Share Like
Simpan

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang tetangga saya sempat melakukan konsultasi masalah anak karena anaknya lebih sering main di rumah tetangga dan sulit sekali untuk diajak pulang. Mendengar keluh kesahnya ini membuat saya teringat akan hal serupa yang saya alami sewaktu si Kecil masih berusia tiga tahun. Tak perlu dipungkiri, hal ini tentu akan membuat setiap Ibu gelisah, terutama jika kebiasaannya ini sampai merepotkan tetangga Ibu. Oleh sebab itu, kali ini saya akan berbagi cara yang pernah saya lakukan untuk menangani kebiasaan si Kecil ini.

Awalnya, saya sendiri tidak paham dengan kondisi si Kecil yang seperti itu. Saya sempat berpikir, apakah ini ada hubungannya dengan kebiasaan saya yang suka sekali bertamu ke rumah tetangga ketika saya sedang hamil dulu? Namun, setelah menelusuri berbagai situs konsultasi anak online, ternyata hal tersebut tidak ada hubungannya.

Berdasarkan artikel yang saya baca juga, rupanya si Kecil memiliki kebutuhan tersendiri, yaitu kebutuhan berteman dan bersosialisasi. Di usianya saat ini, ia sedang berada dalam tahap mengembangkan identitas diri dan berusaha menemukan kelompok pertemanannya

Namun, yang memang sangat penting untuk diperhatikan adalah jangan sampai si Kecil menjadi lebih betah berada di rumah tetangga ketimbang rumah sendiri. Untuk mencegahnya, coba lakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Cari tahu apa yang menjadi alasannya
  • Kebutuhan fisik

Jika penyebabnya adalah kebutuhan fisik, seperti mainan tetangga lebih lengkap atau makanan lebih enak, marilah kita mencoba untuk lebih kreatif, Bu! Ibu tidak perlu memaksakan diri membelikan si Kecil berbagai mainan seperti yang dimiliki tetangga, tapi cobalah menciptakan permainan-permainan di rumah yang bisa membuat ia tertarik dan teralihkan perhatiannya dari mainan tetangga, seperti bermain peran atau membuat alat musik dengan peralatan yang ada di rumah.

 Nah, jika penyebabnya adalah makanan yang lebih enak, ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi Ibu untuk menciptakan menu kreasi yang bisa disukai si Kecil dan sesuai dengan kebutuhan nutrisinya. Dulu, saya sering menjadikan ibu saya sebagai tempat konsultasi masalah anak terkait resep-resep sehat dan unik untuk si Kecil yang bisa saya coba, Bu.

  • Emosional

Apabila faktor penyebabnya adalah kebutuhan emosional, maka ini yang harus ibu cermati. Dipandang dari sisi psikologi, setiap anak membutuhkan rasa aman dan nyaman. Jika ia tidak mendapatkan hal tersebut di rumahnya, maka ia secara otomatis akan mencarinya di tempat lain.

Oleh karena itu, berikan si Kecil perhatian yang ia butuhkan di usianya. Cobalah lakukan konsultasi masalah anak dengan Ayah untuk lebih sering mengajaknya main bersama, Bu.

 Tidak kalah penting adalah menjaga sikap di depan si Kecil. Beri ia contoh yang positif dalam bersikap, misalnya saat Ibu sedang kesal, hindari untuk mengomel dan marah-marah di depannya. Jika memang kekesalan Ibu disebabkan oleh perilaku nakal si Kecil, beri ia hukuman yang mendidik. Hindari menyakitinya secara fisik atau melalui perkataan, karena bisa berdampak kurang baik bagi tumbuh kembangnya.

      2. Buat kesepakatan dengan si Kecil

Sebelum si Kecil bermain ke rumah tetangga, buatlah kesepakatan dengannya tentang berapa lama ia boleh bermain di sana. Sampaikan pula kepadanya bahwa sesekali temannya juga boleh main ke rumah Ibu. Waktu saya mengalami situasi ini, saya melakukan konsultasi masalah anak dengan tetangga saya tersebut.

 Gunanya adalah agar saya dan tetangga bisa saling mengingatkan apabila si Kecil sudah terlalu lama bermain di rumahnya. Bersikaplah tegas jika ia melanggar kesepakatan yang telah dibuat bersama supaya si Kecil bisa belajar bertanggung jawab dan menepati janji yang sudah disepakati.

Selamat bermain bersama si Kecil ya, Bu!