Whatsapp Share Like Simpan

Stunting adalah salah satu gangguan tumbuh kembang yang bisa terjadi pada anak. Kabar baiknya, pencegahan stunting bisa dilakukan sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan untuk mengurangi risiko terjadinya stunting.

Stunting sendiri merupakan kondisi yang menyebabkan anak memiliki perawakan pendek. Stunting bisa disebabkan oleh faktor genetik, sanitasi yang kurang baik, hingga kurangnya asupan nutrisi selama masa kehamilan. Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sunting adalah gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kasus stunting seringkali terjadi di masyarakat tanpa disadari. Biasanya terjadi pada komunitas orang tua yang kurang menyadari apa itu stunting dan pentingnya pencegahan stunting dengan melakukan kontrol rutin terkait perkembangan anak.

Secara kasat mata, anak yang terkena penyakit stunting memang tidak terlalu bisa dibedakan dengan kebanyakan anak lainnya. Sering kali, orang tua yang tidak memahami tentang stunting, tak bisa membedakan mana yang pertumbuhan anak terlambat dengan anak yang terkena stunting.

Penyebab Stunting

Setelah Ibu mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit stunting, berikut ini ada beberapa faktor utama yang bisa menjadi penyebab stunting dan wajib Ibu ketahui.

Artikel Sejenis

  • Ibu kurang mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi selama hamil dan menyusui. Misalnya, kekurangan nutrisi yang mengandung Protein, Asam Folat, Kalsium, Zat Besi, Omega 3, dan Serat.
  • Si Kecil tidak mendapat ASI eksklusif dan jumlah serta kualitas MPASI-nya tidak mencukupi kebutuhan si Kecil ketika berusia 6 bulan ke atas.
  • Lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Misalnya, kekurangan air bersih dan tidak mempunyai saluran pembuangan limbah mandi, mencuci, atau membuang kotoran yang baik. Akibatnya, si Kecil, terutama saat berusia kurang dari 2 tahun, lebih rawan terkena infeksi maupun bermacam penyakit.
  • Kurangnya fasilitas kesehatan untuk ibu dan anak dari masa kehamilan hingga kelahiran dan pertumbuhan.
  • Kurangnya stimulasi psikososial melalui hubungan orang tua-anak semasa perkembangan anak.
  • Faktor keturunan. Penderita stunting kemungkinan besar juga akan melahirkan anak yang menderita stunting.

Efek Stunting

Seperti yang sudah disinggung di atas, stunting memiliki beberapa efek pada si Kecil. Berikut efek-efek tersebut:

  • Pertumbuhan anak terhambat di mana tinggi dan berat badannya tidak sesuai atau di bawah angka rata-rata pertumbuhan anak seusianya.
  • Ukuran lingkar kepala anak lebih kecil dibanding ukuran normal anak seusianya. Hal ini menandakan otaknya tidak berkembang dengan baik.
  • Bila otaknya kurang berkembang maka daya tangkapnya pun kurang maksimal.
  • Prestasi anak di bidang akademik kurang baik.
  • Anak cenderung pendek dibandingkan teman seusianya.
  • Badan anak terlalu kurus atau bisa jadi malah kegemukan akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tinggi gula.
  • Anak mudah terserang penyakit.

Pencegahan Stunting pada Anak Sejak Masa Kehamilan

Menurut data Riskesdas tahun 2018 yang dilansir dari Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah penderita stunting di Indonesia mengalami penurunan. Tetapi langkah pencegahan stunting sangat perlu dilakukan, apa sajakah caranya? 

  • Pencegahan Stunting: Memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil

    Tindakan yang relatif ampuh dilakukan untuk pencegahan stunting pada anak adalah selalu memenuhi gizi sejak masa kehamilan. Lembaga kesehatan Millenium Challenge Account Indonesia menyarankan agar ibu yang sedang mengandung selalu mengonsumsi makanan sehat nan bergizi maupun suplemen atas anjuran dokter. Selain itu, perempuan yang sedang menjalani proses kehamilan juga sebaiknya rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter atau bidan.

