Whatsapp Share Like Simpan

Sebagian Ibu percaya bahwa bawaan hamil bayi perempuan sudah terasa sejak usia kehamilan pada trimester pertama. Bawaan hamil bayi perempuan ini dianggap memengaruhi beberapa kondisi tubuh Ibu, mulai dari bentuk perut hingga morning sickness yang muncul lebih sering. Namun, apakah anggapan tentang bawaan hamil bayi perempuan tersebut memang terbukti secara ilmiah? Atau justru hanya mitos belaka? 

Nah, di artikel ini kita akan membahas lebih lanjut mengenai bawaan hamil bayi perempuan yang sesuai fakta maupun tidak. Selain itu, Ibu juga perlu mengetahui tips menjaga kehamilan agar kesehatan Ibu dan tumbuh kembang si Kecil tetap optimal hingga hari kelahiran tiba. 

Apakah Bawaan Hamil Bayi Perempuan Memang Ada?

Sejak dulu hingga saat ini, banyak anggapan seputar bawaan hamil bayi perempuan yang masih dipercaya. Untuk mengetahui fakta di baliknya, berikut ini beberapa mitos seputar bawaan hamil bayi perempuan:

  • Mitos: Morning sickness muncul lebih sering

    Morning sickness sering dikaitkan sebagai salah satu tanda bawaan hamil bayi perempuan. Padahal, morning sickness yang dialami oleh setiap Ibu hamil pasti berbeda. Ada pula Ibu yang hamil bayi laki-laki justru mengalami morning sickness lebih parah dibandingkan Ibu yang hamil bayi perempuan. 

  • Mitos: Bentuk perut lebih menonjol 

    Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang membahas kaitan antara bentuk perut Ibu hamil dengan bawaan hamil bayi perempuan. Bentuk perut Ibu hamil bisa dipengaruhi oleh berat badan Ibu, posisi dan ukuran bayi, bentuk rahim, dan seberapa kencang otot perut. 

    Artikel Sejenis

  • Mitos: Jantung bayi berdetak lebih cepat

    Sebenarnya detak jantung bayi tidak bisa dibedakan berdasarkan tanda bawaan hamil bayi perempuan maupun bayi laki-laki, Bu. 

  • Mitos: Muncul jerawat

    Sejauh ini belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa bawaan hamil bayi perempuan menyebabkan kulit Ibu lebih berjerawat. Justru kondisi kulit dipengaruhi oleh hormon, kesehatan, dan kebiasaan Ibu merawat diri. 

  • Mitos: Lebih sering mengidam makanan manis

    Hingga kini tidak ada penelitian yang menunjukkan bawaan hamil bayi perempuan menyebabkan Ibu jadi ngidam makanan manis. Selama kehamilan, selera makan Ibu bisa berubah akibat faktor hormon yang memengaruhi indra pengecapnya. 

  • Mitos: warna urine lebih cerah

    Padahal, warna urine Ibu bukan jadi pertanda bawaan hamil bayi perempuan karena warna urine dipengaruhi oleh hidrasi, infeksi, vitamin, atau diet yang dilakukan Ibu hamil.

Dari mitos-mitos di atas dapat disimpulkan bahwa tanda bawaan hamil bayi perempuan tidak bisa sepenuhnya terlihat secara kasat mata atau dirasakan secara langsung oleh Ibu. Pada beberapa kondisi, banyak pula Ibu hamil bayi perempuan yang justru tidak merasakan kondisi-kondisi di atas. Bahkan, sampai saat ini pun belum ada penelitian yang menunjukkan kondisi tersebut merupakan bawaan hamil bayi perempuan. Lantas, bagaimana caranya Ibu mengetahui bawaan hamil bayi perempuan dengan tepat? 

Baca juga: 8 Cara Memancing Kontraksi Agar Cepat Melahirkan

Cara Mengetahui Jenis Kelamin Bayi yang Lebih Akurat

Daripada percaya dengan mitos-mitos seputar bawaan hamil bayi perempuan di atas, sebaiknya Ibu memahami bagaimana cara mengetahui jenis kelamin yang lebih akurat. Nah, cara yang lebih tepat untuk mengidentifikasi jenis kelamin bayi dalam kandungan bisa dilakukan dengan cara-cara berikut ini: 

  1. Ultrasonografi (USG)

    Berbeda dengan mitos bawaan hamil bayi perempuan, ultrasonografi (USG) menjadi salah satu tes kehamilan yang sedikit lebih akurat dan bisa Ibu lakukan saat usia kehamilan sekitar 18-21 minggu. 

    Ultrasonografi (USG) adalah tes prenatal rutin yang dilakukan dengan cara memindai perut Ibu hamil menggunakan gelombang suara untuk menggambarkan janin. Tes ini sering digunakan untuk memeriksa kesehatan dan tumbuh kembang bayi dalam kandungan. Sementara, tes USG untuk mendeteksi jenis kelamin bayi paling cepat bisa dilakukan pada minggu ke-14. Hasil USG jenis kelamin bayi akan lebih akurat pada minggu tersebut karena jenis kelamin bayi umumnya belum bisa dibedakan saat USG di bawah usia kehamilan 14 minggu. 

