Whatsapp Share Like
Simpan

Banyak orang tua yang tidak langsung membawa anaknya yang belum bisa bicara karena masih menunggu hingga anaknya bisa bicara sendiri. Menurut dr. I Gusti Ayu Partiwi Surjadi SpA. MARS, memang ada kasus anak terlambat bicara yang bersifat genetik, yang memang boleh ditunggu. Untuk mengetahui apakah kemampuan bicara bayi akan berkembang normal, antara lain dapat dideteksi melalui pendengarannya. Fungsi pendengaran dapat dinilai dengan melakukan screening pendengaran bahkan sejak bayi baru lahir. Respon bayi terhadap lonceng atau suara merupakan pertanda pendengaran bahwa fungsi pendengaran bayi baik.

Masalah anak terlambat bicara memang sering kali terlambat terdiagnosis. ”Padahal deteksi gangguan perkembangan secara keseluruhan, termasuk terlambat bicara, sangat penting diketahui sedini mungkin,” kata dr. Tiwi. Sehingga bila terjadi gangguan dapat segera dikoreksi, karena otak berkembang sangat cepat di tahun pertama dan kedua.

Seni Septiana Sinaga, Psi mengatakan jika keterlambatan bicara tidak dideteksi sejak dini, maka kerusakan yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar. Psikolog Jacinta F. Rini memaparkan bahwa bicara adalah media utama dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti orang lain, orang tua, guru dan teman-temannya. Bila media itu mengalami masalah, maka bisa membuat anak menjadi frustasi. Saat tidak ada yang bisa mengerti apa yang dimaksud anak, ia pun lama kelamaan akan berhenti berusaha membuat orang lain mengerti.

Penyebab Keterlambatan Bicara

Penyebab terlambat bicara ada yang bersifat sentral (gangguan pada otak), perifer (alat pendengaran yang terganggu), atau bersifat genetik (masalah keturunan). Berikut adalah beberapa penyebab keterlambatan bicara:

  1. Orang tua dengan dwi bahasa. Beberapa kasus menunjukkan bahwa anak yang diperkenalkan bahasa bilingual sejak bayi kadang-kadang bisa menjadi terlambat bicara.
  2. Anak tidak mengalami proses perkembangan secara alami. Misalnya anak usia 9 bulan seharusnya sudah mulai makan makanan yang agak kasar, tetapi malah diberi makanan halus terlalu lama. Hal ini menyebabkan daerah di sekitar mulut dan lidah yang digunakan juga untuk bicara menjadi kurang terlatih.
  3. Anak kebanyakan nonton televisi. Terlalu banyak menonton TV membuat anak menjadi pendengar pasif dimana anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Akibatnya, anak tidak mengalami periode tertentu yang seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan dan orang tua, untuk kemudian memberikan feedback kembali.
  4. Komunikasi dan interaksi dengan orang tua. Ada orang tua sering malas mengajak anaknya bicara panjang lebar, apalagi bila pembicaraan itu lebih banyak instruksi ketimbang dialog. Akibatnya anak jadi kurang mendapatkan cukup kosakata dan tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan dirinya.

Parameter Keterlambatan Bicara

Berikut adalah parameter keterlambatan bicara yang patut diwaspadai:

Artikel Sejenis

  • Jika pada usia 6 bulan bayi tidak melirik atau menoleh pada sumber suara yang datang dari belakang atau sampingnya
  • Bayi di usia 10 bulan tidak merespon bila dipanggil namanya.
  • Anak usia 15 bulan tidak mengerti atau merespon terhadap kita “tidak” atau “jangan“.
  • Di usia 21 bulan anak tidak merespon terhadap perintah duduk, ke sini, atau berdiri.
  • Jika si Kecil yang berusia 2 tahun tidak dapat menunjuk dan menyebutkan bagian tubuh seperti mulut, hidung, mata, atau kuping. Ia seharusnya juga sudah bisa merangkai 3 kata seperti ”aku mau minum” atau ”aku mau pipis”. Kalau dapat mengucapkan kata minum atau makan, tetapi tidak jelas berarti anak kurang rangsangan. Namun kalau anak hanya bisa mengucapkan “uuh” atau ”aah” jangan tunda lagi, sebaiknya anak itu segera dibawa ke ahli.

Evaluasi dan Pemeriksaan

Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek fisiologis, neurologis, serta psikologis.

Pada tahapan pemeriksaan aspek fisiologis dan neurologis, dokter memeriksa secara menyeluruh. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, ataupun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran dan bicara.

Pemeriksaan secara psikologis juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial–emosional anak. Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahli dapat mengambil langkah tepat. Misalnya melakukan terapi bicara atau jika sudah memasuki usia sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat.

Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara dan Bahasa Anak

Dr. I Gusti Ayu Partiwi Surjadi SpA. MARS memberikan panduan tahapan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa anak berdasarkan usia:

  • 0-1 bulan Bayi merespon saat mendengar suara dengan melebarkan mata, perubahan irama pernafasan, atau kecepatan menghisap susu.
  • 2-3 bulan Bayi merespon dengan memperhatikan dan mendengar orang yang sedang bicara.
  • 4 bulan Menoleh atau mencari suara orang yang memanggil namanya.
  • 6-9 bulan Berceloteh (babbling) dan mengerti bila namanya disebut.
  • 9 bulan Mengerti arti kata “jangan.”
  • 10-12 bulan Meniru suara, mengucapkan mama/papa dari tidak mengerti, mulai mengerti, sampai bisa menirukan 2-3 kata. Sampai si kecil mengerti perintah seperti ”ayo berikan pada saya.”
  • 13-15 bulan Perbendaharaan 4-7 kata, 20 persen ucapannya mulai dimengerti orang lain.
  • 16-18 bulan Perbendaharaan 10 kata, beberapa ekolalia (meniru kata yang diucapkan orang lain) dan 25 persen ucapannya dapat dimengerti orang lain.
  • 22-24 bulan Perbendaharaan 50 kata, kalimat terdiri 2 kata, 75 persen kata-katanya dapat dimengerti orang lain.
  • 2-2.5 tahun Perbendaharaan kurang lebih 40 kata, termasuk kalimat terdiri dari 2-3 kata, mengerti 2 perintah sederhana sekaligus.
  • 3-4 tahun Kalimat dengan 3-6 kata, bertanya, bercerita, berhubungan dengan pengalaman, ucapannya hampir semua dimengerti orang lain.
  • 4-5 tahun Kalimat dengan 6-8 kata, menyebut 4 warna, menghitung sampai 10.

Apakah buah hati Ibu juga termasuk dalam indikasi-indikasi yang disebutkan di atas? Jika ya, maka segeralah bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Pastikan juga Ibu selalu memberikan stimulasi yang ia butuhkan.

Jika Ibu memiliki pertanyaan seputar nutrisi pada anak, ibu dapat bertanya langsung ke pakar kami melalui fitur Tanya Pakar. Namun untuk menggunakan fitur tersebut, ibu perlu melakukan registrasi terlebih dahulu ya, Bu. Selamat mencoba!