Whatsapp Share Like Simpan

Anak-anak yang berusia 1-3 tahun sangat rentan mengalami gangguan pencernaan, termasuk BAB berdarah. Darah pada BAB si Kecil muncul karena berbagai penyebab, bisa karena luka di kulit, iritasi pada dinding anus, dan masalah lainnya. Penting bagi Ibu untuk mengetahui penyebab, gejala, dan cara mengatasi BAB berdarah pada si Kecil sejak awal. Sebab, jika kondisi ini tidak Ibu ketahui, maka akan menyebabkan komplikasi yang lebih berbahaya.

Namun, Ibu tidak perlu khawatir dan panik jika si Kecil mengalami BAB berdarah, ya. Ini karena ada pertolongan pertama yang bisa Ibu lakukan di rumah bila kondisi tersebut muncul. Alangkah lebih baik lagi jika Ibu mengetahui seputar BAB berdarah sebelum si Kecil mengalaminya agar Ibu tidak panik dan bisa mengatasi kondisinya dengan tenang.

Sebab, tak sedikit pula orang tua yang seketika langsung panik saat mengetahui buah hatinya mengalami BAB berdarah. Supaya bisa diatasi dengan tepat, kita simak dulu faktor pemicu munculnya BAB berdarah pada anak, yuk!

Penyebab BAB Berdarah pada Anak

Berikut ini beberapa penyebab BAB berdarah pada anak yang perlu Ibu ketahui, antara lain:

  • Sembelit atau konstipasi

    Penyebab BAB berdarah pada anak bisa dipicu oleh sembelit atau konstipasi lho, Bu. Kalau si Kecil sembelit, biasanya ia akan kesulitan saat mengeluarkan pup, mengeluh nyeri saat BAB, sakit perut, frekuensi BAB jarang, serta tekstur pup keras dengan bentuk bulat-bulat kecil, bahkan bisa muncul bercak darah. 

    Artikel Sejenis

    Saat si Kecil sembelit, pup atau fesesnya menjadi lebih keras sehingga dapat melukai anus, kondisi luka ini disebut juga dengan fissura ani. Fissura ani merupakan suatu kondisi di mana munculnya sobekan kecil dalam anus. 

    Hampir 90% penyebab BAB berdarah pada anak bisa disebabkan oleh kondisi ini. Artinya, luka pada anus inilah yang sering menjadi penyebab umum BAB berdarah pada anak-anak.

  • Diare

    Penyebab BAB berdarah pada anak juga bisa diakibatkan oleh diare. Kondisi ini dapat terjadi akibat infeksi pencernaan yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit penyebab infeksi.

    Selain membuat konsistensi pup atau feses jadi lebih cair, infeksi yang sudah parah juga merupakan salah satu penyebab BAB berdarah pada anak yang sering disertai dengan gejala nyeri perut.

    Berdasarkan jurnal berjudul Management of Bloody Diarrhea in Children in Primary Care, BAB berdarah yang disebabkan oleh diare sering menandakan penyakit pencernaan yang lebih serius lho, Bu. 

  • Radang usus

    Tak hanya BAB berdarah akibat diare yang menjadi gejala adanya radang usus. Kondisi peradangan ini juga bisa mengindikasi adanya penyakit pencernaan lain yang dialami oleh si Kecil.

    Radang usus merupakan suatu kondisi ketika usus si Kecil mengalami peradangan. Kondisi ini dapat merujuk pada gangguan pencernaan, seperti penyakit crohn dan radang usus besar (kolitis ulseratif).

  • Ambeien

    Meski lebih sering dialami oleh orang dewasa, tetapi anak-anak juga berisiko mengalami ambeien atau wasir. Ambeien bisa muncul akibat si Kecil sering mengalami sembelit atau diare yang berlebihan. Kondisi ini umumnya tidak terlalu berbahaya, tetapi ambeien pada anak dapat membuat penderitanya merasa tidak nyaman, apalagi sampai muncul BAB berdarah.

    Selain BAB berdarah, ambeien juga bisa disertai dengan gejala lain yang patut diperhatikan, di antaranya BAB disertai lendir, si Kecil menangis atau terlihat kesakitan saat BAB, tekstur pup atau feses sangat keras dan kering, si Kecil merasa tidak nyaman karena rasa gatal atau nyeri di anus, hingga munculnya benjolan yang tampak keluar dari anus.

Karena sebagian besar anak-anak belum bisa mengutarakan dengan jelas apa yang ia rasakan atau keluhkan, maka Ibu sebagai orang tua perlu jeli melihat tanda atau gejala BAB berdarah pada anak agar dapat segera diatasi dengan tepat.

