Whatsapp Share Like Simpan

Ibu berniat memberikan madu untuk bayi? Hati-hati, madu untuk bayi ternyata bisa berbahaya bagi kesehatannya lho. Meskipun madu memiliki banyak manfaat untuk orang dewasa, namun bagi anak-anak yang berusia di bawah satu tahun sangat tidak disarankan mengonsumsi madu. Ini karena madu mengandung bakteri yang justru akan memicu berbagai gangguan kesehatan pada si Kecil. 

Seperti yang Ibu ketahui, madu merupakan cairan manis yang diproduksi oleh lebah dengan beragam khasiat, mulai dari meningkatkan stamina, meredakan batuk, hingga membantu menjaga kesehatan jantung. Manfaat madu untuk kesehatan didapat dari kandungan nutrisinya yang beragam. 

Di samping gula yang membuatnya terasa manis, madu mengandung banyak zat gizi, seperti vitamin A, vitamin E, vitamin K, vitamin B kompleks, vitamin C, serta flavonoid, asam fenolik, dan karotenoid. Karena banyaknya nutrisi di dalam madu, tak sedikit Ibu yang memberikan cairan manis ini untuk buah hatinya yang masih bayi. Padahal, madu untuk bayi justru berbahaya. Supaya Ibu tidak keliru dalam memberikan madu untuk bayi, sebaiknya simak fakta dan mitos mengenai madu terlebih dahulu yuk! 

Fakta dan Mitos Madu untuk Bayi

Meskipun bermanfaat bagi anak-anak di atas satu tahun dan orang dewasa, madu untuk bayi justru berbahaya bagi kesehatan dan tumbuh kembangnya. Namun sayangnya, sebagian Ibu percaya bahwa memberikan madu untuk bayi dapat membantu mencegah penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuhnya. 

Mitos: Madu untuk Bayi Aman Dikonsumsi

Faktanya, memberikan madu untuk bayi sangat tidak disarankan. Hal ini karena pemberian madu pada anak berusia di bawah 1 tahun dapat menyebabkan gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan gigi hingga keracunan serius. Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai risiko gangguan kesehatan saat memberikan madu untuk bayi: 

Artikel Sejenis

  • Keracunan madu atau botulisme

    Madu mengandung bakteri yang disebut Clostridium botulinum. Pada anak usia 1 tahun ke atas, bakteri ini aman dikonsumsi. Namun, pada bayi, bakteri Clostridium botulinum dapat menyebabkan keracunan serius yang dikenal dengan istilah botulisme. Kondisi ini terjadi karena anak yang berusia di bawah 1 tahun belum memiliki sistem kekebalan tubuh dan pencernaan yang kuat untuk melawan bakteri tersebut, sehingga madu untuk bayi sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi oleh si Kecil. 

    Meski tergolong penyakit yang jarang terjadi, botulisme bisa berakibat fatal pada bayi. Bakteri ini dapat menyerang sistem saraf bayi, membuat otot-ototnya lemah bahkan lumpuh, serta mengganggu sistem pernapasannya.

    Jika Ibu terbiasa memberikan madu untuk bayi, maka perlu waspada terhadap beberapa gejala botulisme, seperti sulit buang air besar, terlihat lemas, susah bernapas dan menelan, serta menangis tidak sekencang biasanya. Bila si Kecil mengalami gejala-gejala tersebut setelah diberikan madu, segeralah bawa si Kecil ke dokter untuk dilakukan penanganan dengan tepat agar terhindar dari komplikasi yang lebih serius. 

  • Kerusakan gigi

    Risiko lain jika Ibu memberikan madu untuk bayi yaitu karena madu mengandung kadar gula yang tinggi, sehingga bisa merusak giginya yang baru tumbuh.

  • Obesitas 

    Risiko mengidap obesitas merupakan dampak lain pemberian madu untuk bayi. Sebab, jika si Kecil terbiasa mengonsumsi madu, maka ia juga akan terbiasa hingga kecanduan dengan rasa manis. Akibatnya, si Kecil akan terus-menerus menginginkan makanan yang manis, dan menolak makanan lain yang rasanya kurang manis.

    Hal ini berisiko menyebabkan si Kecil menderita kelebihan berat badan atau obesitas ketika dewasa, serta meningkatkan risikonya untuk penderita diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kanker.

