Whatsapp Share Like Simpan

Menebak ciri hamil bayi laki-laki terkadang masih sering dilakukan oleh sebagian Ibu selama masa kehamilan. Tak sedikit yang menerka-nerka ciri hamil bayi laki-laki berdasarkan mitos yang sudah beredar di masyarakat sejak dahulu. Padahal, untuk memprediksi jenis kelamin bayi dalam kandungan, Ibu hanya bisa melakukannya dengan cara ultrasonografi (USG) pada usia kehamilan tertentu. Sementara, mengetahui ciri hamil bayi laki-laki melalui mitos yang beredar justru hanya akan membuat Ibu keliru. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk mengetahui mitos dan fakta seputar ciri hamil bayi laki-laki yang sudah dipercaya oleh banyak kalangan.

Mitos dan Fakta Seputar Ciri Hamil Bayi Laki-laki

Berikut ini beberapa mitos dan fakta seputar ciri hamil bayi laki-laki yang perlu Ibu ketahui, di antaranya: 

  • Mitos: Tidak terlalu merasakan morning sickness dianggap ciri hamil bayi laki-laki

    Banyak yang menganggap ciri hamil bayi laki-laki terlihat ketika Ibu tidak terlalu merasakan morning sickness selama kehamilan. Morning sickness adalah kondisi mual dan muntah yang biasanya dialami oleh Ibu hamil di trimester awal atau 3 bulan kehamilan. Faktanya, Morning sickness termasuk kondisi yang umum terjadi pada Ibu hamil karena adanya perubahan hormon selama kehamilan. Kondisi ini tidak ada hubungannya dengan ciri hamil bayi laki-laki atau perempuan. Setiap Ibu akan merasakan morning sickness yang berbeda, meskipun ia mengandung bayi perempuan. Oleh karena itu, morning sickness tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan jenis kelamin bayi dalam kandungan.

  • Mitos: Perut ibu hamil bulat sempurna dianggap ciri hamil bayi laki-laki

    Ibu sering mendengar anggapan perut hamil yang berbentuk bulat sempurna termasuk ciri hamil bayi laki-laki? Anggapan tersebut ternyata hanya mitos belaka lho, Bu. Faktanya, sebuah studi yang diterbitkan Jurnal Birth menyatakan bahwa jenis kelamin bayi dalam kandungan tidak bisa diprediksi oleh bentuk perut ibu hamil. Bentuk perut setiap Ibu hamil berbeda karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perubahan postur tubuh, berat badan, ukuran bayi, bentuk rahim, seberapa kencang otot perut, dan apakah itu kehamilan pertama atau bukan. Melansir dari laman resmi parents.com, mitos ciri hamil bayi laki-laki tersebut sama sekali tidak teruji klinis dalam dunia medis, sehingga jika Ibu ingin mengetahui jenis kelamin si Kecil, sebaiknya melakukan USG, tes darah DNA janin, atau uji genetik. 

  • Mitos: Ciri hamil bayi laki-laki yaitu Ibu tidak berjerawat

    Mitos ciri hamil bayi laki-laki yang satu ini pun dipercaya oleh sebagian Ibu. Padahal, faktanya, mitos ini juga tidak teruji klinis dan tidak diakui dalam dunia medis. Bagi sebagian Ibu hamil, jerawat mungkin saja muncul karena adanya perubahan hormon dan kulit yang kurang terawat selama masa kehamilan. Bahkan, ada pula Ibu hamil yang mengandung bayi laki-laki justru berjerawat karena kondisi kulit yang kurang baik. 

    Artikel Sejenis

  • Mitos: Ibu ngidam makanan asam atau asin? Itu dianggap ciri hamil bayi laki-laki

    Jika Ibu mengidam makanan yang asam atau asin, dianggap sebagai ciri hamil bayi laki-laki. Faktanya, menurut ahli gizi dari Texas A&M School of Public Health, Taylor Newhouse menyatakan bahwa mengidam makanan tidak bisa dijadikan tolak ukur sebagai ciri hamil bayi laki-laki. Akan tetapi, Ibu tetap harus memahami tanda mengidam makanan sebagai sinyal kebutuhan tubuh selama hamil. Misalnya, saat Ibu hamil sedang mengidam makanan asin, kemungkinan besar tubuh Ibu sedang membutuhkan lebih banyak asupan lemak sehat. 

  • Mitos: Warna urine lebih gelap dianggap ciri hamil bayi laki-laki

    Tak sampai di situ lho, Bu, mitos ciri hamil bayi laki-laki pun sering dikaitkan dengan perubahan warna urine yang lebih gelap. Faktanya, warna urine Ibu hamil berubah selama kehamilan. Urine yang berwarna gelap bisa jadi tanda tubuh Ibu mengalami dehidrasi. Kondisi ini biasanya muncul karena morning sickness. Namun, warna urine Ibu hamil juga bisa berubah karena faktor asupan cairan, makanan, adanya infeksi, obat-obatan, dan suplemen. 

