Whatsapp Share Like Simpan

Bu, seringkah Ibu disarankan untuk membedong bayi oleh orangtua? Bedong bayi memang sudah menjadi kebiasaan orangtua sejak lama dan masih turun-temurun hingga kini. Kebiasaan ini umumnya dilakukan sejak bayi baru lahir hingga usianya sekitar 3 bulan dengan tujuan untuk membuat bayi tetap hangat dan nyaman sehingga ia tidak mudah rewel. Namun ada juga orangtua yang beralasan agar kaki bayi lurus. Akibatnya, bedong bayi dibuat menjadi terlalu kuat dan dapat mengganggu fisik bayi.

Jadi, apakah bedong bayi itu aman? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, baca dulu yuk informasi berikut ini:

Manfaat Membedong Bayi

Membedong bayi merupakan sebuah metode melilitkan selimut atau kain pada tubuh bayi. Manfaat bedong bayi ini adalah untuk menghangatkan tubuh bayi dan memberikan efek nyaman. Saat berada di dalam rahim Ibu, bayi selalu mendapatkan kehangatan. Nah, bedong tersebut seolah-olah adalah rahim yang akan selalu memberikan rasa hangat dan nyaman pada bayi karena pada saat itu ia sedang beradaptasi pada lingkungan barunya.

Tentunya cara bedong bayi harus dilakukan dengan benar agar bayi mendapatkan manfaatnya. Saat dibedong, maka bayi tidak mudah terganggu oleh gerak refleksnya sendiri dan akan membantunya untuk tetap tenang. Bayi yang merasa tenang, hangat, dan nyaman, maka tidurnya pun jadi lebih nyenyak dan tidak mudah terbangun.

Bedong Bayi dengan Benar dan Aman

Seperti yang sudah disinggung di atas, bedong bayi haruslah dilakukan dengan cara yang benar supaya bayi bisa mendapatkan manfaatnya. Lantas, bagaimanakah cara bedong bayi yang benar dan aman? Berikut ini langkah-langkahnya, Bu:

Artikel Sejenis

  1. Letakkan selimut atau kain dengan panjang sekitar 15-20 cm di atas kasur dengan.
  2. Lipat sudut atas kain hingga membentuk segitiga kecil.
  3. Letakkan bayi tepat di atas bentuk lipatan segitiga kain tersebut. Bahu bayi harus ada tepat di atas batas lipatan kain.
  4. Luruskan tangan kiri bayi ke bawah merapat pada tubuhnya. Lalu tarik ujung kain pada sisi kiri bayi sampai menutupi lengan kiri dan dadanya.
  5. Selipkan ujung kain tadi ke bawah ketiak kanan bayi sampai ke bawah punggungnya.
  6. Lipat bagian bawah kain ke arah pundak bayi. Hindari melipat kain terlalu kencang di area kaki dan pinggul bayi supaya ia tetap bisa bergerak bebas.
  7. Pegang bayi dengan lembut supaya ia tidak bergerak atau berpindah posisi.
  8. Ambil ujung kain sebelah kanan dan tarik sampai menutupi seluruh tubuh bayi.
  9. Lipat sisa kain dan sisipkan di antara sela kain yang ada di punggung bayi.

Baca juga: Bayi Tidur Tengkurap, Boleh atau Tidak?

Wajib Diperhatikan!

Ibu perlu berhati-hati saat membedong bayi agar tidak menimbulkan resiko negatif yang bisa membahayakannya. Untuk itu ada beberapa hal yang wajib Ibu perhatikan, yaitu sebagai berikut:

  • Berikan cukup ruang pada kakinya. Membedong bayi tidak boleh terlalu ketat, khususnya di bagian kaki. Jika terlalu ketat, maka pinggul dan kakinya menjadi tidak memiliki cukup ruang untuk bebas bergerak. Sebagai akibatnya, bayi dapat berisiko terserang hip dysplasia, yaitu sebuah gangguan pembentukan sendi pada pinggul yang membuat tulang paha bagian atas bergeser dan tidak tepat berada di rongga pinggul.
  • Pilihlah bedong bayi dari kain yang nyaman. Untuk memberikan bayi kenyamanan selama dibedong, pilihlah bedongan yang terbuat dari bahan yang halus, tidak panas, dan tidak tebal. Ibu juga harus rutin memeriksa suhu tubuh bayi setiap beberapa jam untuk mengetahui apakah ia kepanasan atau tidak.
  • Posisi bayi saat dibedong. Pastikan bayi diletakkan dalam posisi telentang di atas kain bedong dan jangan pernah menidurkan bayi dengan kondisi tengkurap. Hal ini dapat mengakibatkan bayi mengalami kematian mendadak atau SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).
  • Sesuaikan pakaian bayi dengan cuaca. Ketika cuaca sedang dingin, Ibu boleh memakaikan bayi jumpsuit yang berbahan ringan. Namun ketika cuaca panas, lebih baik kenakan bayi kaos dalam dan popok saja. Hal ini untuk menghindari bayi merasa tidak nyaman karena kedinginan maupun kepanasan.
  • Kosongkan area kepala dan dada bayi. Kain bedong bayi juga tidak boleh lebih tinggi dari dada bayi karena bisa membuatnya kesulitan bernapas dan kepanasan.
  • Hentikan membedong bayi saat sudah bisa berganti posisi sendiri. Bayi yang sudah berusia 4 bulan biasanya sudah mampu untuk berguling ke kanan dan ke kiri sendiri. Jadi sebaiknya Ibu sudah tidak perlu membedongnya lagi karena akan menyebabkan ia kesulitan untuk bergerak.
  • Bedong bayi hanya saat ia tidur di boks bayi. Ibu sebaiknya hanya membedong bayi ketika ia berada di boksnya. Sementara saat ia tidur di kasur yang sama dengan Ibu dan Ayah, maka ia tidak perlu dibedong. Selain bisa menyebabkan rasa panas, hal ini juga bisa meningkatkan risiko SIDS.
  • Berikan edukasi pada orang lain yang menjaganya terkait cara membedong yang benar. Ketika Ibu dibantu oleh orang lain untuk mengasuh bayi, Ibu juga harus memberitahukan cara yang benar dalam membedong bayi untuk menghindari kesalahan yang dapat menyebabkan hal yang tidak diinginkan.

Pada dasarnya, bedong bayi bukanlah hal yang wajib dilakukan. Namun bila dengan cara ini ia bisa lebih tenang dan nyenyak saat tidur, maka Ibu boleh saja melakukannya. Hal yang penting, tetap perhatikan keselamatan dan keamanan bayi saat membedongnya, ya.

Bagi Ibu yang ingin berkonsultasi seputar bayi langsung dengan ahlinya, bisa mengunjungi laman Tanya Pakar. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, jangan lupa untuk registrasi dulu ya, Bu.

Sumber:

Sehatq, TheAsianParent