Whatsapp Share Like Simpan

Warna BAB bayi yang hitam

Warna BAB bayi yang hitam menunjukkan kondisi yang normal saat bayi baru lahir. Namun, warna ini dikatakan tidak normal jika dialami oleh bayi yang sudah berusia balita. BAB bayi baru lahir yang berwarna hitam dengan konsistensi kental dinamakan mekonium. Isinya terdiri dari lendir, jaringan kulit, dan cairan amniotik. Warna BAB ini tidak boleh berlangsung lebih dari beberapa hari setelah si Kecil lahir.

Warna BAB bayi yang oranye dan kuning kecokelatan

Warna BAB bayi yang oranye dan kuning kecokelatan termasuk kondisi normal dan biasanya muncul setelah mekonium selesai dikeluarkan. Warna ini pun sebagai tanda si Kecil mengonsumsi ASI. Teksturnya sering kali cair atau terkadang padat. 

Warna BAB bayi yang hijau

Di usia beberapa hari setelah lahir, tinja bayi biasanya mengalami perubahan warna, yang mulanya warna hitam, berubah menjadi kuning seperti mustard. Namun, selama masa transisi dari warna hitam ke kuning, Ibu mungkin saja akan melihat tinja si Kecil berwarna hijau. Warna hijau pada tinja si Kecil sebenarnya termasuk kondisi yang normal, jika tidak disertai gejala gangguan kesehatan lainnya. Warna hijau ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari makanan yang dikonsumsi Ibu menyusui, tumbuh gigi, keseimbangan antara foremilk dan hindmilk, alergi, hingga si Kecil sedang sakit. 

Warna BAB bayi yang kuning terang

Warna BAB bayi yang kuning terang termasuk kondisi yang normal pada bayi yang diberi ASI. Namun, jika warna tinja si Kecil kuning terang disertai frekuensi buang air besar dan kecil lebih sering dari biasanya, maka kemungkinan si Kecil mengalami diare. Selain itu, jika warna BAB bayi kuning dengan tekstur berminyak dan berbau busuk, bisa menjadi tanda adanya kelebihan lemak di dalam tinja dan terdapat gangguan malabsorbsi makanan bagi bayi yang sudah mengonsumsi MPASI. 

Warna BAB bayi yang merah

Warna BAB bayi yang merah bisa dianggap normal jika Ibu atau si Kecil telah mengonsumsi makanan atau minuman yang berwarna merah. Akan tetapi, pada beberapa kondisi, warna BAB merah bisa disebabkan karena adanya perdarahan akibat infeksi pencernaan. Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, sebaiknya Ibu konsultasi dengan dokter agar si Kecil mendapat penanganan yang tepat.

Artikel Sejenis

Warna BAB bayi yang cokelat kehijauan

Warna BAB bayi dengan perpaduan cokelat dan hijau termasuk kondisi yang normal dan biasanya dialami oleh bayi yang telah diberikan susu formula. Tekstur tinja bayi yang minum susu formula juga akan lebih padat daripada bayi yang mengonsumsi ASI eksklusif. 

Warna BAB bayi yang hijau tua

Warna BAB bayi berwarna hijau tua juga termasuk kondisi yang normal, terutama pada bayi yang baru menjalani masa pengenalan makanan pendamping ASI (MPASI) dan makanan yang mengandung warna dasar hijau, seperti bayam atau kacang polong. Selain itu, suplemen zat besi juga bisa menyebabkan tinja si Kecil berwarna hijau. 

Warna BAB bayi yang putih dan abu-abu

Perubahan warna BAB bayi menjadi putih mengindikasikan kurangnya produksi empedu di hati. Akibatnya, makanan tidak dapat dicerna dengan baik. Ini adalah kondisi BAB bayi yang serius dan harus segera dikonsultasikan dengan dokter. Sementara, warna BAB bayi yang abu-abu pun perlu ditangani oleh dokter karena gejala tersebut mengindikasikan adanya gangguan saluran pencernaan si Kecil. 

