Share Like
Simpan

Hai, Bu! Mungkin beberapa diantara Ibu banyak yang sudah sering mendengar kondisi pendarahan di trimester kedua, ya. Biasanya, kasus seperti ini menjadi salah satu hal yang paling dikhawatirkan oleh banyak Ibu. Apalagi tidak sedikit dari kasus pendarahan seperti ini bisa menyebabkan keguguran. Nah, saya adalah salah satu yang mengalami hal ini sewaktu hamil si Kecil dulu. Untungnya, kasus saya tidak terlalu parah, jadi anak saya bisa lahir dengan selamat dan sehat sampai sekarang. 

Supaya kekhawatiran Ibu bisa terjawab, kali ini saya mau berbagi informasi seputar kasus pendarahan. Sebenarnya, pendarahan yang Ibu alami ketika menjalani masa kehamilan merupakan hal yang biasa terjadi. Tapi, kalau pendarahan ini terjadi di usia kandungan empat sampai enam bulan, ada baiknya Ibu segera mencari tahu penyebabnya. Menurut buku kehamilan yang pernah saya baca, pendarahan di trimester kedua bisa jadi merupakan gejala dari hal-hal berikut:

  • Plasenta Previa 

Plasenta previa biasanya terjadi pada minggu ke-20 kehamilan namun kemungkinan ini cukup kecil terjadi. Semakin membesarnya ukuran rahim Ibu, maka biasanya plasenta akan berpindah menjauhi mulut rahim. Tapi, jika plasenta justru semakin mendekati mulut rahim, hal tersebut justru dapat berisiko menyebabkan pendarahan. Biasanya, jika Ibu mengalami plasenta previa, Ibu bisa melahirkan sebelum waktunya melalui proses Caesar. Namun Ibu tidak perlu khawatir. Hal ini cukup jarang terjadi, kok. Bisa dibilang hanya sekitar 1 dari 200 kehamilan yang mengalami kasus ini. Menurut penelitian, sebanyak 70% tidak merasakan nyeri ketika pendarahan terjadi, 20% disertai dengan keram, dan 10% mengaku tidak merasakan gejala apapun ketika pendarahan. Namun, jika Ibu mengalami hal ini, segera periksa ke dokter, ya. 

  • Plasenta Lepas

Mendengar istilahnya saja sudah bikin merinding ya, Bu. Hal ini merupakan kondisi yang lebih serius karena plasenta lepas sebagian atau bahkan benar-benar terlepas dari rahim sebelum si Kecil lahir. Kondisi yang seperti ini dapat mengurangi nutrisi serta oksigen untuk bayi  serta pendarahan yang terjadi dapat berbahaya bagi Ibu dan si Kecil. Kasus ini dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan (jika pendarahan hanya sedikit atau hampir tidak terdeteksi), lahir prematur, atau kelahiran mati pada bayi. 

  • Rahim Robek

Nah, kalau yang ini biasanya hanya terjadi pada Ibu yang sebelumnya pernah melakukan operasi Caesar. Penyebabnya pun beragam seperti, bekas operasi, plasenta yang tertanam terlalu dalam pada dinding rahim, atau kontraksi yang terjadi terlalu sering dan kuat. Jadi, jika Ibu mengalami kontraksi yang terlalu sering dan disertai keluarnya bercak darah, segera periksa ke dokter ya, Bu. 

  • Meningkatnya Risiko Lahir Prematur

Hal ini dapat terjadi jika Ibu mengalami pendarahan beberapa minggu sebelum hari persalinan yang sudah diperkirakan oleh dokter. Kelahiran prematur ini seringkali terjadi akibat lepasnya “sumbat” kehamilan yang ditandai dengan keluarnya bercak darah yang disertai dengan lendir kental.

  • Gangguan Kehamilan Lainnya

Selain masalah pada plasenta atau rahim, pendarahan juga bisa jadi tanda-tanda adanya gangguan kehamilan lain. Misalnya, infeksi akibat jamur pada saluran kemih atau pecahnya varises di pembuluh darah pada alat kelamin Ibu.

Nah, bahaya atau tidak pendarahan yang terjadi pada trimester kedua dapat diperkirakan dari banyaknya bercak darah yang keluar. Jika bercak yang keluar hanya sedikit, maka hal tersebut masih bisa dikatakan normal. Tapi, jika bercak yang keluar justru banyak dan disertai dengan lendir kental, segera lakukan pemeriksaan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. 

Bu, cara untuk mencegah terjadinya pendarahan sebetulnya belum ditemukan. Namun, Ibu bisa mengurangi terjadinya risiko tersebut dengan melakukan bed rest dan menghindari berhubungan seksual. Selain itu, rajin memeriksakan diri ke dokter juga dapat membantu Ibu menjaga kondisi kandungan. Penting juga bagi Ibu untuk mengikuti saran serta pesan dari dokter kandungan karena hal tersebut adalah cara terbaik agar Ibu tidak salah langkah. Terus jaga kesehatan Ibu dan janin, ya!