Share Like
Simpan

Kadangkala pasangan suami istri (pasutri) yang sudah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai momongan, perlu menjalani beberapa pemeriksaan guna mengenali penyebabnya. Pemeriksaan sebaiknya dijalani oleh suami dan istri agar dokter dapat membantu mencari solusinya.

Berbagai pemeriksaan yang mungkin akan dijalani antara lain:
 

Untuk Suami dan Istri

Riwayat kesehatan
Dokter akan menanyakan seputar kehidupan seksual, ada tidaknya penyakit menular seksual, penggunaan kontrasepsi, penggunaan obat-obatan, kafein, merokok atau tidak, minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang, siklus menstruasi, dan olahraga. Bila dicurigai adanya penyakit menular seksual, tes lanjutan akan dilakukan.

Pemeriksaan fisik
• Pada wanita, dilakukan pemeriksaan panggul dan tes Pap.
• Pada pria, dilakukan pemeriksaan testis

Tes darah atau urin
• Memeriksa kadar luteinizing hormone (LH) dan progesteron yang dilakukan saat siklus menstruasi untuk mengetahui ovulasi. LH mungkin juga diperiksa pada pria untuk mengetahui ada tidaknya masalah pada kelenjar hipofisis.
• Fungsi tiroid untuk mengetahui ada tidaknya masalah pada hormon tiroid yang dapat mengganggu ovulasi.
• Kadar hormon prolaktin jika wanita memiliki masalah dengan siklus menstruasi atau ovulasi.
• Follicle stimulating hormone kadang dilakukan untuk mengetahui cadangan sel
• Kadar testosteron juga diperiksa pada pria
• Tes untuk mengetahui ada tidaknya penyakit menular seksual yang memerlukan sampel urin atau cairan dari serviks dan uretra.

Pemeriksaan khusus untuk Suami:
Analisa cairan semen
Tes ini untuk mengetahui jumlah sperma, banyaknya sperma yang normal, yang dapat bergerak maju secara normal, jumlah sel darah putih dalam semen, dan berapa banyak cairan semen yang terbentuk

Pemeriksaan khusus untuk Istri:
Tes pasca koitus
Tes ini untuk memeriksa cairan serviks (leher rahim) setelah usai berhubungan seksual untuk mengetahui apakah sperma dapat bertahan hidup di dalamnya dan apakah dapat bergerak normal melalui cairan tersebut. Tes ini dilakukan sebelum atau saat ovulasi.

Tes di rumah

Untuk mengetahui ovulasi atau tidak, kini tersedia tes urin LH yang bisa dilakukan di rumah. Kadangkala suhu basal tubuh juga dicek pada saat bersamaan.

Ada baberapa faktor risiko yang perlu diketahui yang diduga dapat menjadi penyebab ibu belum hamil, yaitu:
• Usia. Di atas 30 tahun, kesuburan wanita cenderung menurun, yang mungkin diduga adanya kromosom yang abnormal pada sel telur atau gangguan kesehatan yang mengganggu tingkat kesuburan. Pria usia di atas 40 tahun juga menjadi kurang subur dibandingkan usia lebih muda.
• Merokok. Rokok dapat mengurangi peluang pasutri untuk mendapatkan momongan dan merokok juga dapat mengurangi manfaat pengobatan ketidaksuburan. Keguguran lebih sering terjadi pada wanita perokok dibandingkan wanita bukan perokok.
• Minuman beralkohol dapat meningkatkan risiko cacat lahir dan juga wanita menjadi lebih sulit hamil.
• Kelebihan berat badan. Di Amerika Serikat, infertilitas (ketidaksuburan) seringkali disebabkan oleh gaya hidup kurang olahraga dan kelebihan berat badan, dan pada pria, kelebihan berat badan dapat mempengaruhi jumlah sperma
• Berat badan di bawah normal. Wanita pun berisiko alami infertilitas bila berat badannya di bawah normal atau memiliki masalah makan (eating disorder) seperti anoreksia, bulemia, atau diet dengan kalori sangat rendah
• Berolahraga berlebihan atau kurang aktif. Beberapa penelitian menunjukkan, olahraga lebih dari 7 jam per minggu dikaitkan dengan masalah ovulasi. Di samping itu, kurangnya berolahraga atau melakukan akitvitas fisik, dapat memicu timbulnya obesitas yang juga meningkatkan risiko terjadinya infertilitas.

Apabila Ibu memiliki satu atau beberapa faktor di atas, maka alangkah baiknya bila Ibu dan suami berkonsultasi ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut, sehingga permasalahannya dapat diketahui dengan pasti dan ditangani sebaik mungkin.