Whatsapp Share Like
Simpan

Sudah semestinya jika orang tua memprioritaskan tumbuh kembang anak. Sebagai orang tua, kita pasti berharap agar sang buah hati dapat tumbuh sehat dan normal sesuai usia mereka. Dari awal masa pertumbuhan emas (golden age) yaitu pada usia 1-5 tahun, orang tua perlu memberikan perhatian khusus pada proses tumbuh kembang anak. Hal ini dikarenakan masa ini adalah masa-masa dimana anak berkembang dengan sangat cepat. Oleh karenanya, wajar jika sebagai orang tua kita merasa khawatir mengamati pertumbuhan anak yang terlihat lambat. 

Untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak, tidak cukup bagi orang tua untuk sebatas memperhatikan tinggi dan berat badan mereka saja. Perkembangan otak, kemampuan kognisi, kesehatan fisik dan mental juga perlu menjadi poin penting yang perlu dipantau. Proses tumbuh kembang yang baik, tentu akan memberikan dampak yang besar dalam mendukung tahap selanjutnya ketika mereka mulai masuk ke bangku sekolah. Agar Ibu dapat lebih memberikan yang terbaik bagi si kecil, berikut adalah 8 penyebab yang membuat tumbuh kembang anak tidak sesuai dengan usianya:

1. Kurang Asupan Protein

Protein merupakan salah satu sumber makronutrien yang sangat dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang besar. Protein ini terdiri dari asam amino yang dibagi kedalam dua jenis, yaitu asam amino esensial dan asam amino non-esensial. Asam amino non-esensial adalah asam amino yang dapat dihasilkan secara mandiri oleh tubuh, sementara asam amino esensial merupakan asam amino yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh dengan sendirinya. Asam amino esensial inilah yang perlu kita dapatkan dari makanan yang kita konsumsi.

Dalam mengawasi proses tumbuh kembang anak, sangat penting untuk memperhatikan tercukupinya kebutuhan protein anak. Kebiasaan menjadikan nasi sebagai makanan pokok perlu diimbangi dengan sayur dan lauk yang beragam. Dengan begitu, anak tidak hanya mendapatkan asupan karbohidrat yang dapat berpotensi kepada kegemukan dan kurang semangat apabila terlalu banyak. 

Kurangnya protein dapat menyebabkan gejala kurang protein (KEP) pada anak. Anak yang kekurangan protein tidak memiliki sistem imun dan pencernaan yang sempurna. Hal ini dikarenakan protein memegang peran penting dalam menyusun, menjaga, dan mengganti jaringan tubuh yang rusak. 

Artikel Sejenis

Untuk memastikan tumbuh kembang anak dapat berlangsung maksimal, orang tua dapat memberikan berbagai sumber makanan yang mengandung protein. Sumber protein terdiri dari dua yaitu protein nabati dan protein hewani. Ibu dapat memberikan makanan seperti daging, telur, susu, serta ikan sebagai sumber protein hewani. Makanan tersebut dapat dilengkapi dengan kacang-kacangan, tahu, dan tempe yang juga menjadi sumber protein nabati.

2. Kurang Olahraga

Aktivitas olahraga menjadi kebutuhan vital tidak hanya bagi orang dewasa, namun juga bagi para balita. Aktivitas fisik dapat membantu pertumbuhan tulang dan otot, mengasah kemampuan motorik, serta meningkatkan kebugaran dan kekebalan tubuh. Pada proses tumbuh kembang anak, olahraga yang dilakukan sejak dini dapat membantu  mengurangi resiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, darah tinggi, obesitas, hingga kanker. 

Selain itu, kebugaran fisik juga membantu proses tumbuh kembang anak menjadi pribadi yang percaya diri dan sehat secara psikologis. Dengan rajin berolahraga, anak akan belajar bagaimana cara mengolah kepedulian terhadap diri sendiri. Olahraga yang teratur tentunya juga dapat dirasakan dampaknya secara nyata sehingga dalam proses tumbuh kembang anak, orang tua juga secara tidak langsung mengenalkan rasa puas atas pencapaian dari hasil jerih payahnya sendiri. 