    Meski demikian, tes ini bisa saja tidak 100% akurat jika bayi berada dalam posisi yang sulit untuk dilihat dengan jelas alat kelaminnya. Selain itu, akurasi USG untuk mendeteksi jenis kelamin juga bisa saja berkurang jika Ibu hamil kembar atau Ibu mengalami obesitas. Hal ini membuat Ibu harus melakukan USG lagi di lain waktu untuk melihat kembali jenis kelamin buah hati. 

  2. Non-Invasive Prenatal Test (NIPT)

    Karena bawaan hamil bayi perempuan maupun laki-laki sebenarnya tidak ada. Maka dari itu, Ibu perlu mengetahui jenis kelamin bayi dengan bantuan dokter. Salah satunya dengan melakukan tes Non-Invasive Prenatal Test (NIPT). NIPT adalah tes darah untuk mendeteksi kelainan kromosom saat kehamilan memasuki usia 10 minggu.

    Biasanya Ibu hamil membutuhkan tes NIPT jika berisiko tinggi sedang hamil bayi dengan kelainan kromosom, pernah melahirkan bayi dengan kelainan , atau jika Ibu hamil berusia di atas 35 tahun. 

    Penelitian dari Journal of American Medical Association menemukan bahwa tes NIPT memiliki tingkat akurasi sebesar 95-99% untuk menentukan jenis kelamin bayi dalam kandungan. Tes NIPT dipercaya lebih akurat dalam mendeteksi bayi laki-laki lho, Bu. Hal ini karena normalnya laki-laki memiliki kromosom XY. Sebab, bila sampel darah kekurangan kromosom Y, berarti Ibu tidak sedang hamil bayi laki-laki. 

  3. Amniosentesis

    Amniosentesis merupakan tes yang dapat membantu mendeteksi masalah pada perkembangan janin sekaligus mendeteksi jenis kelamin bayi. Cara mengetahui jenis kelamin bayi dilakukan dengan cara mengumpulkan sedikit cairan ketuban yang mengandung sel-sel yang menunjukkan kelainan.

    Biasanya dokter akan merekomendasikan tes ini jika USG mendeteksi adanya kelainan pada janin, jika Ibu hamil berusia lebih dari 35 tahun saat melahirkan, atau jika Ibu memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kromosom. Tes Amniosentesis biasanya dapat dilakukan saat kehamilan berusia sekitar 15-18 minggu.

  4. Chorionic villus sampling (CVS)

    Chorionic Villus Sampling (CVS) adalah salah satu tes genetik yang dilakukan untuk mendeteksi kelainan genetik atau kromosom pada janin. Tes CVS dilakukan dengan mengambil sampel vilus korionik, yaitu jenis jaringan pada plasenta. 

    Tes ini dapat menunjukkan informasi genetik tentang janin, sehingga Ibu juga dapat mengetahui jenis kelamin buah hati. Biasanya tes CVS bisa dilakukan saat kehamilan berusia sekitar 10-12 minggu. 

    Namun, tes CVS tidak bisa dilakukan sembarangan ya, Bu. Dokter biasanya akan merekomendasikan Ibu untuk melakukan tes CVS jika berusia di atas 35 tahun saat melahirkan atau memiliki riwayat keluarga dengan kelainan kromosom. 

    Meskipun CVS termasuk tes yang akurat untuk mengetahui jenis kelamin bayi, akan tetapi tes ini memiliki beberapa risiko yang bisa dialami oleh Ibu, seperti kram, pendarahan, bocor ketuban, dan lainnya. Oleh karena itu, pemeriksaan seputar kehamilan perlu dikonsultasikan sejak awal dengan dokter kandungan untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan ya, Bu. 

Berbicara mengenai bawaan hamil bayi perempuan maupun bayi laki-laki, serta cara mengetahui jenis kelamin buah hati, sebaiknya Ibu perlu menjaga kesehatan diri sendiri dan janin sejak trimester awal. Apapun jenis kelaminnya, Ibu tetap harus memenuhi asupan nutrisi yang tepat agar tumbuh kembang bayi lebih optimal. Pastikan Ibu mengonsumsi makanan yang direkomendasikan untuk Ibu hamil, seperti susu Frisian Flag MAMA.

Susu Frisian Flag MAMA bisa menjadi nutrisi tambahan untuk Ibu hamil karena mengandung protein, karbohidrat, lemak, kalsium, serat pangan (inulin), serta 29 vitamin dan mineral lainnya untuk mendukung kesehatan Ibu dan tumbuh kembang bayi dalam kandungan hingga setelah lahir.