensi BAB seminggu sekali dan tidak ada tanda-tanda konstipasi, maka hal tersebut masih normal.

Tanda-tanda Bayi Susah BAB

Bayi yang mengalami susah BAB memiliki tanda-tanda sebagai berikut:

  1. Frekuensi BAB kurang dari 2 kali dalam seminggu.
  2. Bentuk kotoran yang lebih keras dari biasanya.
  3. Bayi terlihat kesakitan saat BAB.
  4. Bayi lebih rewel dan menangis sambil mengangkat kakinya.
  5. Pada kasus yang parah terdapat bercak darah pada popoknya yang disebabkan oleh dinding rektum robek terkena kotoran yang keras.

Apa Penyebabnya?

Bayi susah BAB bisa disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Artikel Sejenis

  • Dehidrasi

    Kondisi kekurangan cairan atau dehidrasi juga bisa menjadi penyebab bayi susah BAB. Dehidrasi dapat menyebabkan tinja menjadi keras sehingga sulit untuk dikeluarkan. Bayi bisa mengalami dehidrasi pada kondisi tertentu, seperti saat sakit atau tumbuh gigi yang membuatnya malas untuk minum

  • Makanan Padat

    Memasuki masa MPASI, tak jarang bayi mengalami konstipasi. Peralihan dari cairan susu ke makanan padat membuat pencernaannya belum terbiasa sehingga menyebabkan konstipasi. Terlebih saat ia langsung diberi makanan yang rendah serat seperti nasi dan roti.

  • Kondisi Medis Tertentu

    Beberapa penyakit juga bisa menyebabkan konstipasi pada bayi. Diantaranya adalah alergi makanan, gangguan sistem pencernaan sejak lahir, dan hipotiroid (gangguan fungsi kelenjar tiroid yang mempengaruhi bayi sejak lahir).

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Tak perlu panik dulu, Bu! Di bawah ini ada beberapa cara untuk mengatasi bayi susah BAB yang bisa Ibu coba lakukan:

  1. Buat Anak Aktif

    Aktif bergerak akan membuat tinja terdorong oleh usus sehingga mempermudah proses BAB. Untuk itu Ibu harus mengajak anak untuk lebih aktif bergerak. Pada bayi yang sudah bisa merangkak, maka ajak ia untuk sering merangkak. Namun jika masih belum bisa merangkak, Ibu bisa menggerakkan kakinya seperti gerakan saat mengayuh sepeda.

  2. Kombinasikan Makanannya

    Ibu sebaiknya tidak langsung memberi si Kecil bahan makanan yang berat sebagai awal MPASI-nya. Berikan makanan yang mengandung banyak serat dan dengan porsi yang sedikit lebih dulu. Agar hasilnya lebih maksimal, ada baiknya untuk memijat perut si Kecil lebih dulu sebelum jam makannya tiba.

  3. Pijatan Perut

    Pijatan ternyata juga bisa membantu permasalahan konstipasi yang dialami bayi. Pijatan berpusat pada bagian bawah pusar bayi atau sekitar tiga jari pusar. Lakukan pijatan secara lembut dengan arah pijatan melingkar dari tengah ke luar. Perhatikan reaksi si Kecil. Jangan sampai ia merasa kesakitan saat Ibu memijatnya dan pastikan ia dalam kondisi rileks.

  4. Cukupi Kebutuhan Cairannya

    Bayi membutuhkan cukup cairan untuk memperlancar proses pencernaannya. Berikan lebih banyak ASI jika si Kecil masih berusia di bawah 6 bulan. Namun jika sudah berusia di atas 6 bulan, Ibu bisa memberikan tambahan cairan berupa air putih atau jus buah selain dari ASI.

  5. Mandikan dengan Air Hangat

    Mandi air hangat dapat membuat bayi merasa lebih rileks sehingga membuat saluran pencernaannya lebih mudah mengeluarkan tinja. Saat memandikan, lakukan pijatan pada perutnya untuk semakin mempermudah keluarnya kotoran.

Jika Ibu merasa khawatir, apalagi bila bayi susah BAB sudah berlangsung lebih dari 2 minggu, langsung periksakan bayi Ibu ke dokter. Ibu juga harus segera membawa si Kecil ke dokter jika ia mengalami beberapa gejala muntah, demam, berat badan turun, darah pada tinja, benjolan di anus, dan fisura ani (kondisi luka terbuka pada jaringan kulit dan mukosa yang melapisi saluran anus dan lubang anus). Diperlukan diagnosa yang tepat untuk mencari tahu penyebab konstipasi yang dialami bayi, sehingga dapat langsung ditangani. Jangan tunda lagi, Bu, karena pada beberapa kasus konstipasi kronis dan berulang dapat menyebabkan masalah saluran pencernaan yang lebih serius.

Sumber: https://www.alodokter.com, https://id.theasianparent.com