Whatsapp Share Like Simpan

Marasmus adalah kondisi malnutrisi yang sering dialami oleh anak-anak di negara berkembang. Kondisi ini sebaiknya tidak dibiarkan dalam waktu yang lama karena efeknya bukan hanya mengganggu tumbuh kembang anak, tetapi juga dapat membahayakan nyawa. Maka dari itu, marasmus adalah gangguan kesehatan yang harus diketahui oleh Ibu sejak dini agar bisa mencegah terjadinya kondisi tersebut. Nah, di artikel ini akan dijelaskan mengenai konsep marasmus adalah kondisi gizi buruk kronis yang bisa Ibu atasi dan cegah sejak dini. Simak penjelasannya sampai selesai, yuk!

Apa itu Marasmus?

Marasmus adalah gangguan tumbuh kembang yang ditandai dengan kurangnya asupan energi atau kalori dari semua bentuk makronutrien, yang mencakup protein, karbohidrat, dan lemak. Kondisi ini terjadi ketika tubuh anak tidak mendapatkan asupan nutrisi tersebut dalam jumlah yang banyak dan waktu yang lama. Artinya, marasmus adalah penyakit yang termasuk malnutrisi energi protein atau Kurang Energi Protein (KEP) yang sering disebut sebagai gizi buruk.

Malnutrisi energi protein atau Kurang Energi Protein (KEP) adalah kondisi di mana tubuh kekurangan makronutrien yang merupakan sumber energi, termasuk protein. Nah, marasmus adalah jenis malnutrisi energi protein yang sering dialami oleh anak-anak. Namun, tak menutup kemungkinan orang dewasa pun ada yang mengalami kondisi ini.

Dalam jurnal Acute Liver Injury with Severe Coagulopathy in Marasmus Caused by a Somatic Delusional Disorder dijelaskan bahwa marasmus adalah bentuk lebih parah dari malnutrisi kalori di dalam tubuh. Efek jangka panjang marasmus adalah kematian pada anak-anak. Itulah sebabnya, setiap orang tua harus mencukupi kebutuhan nutrisi buah hatinya secara tepat sejak dalam kandungan hingga setelah lahir, agar tumbuh kembangnya optimal.

UNICEF juga menunjukkan bahwa marasmus adalah kondisi malnutrisi kronis yang dialami oleh 49 juta anak di bawah usia 5 tahun. Data tersebut diambil pada tahun 2018 dan hingga saat ini marasmus masih menjadi permasalahan yang muncul di negara berkembang, selain penyakit stunting dan kwashiorkor.

Artikel Sejenis

Ciri-ciri Marasmus pada Anak

Marasmus adalah gangguan tumbuh kembang yang bisa dikenali dari tinggi dan berat anak yang di bawah rata-rata. Penetapan kondisi ini dilakukan dengan pemeriksaan fisik pada tinggi dan berat badan sesuai dengan usia. Jika anak memiliki tinggi dan berat badan jauh di bawah batas normal, kondisi tersebut kemungkinan menjadi tanda awal dari munculnya marasmus.

Penderita marasmus mengalami penyusutan massa otot dan memiliki perut yang cekung ke dalam, sehingga terlihat sangat kurus karena tubuh kekurangan berbagai macam gizi dengan tingkat yang parah.

Penelitian Acute Liver Injury with Severe Coagulopathy in Marasmus Caused by a Somatic Delusional Disorder yang dilansir dari laman resmi hellosehat.com menunjukkan bahwa marasmus adalah penyakit yang termasuk ke dalam kelompok gizi buruk pada anak. Gizi buruk ditandai dengan berat badan kurang dari 70 persen dari rata-rata berat badan ideal anak. Menurut Kementerian Kesehatan RI, berikut adalah berat badan ideal anak sesuai dengan jenis kelamin dan usia:

  • Anak perempuan

    Usia 1 tahun : 7 – 11,5 kg

    Usia 2 tahun : 9 – 14,8 kg

    Usia 3 tahun : 10,8 – 18,1 kg

  • Anak laki-laki

    Usia 1 tahun : 7,7 – 12 kg

    Usia 2 tahun : 9,7 – 15,3 kg

    Usia 3 tahun : 11,3 – 18,3 kg

Jadi, bila si Kecil yang berusia 1-3 tahun memiliki berat badan jauh di bawah rata-rata tersebut, kemungkinan besar ia bisa mengalami marasmus. Perhitungan kondisi tersebut disesuaikan dengan tinggi dan berat badan anak, ya, Bu. Untuk mengidentifikasi secara pasti apakah seorang anak mengidap marasmus atau tidak, sebaiknya Ibu konsultasi dengan dokter agar mendapat diagnosa yang tepat.

Namun, bukan berarti anak yang memiliki tinggi badan sedikit lebih pendek dibandingkan anak seusianya atau badannya sedikit lebih kurus dibandingkan yang lain dianggap mengalami marasmus. Untuk mengidentifikasi marasmus, sebaiknya Ibu rutin memeriksakan si Kecil ke dokter untuk mengetahui tumbuh kembangnya dengan tepat. Sebab, marasmus adalah penyakit yang tak hanya terlihat dari kondisi fisik anak saja. Akan tetapi, perilaku atau keaktifan anak juga dapat menjadi penguat diagnosis marasmus. Untuk mengenali seorang anak mengalami gejala marasmus atau hanya penyakit biasa memang tidak mudah. Itulah sebabnya, Ibu perlu berkonsultasi dengan dokter dibandingkan mendiagnosis sendiri.