Baca juga: 4 Fungsi Protein Untuk Bayi Bagi Tumbuh Kembangnya 

Mengenal dan Memahami Tekstur Tinja Bayi 

Selain memahami warna BAB bayi, penting bagi Ibu untuk mengetahui tekstur atau konsisten tinja bayi yang bisa menentukan kondisi kesehatannya, antara lain: 

  1. Tekstur tinja bayi baru lahir

    Tinja bayi yang baru lahir memiliki tekstur atau konsistensi tebal dan kental seperti tar. Kondisi ini normal karena warna dan teksturnya akan berubah dalam beberapa hari. Namun, jika kondisi berlanjut, sebaiknya Ibu hubungi dokter anak karena bisa menjadi tanda si Kecil kurang mendapatkan asupan susu yang cukup.

  2. Tekstur tinja bayi yang diberi ASI

    Bayi yang diberi ASI akan mengeluarkan tinja dengan tekstur lebih encer dan mungkin mengandung seperti biji-bijian. Ibu tak perlu khawatir karena kondisi ini bukan berarti di Kecil mengalami diare.

  3. Tekstur tinja bayi yang diberi susu formula

    Bayi yang diberi susu formula cenderung mengeluarkan tinja dengan tekstur atau konsistensi yang lebih padat dengan warna hijau, kuning, atau cokelat. Si Kecil yang terbiasa mengonsumsi susu formula sejak bayi bisa jadi mengalami sembelit karena jarang BAB, sering mengejan saat BAB dan tinja terlihat keras. Oleh karena itu, sebaiknya Ibu memberikan si Kecil ASI eksklusif karena ASI mengandung nutrisi yang lebih mudah dicerna dibandingkan susu formula. Supaya nutrisi yang didapatkan si Kecil lebih optimal, Ibu perlu meningkatkan kualitas ASI dengan mengonsumsi susu Frisian Flag MAMA yang mengandung protein, serat pangan, asam folat, zat besi, serta kalsium. Susu ini diformulasikan khusus Ibu hamil dan Ibu menyusui sehingga dapat menjadi tambahan nutrisi untuk menjaga kesehatan Ibu dan si Kecil.

  4. Tinja bayi setelah masa MPASI

    Saat si Kecil mulai mengonsumsi makanan solid dalam menu MPASI, kemungkinan ia akan mengeluarka tinja dengan tekstur atau konsistensi yang keras dan sulit dikeluarkan. Apalagi jika MPASI yang dikonsumsinya rendah serat, si Kecil bisa mengalami sembelit atau konstipasi. Ciri-ciri tinja bayi yang mengalami sembelit yaitu teksturnya kecil, seperti batu kerikil dan berwarna cokelat tua. Untuk menghindari sembelit pada bayi, sebaiknya Ibu penuhi kebutuhan cairan si Kecil, haluskan MPASI dengan benar, seimbangkan asupan nutrisi dari berbagai zat gizi, memijat perut si Kecil, memandikannya dengan air hangat, dan lainnya. 

  5. Tinja bayi yang mengalami diare

    Diare pada bayi ditandai dengan tekstur tinja yang encer, menyerupai air, dan frekuensi si Kecil BAB berlangsung lebih sering dibandingkan biasanya atau lebih dari 1 kali setelah makan. Penyebab diare pada bayi cukup beragam, di antaranya:

    • Gastroenteritis dan infeksi usus akibat virus, bakteri, dan parasit
    • Keracunan makanan, khususnya pada bayi yang sudah mengonsumsi MPASI
    • Terlalu banyak mengonsumsi jus buah
    • Alergi terhadap makanan atau obat-obatan tertentu
    • Intoleransi susu sapi

    Meskipun kondisi ini biasa dialami bayi, namun Ibu tetap perlu hati-hati karena diare bisa menyebabkan si Kecil dehidrasi hingga mengalami gangguan kesehatan yang lebih serius. 

  6. Tinja bayi berlendir dan berbusa

    Konsistensi tinja bayi yang berbusa bisa terjadi karena si Kecil sedang tumbuh gigi. Kondisi ini biasanya menyebabkan produksi air liur bayi lebih banyak dari biasanya. Selain itu, tinja bayi berbusa juga bisa disebabkan karena sering menelan ludah selama proses teething. Jika Ibu melihat tekstur berlendir atau seperti berbusa, sedangkan si Kecil tidak dalam masa tumbuh gigi, penyebabnya bisa jadi adalah infeksi saluran pencernaan. Kondisi ini sebaiknya tak diabaikan begitu saja, segeralah konsultasi dengan dokter untuk mendapat penanganan yang lebih baik.