Tanda dan Gejala BAB Berdarah pada Anak

Kondisi keluarnya darah yang berwarna merah segar saat si Kecil BAB dikenal dengan istilah hematokezia. Kondisi ini muncul karena adanya perdarahan pada saluran pencernaan bagian bawah, terutama di usus besar. Selain karena yang disebutkan di atas, penyebab hematokezia yang lebih parah bisa dipicu oleh polip usus, tumor jinak, dan kanker.

Sementara itu, keluarnya darah yang berwarna gelap kehitaman saat si Kecil BAB dikenal dengan istilah melena. Kondisi ini biasanya dipicu oleh peradangan bagian atas saluran pencernaan. 

Tanda dan gejala BAB berdarah pada anak bisa Ibu lihat dari warna darah dan tekstur pup atau fesesnya. Selain itu, lihat juga apakah si Kecil mengalami nyeri saat BAB? Apakah kondisinya juga disertai dengan frekuensi BAB yang terlalu sering? Hilang nafsu makan?

Maka dari itu, selain memerhatikan warna BAB, Ibu juga perlu memeriksa kondisi kesehatan tubuh si Kecil secara keseluruhan. Perhatikan keluhan yang ia tunjukkan agar bisa ditangani dengan tepat.

Bagaimana Mengatasi BAB Berdarah pada Anak?

Melihat kondisi si Kecil yang mengalami BAB berdarah pasti membuat Ibu khawatir. Namun, ada beberapa langkah pertolongan pertama yang bisa Ibu lakukan untuk membantu mengurangi keluhan yang si Kecil rasakan.

Beberapa cara mengatasi BAB berdarah di bawah ini bisa Ibu lakukan dengan catatan si Kecil tidak mengalami gejala lain yang parah, seperti mengalami demam tinggi, mual atau muntah, darah yang keluar sangat banyak, hilang nafsu makan berlebih, serta BAB berdarah muncul selama beberapa hari. Jika si Kecil mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya Ibu langsung membawanya ke dokter anak agar ditangani dengan tepat.

Namun, apabila kondisi si Kecil masih tergolong normal, yaitu muncul sedikit bercak darah dan tidak disertai gejala lain, berikut ini beberapa langkah pertolongan pertama yang bisa Ibu lakukan, antara lain:

  • Berikan makanan tinggi serat

    Mengatasi BAB yang berdarah akan lebih efektif jika Ibu mengetahui penyebabnya terlebih dahulu. Namun, seringnya BAB yang berdarah tidak begitu berbahaya dan dapat berhenti dengan perawatan di rumah, tanpa perlu tindakan operasi.

    BAB berdarah pada anak yang disebabkan sembelit bisa diatasi dengan cara mengatur pola makan anak dengan memperbanyak asupan serat serta makanan bergizi seimbang. Misalnya, Ibu bisa memberikan camilan sehat berupa buah potong yang segar, smoothie buah dan sayuran, dan lain sebagainya.

    Usahakan untuk selalu menyeimbangkan menu makanan harian si Kecil yang terdiri dari protein, lemak sehat, serat, serta berbagai vitamin dan mineral. Pastikan juga untuk mencukupi kebutuhan cairan harian si Kecil dengan baik.

    Salah satu makanan bergizi yang kaya akan 9 Asam Amino Esensial (9AAE) lengkap, serat pangan inulin, serta beragam nutrisi penting lainnya yaitu susu bubuk pertumbuhan Frisian Flag PRIMAGRO 1+.

    Susu bubuk pertumbuhan Frisian Flag PRIMAGRO 1+ diperkaya dengan kombinasi nutrisi untuk meningkatkan daya tahan tubuh si Kecil, seperti zat besi, vitamin D3, zinc, magnesium, dan vitamin C tertinggi yang dikombinasikan dengan 9 Asam Amino Esensial (9AAE) untuk memaksimalkan penyerapan seluruh nutrisi tersebut,

  • Jaga kebersihan anus

    Setelah itu, Ibu juga perlu menjaga kebersihan tubuh si Kecil, terutama di area anus. Pastikan untuk membersihkannya dengan air mengalir, tidak lembap, dan gunakan pakaian yang nyaman di kulit.

    Hal ini penting untuk menurunkan risiko terjadinya infeksi ketika terjadi luka. Selain itu, Ibu juga perlu menjaga kebersihan lingkungan, termasuk alat-alat yang sering digunakan oleh si Kecil agar tetap higienis dan tidak menjadi sarah virus, bakteri, atau parasit penyebab infeksi pencernaan.

Jika Ibu sudah melakukan langkah di atas, tetapi kondisi si Kecil tak kunjung membaik, segeralah bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik. Semoga artikel ini bermanfaat ya, Bu.

Ditinjau oleh: Yeni Novianti, S.Gz