Share Like
Simpan

Kita sudah sangat sering mendengar mengenai plasenta dan pentingnya plasenta bagi janin. Namun masih banyak yang belum mengenal dan mengetahui mengapa plasenta bisa menjadi begitu penting bagi janin.

Janin memperoleh zat-zat gizi dan oksigen dari ibu melalui plasenta yang menempel pada tali pusat. Di dalam plasenta, darah ibu dan janin masing-masing mengalir melalui pembuluh yang saling berdekatan. Meskipun berdekatan, darah ibu dan janin tidak bercampur. Pada saat darah ibu berada dekat dengan darah janin, terjadi perpindahan oksigen dan zat gizi dari darah ibu ke darah janin.

Saat darah mengalir ke dalam janin, darah mengambil produk-produk sisa metabolisme dan membawanya kembali ke Ibu melalui tali pusat. Darah dari janin tersebut kemudian masuk ke sirkulasi darah Ibu untuk diproses di paru-paru dan menukar karbondioksida dengan oksigen. Sedangkan di hati, produk limbah metabolisme akan dibersihkan dan dibuang.

Karena oksigen dipasok oleh Ibu, maka janin tidak menggunakan paru-paru untuk bernapas, sehingga hanya sedikit darah yang masuk ke paru-paru. Saat lahir, paru-paru si Kecil akan mengembang, sehingga darah akan masuk ke dalam paru-paru. Darah dari plasenta juga tidak banyak yang mengalir ke hati karena pengolahan produk limbah metabolisme juga masih ditunjang oleh hati ibu.

Sirkulasi darah rahim-plasenta baru terbentuk pada akhir bulan ketiga atau akhir trimester pertama. Pada bayi yang lahir cukup bulan, ukuran plasenta berkisar + 50-70 cm dengan garis tengah sekira + 2 cm.

Yang mendorong pergerakan peredaran darah plasenta adalah jantung janin. Untuk mengetahui keadaan peredaran darah plasenta, dilakukan pemeriksaan pencitraan sonografi / USG atau menggunakan alat Doppler.

Keadaan yang paling ditakuti pada peredaran darah plasenta adalah solusio plasenta. Solusio plasenta adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan terlepasnya plasenta dari dinding rahim bagian dalam sebelum persalinan, baik seluruhnya maupun sebagian. Keadaan ini menyebabkan penurunan hingga hilangnya asupan oksigen dan nutrisi bagi janin.

Gejala solusio plasenta antara lain nyeri perut, nyeri punggung, kontraksi rahim yang sering, dan perdarahan vagina. Penanganannya tergantung usia kehamilan Ibu. Apabila masa persalinan masih jauh dan keadaan solusio plasenta ringan, maka harus dilakukan pengwasan ketat disertai pemberian cairan melalui infus atau transfusi darah. Namun apabila kedaan solusio plasenta berat dan perdarahan yang terjadi mengancam nyawa ibu dan janin, maka harus segera dilakukan persalinan.

Pemahaman mengenai aliran darah plasenta ini menjadi penting bagi Ibu agar bisa membuka wawasan mengenai pola perawatan semasa kehamilan (antenatal care/ANC) yang dilakukan oleh dokter dan bidan, sehingga Ibu bisa menjadi lebih mengerti mengenai tahapan perkembangan janin dan hal-hal yang menunjangnya.