Gejala Marasmus pada Anak

Seperti yang Ibu ketahui, salah satu ciri marasmus adalah perut cekung dan berat badan jauh di bawah batas normal. Selain itu, berikut ini beberapa gejala marasmus yang bisa dialami anak, di antaranya:

  • Tampak sangat kurus
  • Kelelahan yang parah
  • Suhu tubuh menurun
  • Perut cekung
  • Wajah seperti orang tua
  • Tekanan darah, detak jantung, dan pernapasan lemah dan lambat
  • Diare kronis
  • Infeksi saluran pernapasan
  • Gangguan emosional atau tidak menunjukkan ekspresi emosi
  • Mudah marah
  • Tangan bergetar
  • Kulit kering dan kasar
  • Rambut rontok hingga botak

Penyebab Marasmus pada Anak

Seperti yang telah disebutkan, marasmus adalah penyakit yang termasuk malnutrisi energi protein. Nah, penyakit ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • Faktor sosial ekonomi

    Faktor penyebab yang paling umum dan memicu marasmus adalah faktor sosial, yang meliputi:

    • Kekurangan bahan pangan, misalnya karena keluarga tinggal di lingkungan yang terisolasi
    • Ibu dan ayah memiliki keterbatasan fisik atau mental, sehingga sulit untuk menyiapkan makanan untuk anaknya
    • Ibu dan ayah memiliki pengetahuan yang kurang tentang gizi dan cara mengolah makanan yang baik  untuk anak
  • Penyakit tertentu

    Marasmus adalah malnutrisi yang mungkin saja disebabkan oleh penyakit tertentu lho, Bu. Beberapa penyakit yang diindikasi sebagai penyebab marasmus antara lain:

    • Infeksi di sistem pencernaan, seperti radang usus dan penyakit celiac
    • Infeksi cacing tambang yang menyerap nutrisi dari dan darah dari usus
    • Penyakit yang membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lemah, seperti HIV/AIDS dan kanker
    • Gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia
    • Gangguan makan, seperti anorexia dan bulimia
    • Mengalami malabsorpsi atau sindrom malabsorpsi

Cara Mendiagnosis dan Mengatasi Marasmus

Marasmus adalah malnutrisi yang cukup kronis, sehingga membutuhkan bantuan dari dokter untuk mendiagnosis dan mengatasi penyakit ini. Pada pemeriksaan awal, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan mengecek tinggi badan, berat badan, dan kemungkinan yang menunjukkan anak mengalami gizi buruk.

Saat hasil pemeriksaannya ternyata kondisi anak jauh dari batas normal sesuai usianya, maka marasmus bisa menjadi penyebab kondisi tersebut. Setelah itu, dokter akan melakukan pengobatan marasmus tergantung dari faktor penyebab. Biasanya pengobatan dilakukan dengan memberikan nutrisi melalui mulut maupun infus dan pemberian obat-obatan sesuai kondisi.

Cara Mencegah Marasmus

Terdapat beberapa cara mencegah marasmus yang bisa Ibu lakukan, di antaranya:

  • Menerapkan pola makan seimbang

    Pencegahan pertama marasmus adalah menerapkan pola makan seimbang sejak dini. Ibu perlu mencukupi kebutuhan gizi harian si Kecil dengan tepat. Nutrisi yang harus dipenuhi meliputi protein, karbohidrat, lemak, serta berbagai vitamin dan mineral. Salah satu nutrisi yang penting adalah 9 Asam Amino Esensial (9AAE).

    9 Asam Amino Esensial (9AAE) merupakan bentuk lebih sederhana dari protein yang dibutuhkan oleh tubuh. 9AAE harus dipenuhi dalam jumlah dan jenis yang lengkap agar tumbuh kembang anak optimal. Asupan 9AAE bisa secara lengkap Ibu dapatkan dalam dalam Frisian Flag PRIMAGRO AAE 1+.

    Susu Frisian Flag PRIMAGRO AAE 1+ juga diperkaya dengan 9 nutrisi penting lainnya, seperti minyak ikan, omega 3, omega 6, zat besi, zinc, protein, kalsium, magnesium, vitamin D3, serta vitamin dan mineral lain untuk mendukung potensi si Kecil tumbuh kreatif, tangguh, dan percaya diri. 

  • Menjaga kebersihan lingkungan

    Hal yang bisa Ibu lakukan selanjutnya untuk mencegah marasmus adalah menjaga kebersihan lingkungan dan si Kecil. Sebab, kondisi sanitasi dan kebersihan yang buruk bisa meningkatkan risiko terkena infeksi, yang menjadi tanda awal dari marasmus dan tipe malnutrisi lainnya.

Namun, jika si Kecil sudah menunjukkan gejala marasmus, sebaiknya Ibu langsung membawanya ke dokter untuk mendapat penanganan yang lebih baik. Semoga artikel ini bermanfaat ya, Bu.

Ditinjau oleh: Yeni Novianti, S.Gz