Dengan mengenalkan dan menerapkan pentingnya olahraga sejak dini, orang tua juga dapat mencegah kecenderungan anak untuk terlalu tergantung kepada gawai. Pada akhirnya, manfaat-manfaat tersebut nantinya akan sangat berguna dalam mendukung perkembangan dan kesuksesan akademis sang anak.

Olahraga bagi anak dapat diajarkan melalui cara-cara yang bersifat menyenangkan. Orang tua dapat membawa anak-anak mereka ke tempat-tempat seperti taman atau wahana bermain. Dengan begitu, anak-anak dapat bersenang-senang, bersosialisasi, sekaligus menstimulasi berbagai aktivitas yang dapat melatih kemampuan fisik.

3. Rewel Saat Makan

Masa balita memang menjadi masa dimana tumbuh kembang anak menjadikan mereka aktif dan enerjik. Seringnya anak ingin melakukan banyak sekali kegiatan yang bermacam-macam, sehingga pada saat waktunya makan tidak jarang orang tua kesulitan mengingatkan sang buah hati. 

Masalah seperti ini tentu saja dapat menimbulkan kekhawatiran, pasalnya jika aktivitas anak tidak diimbangi dengan asupan makanan lama-kelamaan mereka dapat jatuh sakit. Oleh karenanya pola makan teratur perlu diterapkan semenjak masa tumbuh kembang anak pada usia dini.

Untuk mengatasi hal tersebut, ibu dapat menerapkan beberapa trik yang dapat membantu mengatasi permasalahan anak rewel pada saat makan. Hal pertama yang dapat dibiasakan kepada anak adalah dengan menetapkan waktu jam makan bersama. Kegiatan makan yang dilakukan bersama dapat melatih anak memahami waktu makan sebagai rutinitas yang perlu dilakukan ketimbang melihatkan sebagai aktivitas yang mengganggu waktu bermainnya. Akan lebih baik jika orang tua dapat menerapkan waktu makan pada jam yang sama secara rutin setiap harinya. Jangan ragu untuk mengajak teman si kecil untuk ikut makan bersama, jika waktu makan datang di tengah-tengah waktu sang anak sedang bermain dengan temannya.

Trik lain yang juga dapat diterapkan adalah dengan memberikan makanan dimulai pada porsi yang kecil. Di masa tumbuh kembang anak, orang tua tentu perlu memberikan makanan yang beragam agar anak tidak hanya menyukai makanan tertentu. 

Sangat penting bagi orang tua untuk menerapkan semacam siklus terhadap makanan yang dikonsumsi anak untuk memastikan keseimbangan gizi. Oleh karenanya, orang tua dapat memulai memperkenalkan makanan baru dalam porsi yang kecil sehingga anak tidak merasa jenuh terlebih dahulu. 

Makanan-makanan baru juga dapat disajikan kepada anak bersamaan dengan makanan-makanan yang anak sukai, terlebih jika si kecil terlihat memiliki kecenderungan menyukai makanan tertentu. 

4. Kurang Tidur

Tidur merupakan kebutuhan pokok. Utamanya bagi balita, tidur menjadi kegiatan yang sangat penting dalam mendukung proses tumbuh kembang anak. Bagi si kecil, waktu tidur merupakan waktu untuk beristirahat, waktu mengganti bahan kimia, serta waktu bagi otak untuk menyaring, menyimpan dan memecahkan informasi. Waktu tidur yang cukup dapat membantu proses belajar serta menjaga berat badan anak agar tetap ideal. Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan waktu tidur anak dan memastikan kebutuhan tidur mereka tercukupi. 

Untuk mendapatkan tidur yang berkualitas, Anak membutuhkan tidur sebanyak 10-13 jam per hari. Kurangnya jumlah tidur dapat berpengaruh kepada proses tumbuh kembang anak serta sistem kekebalan tubuh mereka. Anak yang tidur kurang dari 9 jam per hari bahkan lebih menunjukkan kecenderungan impulsif, gampang marah, hingga tantrum.

