Whatsapp Share Like
Simpan

Sepanjang kehamilan dan selama berada di dalam rahim, bayi akan bergerak mencari posisinya. Saat mendekati saat persalinan, posisi bayi perlu diketahui karena bila dalam posisi yang abnormal, perlu perhatian yang ekstra guna menentukan jenis persalinan. Idealnya, saat mendekati persalinan bayi dalam posisi kepala di bawah menghadap punggung ibu.

Salah satu posisi bayi yang perlu perhatian adalah melintang. Bayi dengan letak lintang terjadi bila janin dalam kondisi melintang (horisontal) di dalam rahim dengan kepala di sisi kanan rahim dan bokong di sisi kiri, atau sebaliknya. Biasanya bokong berada lebih tinggi dari kepala atau bahu berada di atas pintu atas panggul.

Presentasi abnormal atau posisi bayi yang tidak seperti biasanya dapat meningkatkan risiko Ibu mengalami cedera pada rahim atau jalan lahir saat persalinan berlangsung. Terutama jika posisi lintang bayi merupakan posisi abnormal yang serius dan dapat membahayakan ibu dan janin. Lantas, apa sajakah ciri janin melintang tersebut?

Ciri-ciri Janin Melintang

Berikut ini terdapat beberapa ciri janin melintang:

  1. Ibu Mengalami Ketidaknyamanan Subkostal
    Saat mengandung bayi dengan posisi melintang, sang ibu biasanya mengalami ketidaknyamanan subkostal, yaitu rasa tidak nyaman pada bagian panggul hingga tulang rusuk. Rasanya seperti perut melilit atau nyeri saat haid pada penderita kista. Ketidaknyamanan ini bisa mengganggu aktivitas ibu dan selalu ingin menyandarkan punggung dengan tambahan bantal sebagai penyangga punggung.
  2. Tendangan Kaki Bayi Terasa di Samping Rahim
    Saat Ibu hamil dengan posisi bayi normal, maka tendangan kaki bayi akan terasa di atas rahim sebagai tanda posisi kaki berada di atas dan kepala di bawah. Namun bila posisi bayinya melintang, maka tendangan kaki bayi akan dirasakan pada samping rahim.
  3. Letak Kepala Bayi
    Ciri janin melintang lainnya bisa diketahui dari letak kepala bayi. Jika posisinya melintang, maka dokter bisa merasakan sebuah massa keras berupa kepala bayi yang berada di bagian samping perut ibu. Lain halnya bila posisinya normal, maka letak kepala bayi akan dirasakan pada bagian bawah perut ibu.
  4. Letak Detak Jantung Bayi
    Posisi janin yang melintang juga bisa ditandai dengan letak detak jantung bayi. Saat pemeriksaan pada minggu ke-32 hingga ke-35 melalui pemeriksaan USG, letak detak jantung janin yang berada dalam posisi normal akan terdengar dari bagian bawah pusar ibu. Namun bila melintang, maka letak detak jantungnya terdengar di bagian atas atau samping pusar ibu.
  5. Massa Tidak Teratur pada Bagian Panggul Ibu
    Saat melakukan pemeriksaan palpasi abdomen, dokter akan menemukan bentuk massa yang tidak teratur pada bagian panggul ibu. Hal tersebut sebagai pertanda bukan kepala bayi yang pertama turun ke bagian panggul, melainkan punggung bayi.
  6. Melalui Pemeriksaan Vagina
    Terakhir, posisi bayi bisa dilihat melalui pemeriksaan vagina yang dilakukan saat ibu sudah mengalami tanda-tanda akan melahirkan. Pemeriksaan vagina diperlukan untuk mengetahui proses bukaan dalam persalinan normal. Jika dalam pemeriksaan ini tidak ditemukan massa keras seperti kepala bayi, maka bisa dipastikan bahwa posisi bayi dalam keadaan melintang.

Penyebab Janin Melintang

Mengapa posisi janin bisa melintang? Berikut beberapa penyebabnya:

Artikel Sejenis

  • Relaksasi/peregangan dinding perut akibat proses persalinan sebelumnya atau pernah melahirkan 4 kali atau lebih sebelumnya.
  • Janin prematur.
  • Plasenta previa, yaitu bila plasenta berada pada bagian bawah rahim yang kadangkala dapat menghalangi jalan lahir. Kondisi ini dapat diketahui oleh dokter dengan menggunakan USG.
  • Bentuk rahim yang abnormal.
  • Cairan ketuban yang berlebihan (polihidramnion).
  • Panggul sempit.
  • Kehamilan kembar. Kadang janin pertama sudah memasuki panggul dan janin keduanya dapat dalam posisi lintang.

Proses Persalinan Janin Melintang

Bagaimana dengan proses persalinan pada kehamilan letak lintang? Bila bayi sudah berkembang sempurna dan dalam posisi lintang, maka sulit untuk dilahirkan melalui persalinan spontan atau normal. Namun Ibu bisa mencoba untuk memperbaiki posisi bayi dengan melakukan beberapa hal berikut saat usia kehamilan 30 - 37 minggu:

  1. Posisi tilt atau berbaring pada permukaan datar dan meletakkan bantal pada pinggul hingga lebih tinggi dari kepala. Lakukan selama 15 menit sambil mengambil napas dalam.
  2. Latihan dada dengan cara berlutut di lantai, meletakkan lengan ke bawah, dan membuat posisi rahim lebih tinggi dari kepala. Dorong panggul ke atas seperti posisi menungging. Lakukan gerakan ini dua kali sehari selama 5-15 menit.
  3. Lakukan forward leaning inversion, yaitu posisi yang mirip dengan gerakan push-up tapi kaki berada di tempat yang lebih tinggi. Lakukan gerakan ini 3 kali per hari selama 30 detik.
  4. Letakkan barang yang dingin seperti sebungkus es batu di dekat kepala bayi supaya ia menghindari diri dari rasa dingin. Bisa juga dengan meletakkan air hangat di bagian bawah panggul supaya ia mendekat ke arah yang panas.
  5. Biasakan untuk mendengarkan janin suara musik klasik. Musik mampu merangsang janin untuk bergerak mendekati tulang kemaluan Ibu.
  6. Gunakan senter atau sumber cahaya lainnya dan arahkan ke bagian rahim bawah supaya janin mendekat ke arah kemaluan Ibu.

Satu hal yang akan menjadi pertimbangan utama pada letak lintang adalah jika ‘kantong’ ketuban pecah, maka tali pusat dapat ‘masuk’ ke dalam jalan lahir. Hal ini dapat membahayakan janin karena tali pusat dapat ’terjepit’ sehingga dapat mengurangi aliran darah dan oksigen pada bayi. Bila kondisi ini terjadi, caesar menjadi pilihan persalinan yang paling tepat.

Itulah ciri janin melintang, penyebab, dan cara untuk memperbaikinya, Bu. Jika posisi janin Ibu juga melintang dan masih memungkinkan untuk diperbaiki, cobalah melakukan beberapa cara di atas ya, Bu. Namun pastikan untuk meminta saran dari dokter kandungan agar bisa selalu terpantau dan Ibu serta janin dalam keadaan yang sehat hingga masa persalinan tiba. Tak lupa, selalu konsumsi susu Frisian Flag Mama yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, serat pangan (inulin), asam folat, zat besi, kalsium, 29 multivitamin, dan mineral yang diperlukan oleh ibu dan janin dalam kandungan.