Share Like
Simpan

Frekuensi Ibu dan Ayah berkomunikasi dengan si Kecil ternyata penting untuk tumbuh kembang balita lho, Bu. Menurut info yang saya baca di sebuah artikel di Forum Ibu & Balita, minimnya komunikasi antara orang tua dan anak bisa membuat anak mudah stres dan mengalami gangguan bicara. Oleh karena itu, yuk luangkan waktu lebih banyak untuk berkomunikassi dengan si Kecil. Nah... bentuknya tidak melulu harus dengan mengobrol secara lisan, Bu. Berikut tujuh cara yang bisa Ibu coba untuk meningkatkan frekuensi komunikasi dengan balita, agar si Kecil dapat tumbuh sehat. 

  1. Makin banyak bicara, makin banyak kosakata

Dalam artikel yang saya baca, disebutkan bahwa Ibu dapat mendukung perkembangan balita saat ini dengan semakin banyak bicara dengan si Kecil. Pada tahun-tahun emasnya saat ini (1-3 tahun), otak si Kecil sedang berkembang pesat dan menyerap banyak hal dari sekitarnya, Bu. Oleh karena itu, Ibu perlu mendukung Momen Wow-nya saat ini dengan memberikan stimulasi yang tepat, misalnya dengan terus menambah kosakatanya. Jika si Kecil mendapatkan lebih dari 30 juta kata hingga usianya menginjak tiga tahun, ia dapat memiliki perkembangan bahasa lebih baik. 

  1. Gunakan bahasa tubuh dan isyarat visual

Bentuk komunikasi Ibu tidak melulu harus dalam bahasa lisan, Bu. Ibu juga bisa menambah frekuensi komunikasi dengan mengajarkan si Kecil memahami bahasa tubuh. Menurut penelitian yang dilakukan Association for the Education of Young Children, gerak tubuh dan ekspresi wajah juga dapat membantu si Kecil memahami kata-kata, misalnya memperkenalkan diri sambil tersenyum riang dan melambaikan tangan. Artikel yang saya baca juga menyebutkan bahwa isyarat visual membantu si Kecil mencerna kosakata baru dan meningkatkan kemampuan mereka untuk memahami konteks, Bu.   

  1. Dengarkan si Kecil

Hal ini nih, Bu, yang sering dilupakan oleh para orang tua. Meskipun terlihat sepele, perhatian dari Ibu saat si Kecil bercerita sangat penting untuk perkembangan psikologi anak. Dengarkan dengan baik saat ia bercerita dengan antusias mengenai mainan barunya atau acara kartun kesukaannya. Meskipun ceritanya loncat ke sana kemari, hindari bersikap cuek saat ia bercerita. Tahan juga keinginan Ibu untuk memotong dan mengalihkan pembicaraannya ya, Bu. Perilaku Ibu yang tidak mendengarkannya dengan baik, akan membuat si Kecil merasa tidak diperhatikan. Kemungkinan terburuknya, ia akan malas cerita lagi ke Ibu dan mungkin tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. 

  1. Membuat kontak mata dengan posisi sejajar

Kontak mata juga salah satu bentuk komunikasi yang perlu dibiasakan dengan si Kecil. Hal ini penting agar si Kecil menyadari bahwa ia sedang diajak berbicara. Menurut artikel yang saya baca, dikatakan bahwa adanya kontak mata dengan posisi sejajar antara orang tua dan balita akan meningkatkan rentang perhatian balita atau jangka waktu balita dapat berkonsentrasi pada suatu kegiatan. Rentang perhatian yang panjang akan membantu tumbuh kembang balita, khususnya ketika ia belajar bahasa dan memecahkan suatu masalah. 

  1. Berikan respon

Bukan sekadar mendengarkan, cara lain untuk berkomunikasi dengan si Kecil adalah dengan memberikannya respon ketika bicara dengannya. Hal ini bisa dilakukan dengan memujinya ketika ia bercerita tentang keberhasilannya merapikan mainan pada tempatnya. Dengan begitu, ia akan merasa dihargari dan terdorong untuk terus melakukan hal positif lain, Bu. Jika si Kecil tanpa sengaja bercerita telah melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya mencoret tembok, sebaiknya hindari memarahinya. Lebih baik tegur ia baik-baik dan menyebutkan bahwa perbuatannya itu tidak boleh dilakukan lagi.

Bagaimana, Bu? Semoga info ini bisa berguna untuk menambah frekuensi berkomunikasi antara Ibu dengan si Kecil. Selamat mengobrol dengan si Kecil, Bu.