    Baca juga: Manfaat Asam Amino Esensial (9AAE) Untuk Pertumbuhan Anak

Mitos: Madu untuk Bayi Bisa Menjadi Pemanis Alami MPASI

Seperti yang sudah disebutkan, madu untuk bayi berbahaya bagi kesehatannya, maka madu tidak disarankan masuk ke dalam menu MPASI si Kecil. Ada alternatif lain yang bisa Ibu pilih untuk dijadikan pemanis alami dalam menu MPASI, salah satunya dengan memberikan sari buah alami yang kaya akan nutrisi. 

Sebaiknya Ibu mengolah buah-buahan untuk memberikan rasa manis alami dalam menu MPASI si Kecil. Ada banyak buah yang bisa Ibu pilih, mulai dari pepaya, pisang, alpukat, buah naga, mangga, apel, stroberi, kiwi, labu kuning, dan lainnya. Selain menjadi pemanis alami, buah-buah tersebut juga mengandung beragam nutrisi yang dapat mendukung kesehatan dan tumbuh kembang si Kecil. 

Namun, Ibu juga perlu menyeimbangkan asupan nutrisi dari makanan lain, seperti makanan tinggi protein, karbohidrat, lemak baik, serat, dan beragam vitamin dan mineral. Salah satu zat gizi yang penting adalah protein karena di dalamnya terdapat 9 asam amino esensial (9AAE) yang sangat dibutuhkan oleh tubuh si Kecil. 

9 asam amino esensial (9AAE) merupakan bentuk sederhana dari protein yang dapat diserap oleh tubuh untuk tumbuh kembang si Kecil. Asupan 9 asam amino esensial (9AAE) sangat penting karena tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri, sehingga memerlukan asupan dari sumber protein berkualitas, seperti susu, telur, ikan, daging merah, daging putih, dan kacang-kacangan serta hasil olahannya. 

Perlu diketahui, protein hewani merupakan sumber protein yang paling penting dan dibutuhkan oleh tubuh dibandingkan protein nabati. Ini karena protein nabati, seperti kacang-kacangan, sayuran dan buah memiliki asam amino pembatas yang menyebabkan asam amino lainnya tidak terserap dengan baik di dalam tubuh. Padahal, kebutuhan 9AAE juga harus terpenuhi dalam 9 jenis yang lengkap dan jumlah yang tepat agar tumbuh kembang anak lebih optimal. 9 jenis asam amino esensial ini meliputi leusin, isoleusin, valin, triptofan, fenilalanin, metionin, treonin, lisin, dan histidin. Jika kekurangan satu jenis asam amino esensial, maka akan mengurangi fungsi optimal yang dibutuhkan oleh tubuh si Kecil. 

Maka dari itu, jika si Kecil sudah berusia 6 bulan ke atas, sebaiknya Ibu memilih makanan bergizi yang aman dikonsumsi dibandingkan memberikan madu untuk bayi. Seimbangkanlah antara makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan, agar gizinya seimbang. Selain itu, Ibu juga perlu memberikan ASI kepada si Kecil agar tumbuh kembangnya lebih optimal. Salah satu cara meningkatkan kualitas ASI dengan mengonsumsi susu khusus Ibu hamil dan menyusui, seperti Frisian Flag MAMA yang mengandung protein, serat pangan, vitamin B9 (asam folat), zat besi, serta kalsium yang dapat membantu menjaga kesehatan Ibu dan si Kecil.

Waktu yang Tepat Memberikan Madu untuk Anak

Jika madu untuk bayi berbahaya bagi kesehatannya, lantas kapan si Kecil bisa mengonsumsi cairan manis ini? Madu dapat diberikan kepada si Kecil jika usianya sudah lebih dari 1 tahun ya, Bu. 

Ibu dapat menambahkan sedikit madu pada makanan dan minuman Si Kecil, misalnya dengan mengoleskan madu pada roti, menjadikan madu sebagai topping sereal, atau mencampurkannya dengan susu hangat. 

Sebaiknya Ibu memberikan hidangan madu pada si Kecil sekali saja, lalu tunggu 4 hari sebelum diberikan lagi. Hal ini dapat membantu Ibu untuk melihat reaksi si Kecil, apakah ia menyukainya atau tidak, serta apakah ada gejala alergi yang muncul setelah si Kecil mengonsumsi madu. Namun, jika Ibu khawatir untuk memberikan madu kepada si Kecil, Ibu bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai kadar dan takaran yang tepat.

Ditinjau oleh: Yeni Novianti, S.Gz