  • Pencegahan Stunting: Rutin Kontrol Kehamilan

    Rutin melakukan kontrol kandungan ke bidan atau dokter kandungan untuk mengetahui tumbuh kembang janin. Di masa sekarang ini dokter dan rumah sakit telah dilengkapi dengan berbagai macam perangkat medis yang didukung oleh teknologi yang canggih untuk membantu para ibu hamil memantau kondisi janin mereka. Tidak ada salahnya memanfaatkan teknologi ini dengan baik untuk memastikan janin tumbuh dan berkembang dengan baik sebagaimana mestinya.

  • Pencegahan Stunting: Beri ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan

    Veronika Scherbaum, ahli nutrisi dari Universitas Hohenheim, Jerman, menyatakan ASI ternyata berpotensi mengurangi peluang stunting atau menjadi pencegahan stunting pada anak berkat kandungan gizi mikro dan makro. Oleh karena itu, ibu disarankan untuk tetap memberikan ASI Eksklusif selama enam bulan kepada sang buah hati. Protein whey dan kolostrum yang terdapat pada susu ibu pun dinilai mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi yang terbilang rentan.

  • Pencegahan Stunting: Dampingi ASI Eksklusif dengan MPASI sehat

    Ketika bayi menginjak usia 6 bulan ke atas, maka ibu sudah bisa memberikan makanan pendamping atau MPASI. Dalam hal ini pastikan makanan-makanan yang dipilih bisa memenuhi gizi mikro dan makro yang sebelumnya selalu berasal dari ASI untuk pencegahan stunting. WHO pun merekomendasikan fortifikasi atau penambahan nutrisi ke dalam makanan. Di sisi lain, sebaiknya ibu berhati-hati saat akan menentukan produk tambahan tersebut. Konsultasikan dulu dengan dokter.

    Memberikan MPASI setelah bayi berusia 6 bulan dengan tekstur makanan yang ditingkatkan sesuai usia bayi. Meskipun 6 bulan, ibu diharapkan masih tetap diharapkan memberikan ASI sebagai sumber utama nutrisi anak. Namun disamping itu ibu juga sudah mulai dapat memberikan asupan tambahan seperti susu formula atau bubur bayi yang dapat membantu memenuhi asupan anak.

  • Pencegahan Stunting: Terus memantau tumbuh kembang anak

    Orang tua perlu terus memantau tumbuh kembang anak mereka, terutama dari tinggi dan berat badan anak. Bawa si Kecil secara berkala ke Posyandu maupun klinik khusus anak. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi ibu untuk mengetahui gejala awal gangguan dan penanganannya.

  • Pencegahan Stunting: Selalu jaga kebersihan lingkungan

    Seperti yang diketahui, anak-anak sangat rentan akan serangan penyakit, terutama kalau lingkungan sekitar mereka kotor. Faktor ini pula yang secara tak langsung meningkatkan peluang stunting. Studi yang dilakukan di Harvard Chan School menyebutkan diare adalah faktor ketiga yang menyebabkan gangguan kesehatan tersebut. Sementara salah satu pemicu diare datang dari paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Pencegahan stunting menjadi penting dilakukan karena perkembangan anak tentunya menjadi prioritas utama setiap orangtua. Jangan sampai kondisi stunting tersebut dialami oleh si Kecil ya, Bu. Lakukan pencegahan stunting pada anak dengan memenuhi asupan nutrisi berkualitas dari makanan bergizi dan susu pertumbuhan, seperti Frisian Flag PRIMAGRO AAE 1+

Susu Frisian Flag PRIMAGRO AAE 1+ mengandung 9 asam amino esensial (9AAE) yang lengkap dan 9 nutrisi penting lainnya, seperti minyak ikan, omega 3, omega 6, zat besi, zinc, protein, kalsium, magnesium, vitamin D3 serta vitamin dan mineral lain untuk mendukung potensi si Kecil tumbuh pintar, kuat, dan tinggi. Kandungan nutrisi dalam susu pertumbuhan ini sudah ditingkatkan dari sebelumnya demi mendukung potensi tumbuh kembang si Kecil lebih optimal.