Share Like
Simpan

Saat memasuki masa kehamilan, kondisi fisik calon ibu memang tak menentu, begitu pula suasana hati dan juga emosi. Nah, dulu waktu saya mengandung anak pertama, saya pernah mengalami perubahan mood yang cukup membingungkan.

Sesaat, saya merasa senang dan bahagia. Namun, sedetik kemudian suasana hati saya berubah 180 derajat menjadi sedih, khawatir, dan cemas. Pernahkah Ibu mengalami hal yang sama? Jika iya, itu ternyata merupakan hal yang wajar, Bu.

Apa Penyebabnya?

Dari info yang saya baca, pada trimester pertama atau di usia kehamilan 6—10 minggu, terjadinya ketidakstabilan emosi merupakan hal yang biasa. Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan level hormon estrogen dan progresteron yang memengaruhi saraf neurotransmiter (saraf pengatur emosi).

Pergantian mood pada ibu hamil biasanya berlangsung selama dua minggu. Jika ternyata berlangsung selama lebih dari itu dan semakin parah, baiknya Ibu perhatikan apakah ada gejala dominan gangguan mood yang mengarah pada depresi selama kehamilan.

Depresi selama masa kehamilan merupakan kondisi gangguan mood calon ibu. Perubahan mood yang signifikan dan ekstrem dapat dikategorikan sebagai mood disorder atau gangguan suasana hati yang mengarah pada depresi.

Tidak seperti mood swing biasa yang memiliki intensitas ringan, gangguan mood wujudnya lebih ekstrem dan intens. Jika dibiarkan dapat berujung pada depresi berat si calon ibu. Nah, jika hal ini sampai terjadi, tentu saja dapat memengaruhi janin yang ada dalam kandungan.

Kenali tanda-tandanya

Sejak dinyatakan hamil, sebagian besar para ibu memiliki emosi yang sama: senang, terharu, khawatir, dan bingung. Semua perasaan tentu penuh dan bercampur menjadi satu. Campuran emosi yang meluap-luap tersebut tidak hanya disebabkan oleh perubahan hormon, namun juga perubahan metabolisme tubuh dan kelelahan.

Menjadi seorang ibu bukan perkara mudah, lho. Hal inilah yang memicu berbagai pikiran dan emosi berkecamuk dalam diri si calon ibu. Perubahan emosi inilah yang jika dibiarkan, akan berujung pada depresi. Berikut ini adalah tanda-tanda yang muncul ketika seorang ibu mengalami depresi: 

1. Rasa sedih yang tak kunjung hilang.

Meskipun tidak ada penyebab pasti, rasa sedih akan terus datang menghampiri Ibu saat sedang beraktivitas sehari-hari. 

2. Sulit berkonsentrasi

Banyaknya pikiran yang ada akan membuat ibu sulit untuk memusatkan pikiran pada suatu hal.

3. Selalu merasa cemas

Pikiran ibu yang mengalami depresi biasanya hanya seputar kecemasan ia pada kehamilannya, seperti pikiran bagaimana ia akan menjalani hidupnya dengan si Kecil nantinya.

4. Merasa bersalah dan tidak berharga

Seorang ibu hamil yang sedang merasa depresi sangat mudah merasa bersalah dan tidak berharga, meski hanya dipicu hal kecil. Misalnya, ketika masakannya terlalu asin, ia akan merasa sebagai seorang perempuan gagal.

5. Perubahan nafsu makan

Ibu hamil yang mengalami depresi biasanya tidak memiliki nafsu makan. Selain memang ketika hamil perut terasa mual, emosi dan pikiran yang tidak stabil membuatnya kehilangan segala gairah.

Cara mencegahnya

Pertama, jangan pernah merasa sendirian ketika Ibu mulai menunjukkan tanda-tanda depresi saat kehamilan. Dulu, saya berbicara dengan Ayah tentang segala kekhawatiran pada si jabang bayi. Selain itu, saya juga berbagi segala kegelisahan pada teman yang pernah melewati masa-masa ini.

Dukungan moral dan dorongan dari orang terdekat, mampu mengurangi segala kekhawatiran dan kesedihan ketika hamil. Sebagai langkah lebih lanjut, saya mengikuti terapi atau bergabung di kelas yoga kehamilan. Bersosalisasi dengan sesama ibu hamil mengurangi rasa kesepian yang saya rasakan di rumah.

Masa kehamilan adalah masa penuh luapan emosi dan perasaan. Oleh karena itu, saya selalu membagi segala keluh kesah dengan orang terdekat. Meskipun terkadang tidak metemukan titik terang, setidaknya ada kelegaan bahwa masih ada orang yang sayang dan peduli di sekitar saya.

Semoga informasi di atas bermanfaat ya, Bu. Selalu jaga kondisi tubuh Ibu saat hamil demi pertumbuhan optimal si Kecil di dalam rahim.