5. Sering Sakit

Anak yang sering sakit memang selalu membuat setiap orangtua merasa khawatir. Saat sakit anak menjadi tidak nafsu makan dan sulit tidur, padahal keduanya sangat penting untuk membuat anak berkembang semestinya. Ibu harus memberikan asupan gizi yang cukup bagi si Kecil. Selain itu jangan lupa untuk menyertakan vitamin untuk membuat anak memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat terhadap serangan virus dan bakteri dari luar.

Orang tua juga perlu memperhatikan pentingnya imunisasi selama proses tumbuh kembang anak. Jangan ragu untuk mencari informasi seputar kesehatan anak dan mengikuti kegiatan posyandu. Dengan memiliki pengetahuan yang baik seputar imunisasi, orang tua dapat mengikuti jadwal pemberian imun sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) agar anak dapat terlindung dari penyakit-penyakit yang mengganggu proses tumbuh kembang anak.

6. Kurangnya Asupan Pengganti ASI

Selepas umur 0-24 bulan, balita memang tidak lagi bergantung kepada Air Susu Ibu (ASI) sebagai asupan mereka. Namun, proses tumbuh kembang anak pada fase ini justru lebih banyak membutuhkan asupan nutrisi untuk menjaga kesehatan. Oleh karenanya orang tua perlu memperhatikan makanan apa saja yang diberikan kepada anak selepas bergantung pada ASI. Gantilah ASI dengan makanan yang mengandung kalsium dan protein tinggi seperti keju dan yogurt. Kalsium dan protein memiliki peran penting dalam mempercepat tumbuh kembang anak sesuai usianya.

7. Paparan Gadget Terlalu Dini

Zaman yang serba canggih membuat keberadaan gawai tidak dapat dipisahkan dari aktivitas setiap individu, termasuk para orang tua. Seringnya ini kemudian membuat para orang tua dengan gampang memperkenalkan gawai kepada buah hatinya terlalu dini. Malahan, tidak jarang ada orang tua dengan sengaja menggunakan gawai sebagai jalan pintas untuk mengatasi perilaku rewel anak. Meskipun efektif, namun memberikan akses gawai kepada anak juga perlu dipertimbangkan dengan baik agar tidak sampai mengganggu tumbuh kembang anak.

Akses gawai sebaiknya dibatasi pada hal-hal yang dapat membantu tumbuh kembang anak dalam hal kognisi. Tidak semua permainan yang tersedia cocok diberikan kepada anak, baik dari segi penyajian tampilan maupun penggunaannya. Beberapa permainan mengandalkan karakter dengan desain berlebihan yang belum cocok dikonsumsi oleh buah hati. Sementara beberapa permainan memiliki desain gameplay yang membuat penggunanya kecanduan karena harus terus-menerus mengecek aplikasi agar tidak ketinggalan. Oleh karenanya sangat penting bagi orang tua untuk mengatur konten apa yang dikonsumsi oleh buah hati saat mereka berada didepan gawai. Selain itu, orang tua juga perlu membatasi waktu penggunaan gawai setiap harinya.

8. Kurang Stimulasi

Tidak semua orang dapat menikmati kemewahan mengurus anak secara ekslusif. Banyak dari orang yang masih disibukkan oleh aktivitas lain di samping harus memperhatikan perkembangan sang buah hati. Seringnya, dikarenakan kesibukan orang tua sering kali lupa memberikan perhatian yang cukup kepada anak. Orangtua yang terlalu cuek dan malas juga bisa menjadi penyebab tumbuh kembang anak kurang maksimal. Bila anak kurang stimulasi, maka mereka pun jadi tumbuh lambat. Untuk itu prioritaskan waktu untuk memberikan stimulasi bagi si Kecil ya, Bu, karena anak adalah anugerah terbesar bagi setiap orangtua. 

Begitu banyak hal yang harus dipelajari para orangtua untuk menjaga dan mendidik buah hatinya. Mengawasi tumbuh kembang anak saat usia balita merupakan awal perjalanan orangtua untuk membentuk anak demi masa depannya kelak. Dengan memperhatikan poin-poin diatas, orang tua dapat lebih tenang memastikan proses tumbuh kembang anak agar menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, cerdas dan memiliki kondisi mental yang baik. Terus semangat ya para Ibu dan Ayah!