  • Mitos: Payudara kanan lebih besar dibandingkan payudara kiri

    Mitos selanjutnya yang sering dipercaya oleh banyak Ibu hamil yaitu mengenai perbedaan ukuran payudara selama masa kehamilan. Faktanya, perubahan hormonal selama kehamilan dapat meningkatkan aliran darah dan menyebabkan adanya perubahan pada jaringan payudara, sehingga membuat ukurannya terlihat lebih besar. Payudara cenderung membengkak saat mempersiapkan suplai ASI untuk bayi setelah lahir. Namun, tidak ada bukti dalam dunia medis yang menunjukkan perubahan ukuran payudara dikaitkan dengan jenis kelamin bayi. 

  • Mitos: Penambahan berat badan hanya di bagian perut

    Mitos mengenai tanda hamil bayi laki-laki sering dikaitkan dengan penambahan berat badan di bagian perut. Banyak Ibu yang percaya bahwa saat mengandung bayi laki-laki, maka berat badannya hanya akan bertambah di bagian perut saja. Sementara, saat mengandung bayi perempuan, berat badannya akan bertambah di seluruh bagian tubuh. Mitos ini sudah jelas keliru ya, Bu. Faktanya, sebagian besar Ibu akan mengalami kenaikan berat badan selama kehamilan. Kondisi penambahan berat badan ini dikaitkan sebagai tanda kehamilan yang sehat, bukan penentuan jenis kelamin bayi dalam kandungan. 

Cara Memprediksi Jenis Kelamin Bayi 

Dibandingkan percaya dengan mitos seputar ciri hamil bayi laki-laki, alangkah lebih baiknya jika Ibu mengetahui cara lain untuk memprediksi jenis kelamin bayi. Lantas, kapan Ibu bisa mengetahui jenis kelamin si Kecil? Banyak Ibu hamil yang baru mengetahui jenis kelamin bayi yang dikandungnya di antara minggu ke-16 sampai 20. Berikut ini beberapa cara memprediksi jenis kelamin bayi, di antaranya:

  1. Ultrasonografi (USG)

    Ultrasonografi (USG) adalah tes prenatal rutin yang dilakukan dengan cara memindai perut Ibu hamil menggunakan gelombang suara untuk menggambarkan janin. Tes USG sering digunakan untuk memeriksa perkembangan dan kesehatan bayi. Selain mengetahui detak jantung, USG juga bisa digunakan sebagai cek jenis kelamin bayi. 

  2. Non-invasive prenatal test (NIPT)

    Ibu juga bisa memprediksi jenis kelamin bayi dengan melakukan tes NIPT, yaitu tes darah yang dilakukan untuk mendeteksi kelainan kromosom mulai dari 10 minggu kehamilan. Dalam tes ini, Ibu akan memberikan sampel darah yang kemudian diperiksa di laboratorium terkait dengan DNA janin. Meskipun istilah tes ini masih jarang terdengar, namun tes NIPT dapat secara akurat menentukan jenis kelamin bayi. Bahkan, tes ini tidak menimbulkan risiko apapun bagi Ibu maupun janin dalam kandungan. 

  3. Amniosentesis

    Amniosentesis merupakan tes yang dapat membantu mendeteksi masalah pada perkembangan janin. Cara kerja tes ini yaitu dengan mengumpulkan sedikit cairan ketuban yang mengandung sel-sel yang menunjukkan kelainan. Sel-sel ini nantinya akan menentukan kondisi down syndrome, spina bifida, dan kondisi genetik lainnya. 

  4. Chorionic villus sampling (CVS)

    Tes CVS juga termasuk tes yang digunakan untuk mendeteksi kelainan genetik atau kromosom. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel vilus korionik yang merupakan jenis jaringan pada plasenta. Meskipun tes CVS dapat mengetahui kondisi genetik dan memprediksi jenis kelamin secara akurat, namun terdapat beberapa risiko yang mungkin terjadi, seperti pendarahan, kram, dan lainnya. 

Selain mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandungan, penting bagi Ibu untuk memantau perkembangan si Kecil hingga setelah melahirkan. Kondisi kesehatan dan tumbuh kembangnya akan ditentukan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah asupan nutrisi yang dikonsumsi Ibu hamil. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk mengonsumsi Frisian Flag MAMA sebagai nutrisi tambahan yang mengandung protein, serat pangan, asam folat, zat besi, serta kalsium. Susu kaya akan nutrisi ini dapat memenuhi kebutuhan Ibu dan si Kecil dalam kandungan hingga setelah lahir.