Whatsapp Share Like Simpan

Tahukah Ibu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2018 menyebut bahwa setiap tahun terjadi 15 juta kelahiran bayi prematur di seluruh dunia. Bahkan, Indonesia menempati urutan ke-5 sebagai negara dengan kelahiran bayi prematur yang cukup tinggi. 

Jika mengacu pada data tersebut, maka kondisi ini perlu mendapat perhatian yang lebih dari para Ibu hamil. Artinya, Ibu hamil harus semakin sadar akan kesehatan janin dalam kandungan sejak trimester awal hingga akhir.

Sebab, kelahiran bayi prematur bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya faktor kesehatan Ibu, faktor kehamilan, dan faktor yang melibatkan janin. Kelahiran bayi prematur masih menjadi pemicu utama gangguan sistem saraf dan kematian pada bayi di seluruh dunia.

Tak heran jika sebagian besar Ibu merasa khawatir dan takut jika buah hatinya mengalami kelahiran prematur. Akibatnya, banyak mitos yang bermunculan dan menyebabkan kekeliruan di kalangan para Ibu. 

Nah, supaya Ibu tidak keliru dan salah kaprah, sebaiknya perlu mengetahui mitos dan fakta seputar bayi prematur dengan lebih jelas. Simak penjelasannya di bawah ini yuk!

Artikel Sejenis

Mitos: Bayi Prematur Harus Berada di Inkubator

Faktanya, dibandingkan harus berada di dalam inkubator, justru bayi sebaiknya diketahui lebih stabil secara metabolik jika berada di pelukan orang tua. Kondisi itu pun berlaku pada bayi prematur. Pelukan Ibu dengan si Kecil bisa membantu meningkatkan hubungan emosional yang baik. 

Namun, pada beberapa kondisi, ada bayi prematur yang memang perlu masuk ke inkubator terlebih dahulu. Oleh karena itu, konsultasikan dahulu dengan dokter dan tanyakan apakah si Kecil memang harus berada di inkubator atau tidak. 

Jika kondisi si Kecil sangat lemah dan berat badannya di bawah rata-rata, biasanya dokter akan menyarankan agar si Kecil masuk ke dalam inkubator untuk beberapa waktu. 

Mitos: Bayi Prematur Tidak Bisa Menyusu ASI

Anggapan tersebut kurang akurat ya, Bu. Pasalnya, tidak semua bayi prematur sulit menyusu ASI secara langsung. Faktanya, bayi prematur tetap dapat meraih payudara Ibu untuk menyusu. 

Bahkan, bagi bayi yang lahir di usia kandungan 28 minggu sekali pun. Pada beberapa kondisi, bayi yang lahir di minggu 32 justru dapat menyusu ASI dengan baik, tanpa bantuan alat tambahan, seperti botol atau selang.

Oleh karena itu, sebaiknya setelah bayi lahir, Ibu langsung mengenalkannya cara menyusu ASI. Meski terlihat mudah, tetapi cara ini akan berbeda antara masing-masing bayi prematur. Sebab, beberapa bayi prematur mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama dalam membiasakan diri untuk menyusu secara langsung tanpa bantuan apapun. .

Mitos: Semua Bayi Prematur Pertumbuhannya Terhambat

Faktanya, bayi prematur memang lahir dengan berat badan rendah dan bila kondisinya kurang baik, maka bayi akan mengalami beberapa masalah pada tumbuh kembang. Namun, tidak semua bayi prematur pertumbuhannya jadi terhambat. 

Pada kenyataannya, banyak juga bayi prematur dapat berkembang secara normal. Bahkan, sebagian bayi sudah tumbuh layaknya seperti bayi yang lahir normal. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk selalu memantau tumbuh kembang si Kecil dan konsultasi dengan dokter untuk mendeteksi komplikasi awal yang mungkin terjadi. 

Itulah beberapa mitos seputar kelahiran bayi prematur yang perlu Mums ketahui faktanya agar tidak keliru dan justru salah informasi. Setelah mengetahui mengenai mitos dan fakta di atas, sekarang saatnya Mums mengetahui lebih lanjut tentang kehamilan dan kelahiran prematur agar dapat melakukan pencegahan sedini mungkin. 

Penyebab Kelahiran Prematur

Terkadang penyebab kelahiran bayi prematur tidak diketahui secara pasti. Namun, salah satu penyebab utama yang sering muncul adalah pecahnya ketuban lebih awal yang dialami oleh Ibu hamil. 

Selain itu, faktor pemicu kelahiran prematur juga bisa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu faktor kesehatan Ibu serta faktor janin dan kehamilan. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

  • Faktor kesehatan Ibu, yang meliputi:
    • Penyakit infeksi, seperti infeksi saluran kemih, infeksi cairan ketuban, dan infeksi vagina
    • Penyakit kronis, seperti penyakit ginjal atau jantung
    • Kelainan bentuk rahim
    • Ketidakmampuan serviks menutup selama masa kehamilan (inkompetensi serviks)
    • Preeklamsia
    • Stres
    • Kebiasaan merokok sebelum dan selama masa kehamilan
    • Penyalahgunaan NAPZA
    • Pernah mengalami kelahiran prematur sebelumnya
  • Faktor janin dan kehamilan, yang meliputi:
    • Kelainan atau menurunnya fungsi ari-ari
    • Kelainan posisi ari-ari
    • Ari-ari yang lepas sebelum waktunya
    • Terlalu banyak cairan ketuban
    • Ketuban pecah lebih awal
    • Kehamilan kembar
    • Kelainan darah pada janin

Gejala Kelahiran Prematur

Biasanya gejala kelahiran prematur mirip dengan gejala yang Ibu rasakan saat mau melahirkan. Namun, untuk memastikan gejala kelahiran prematur tidak berbahaya bagi Ibu hamil dan janin, maka Ibu dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Berikut ini beberapa gejala kelahiran prematur:

  • Mual, muntah, hingga diare
  • Kram dan nyeri di perut bagian bawah
  • Kontraksi setiap 10 menit
  • Keluar cairan dan lendir dari vagina yang semakin banyak
  • Perdarahan vagina
  • Tekanan di bagian panggul dan vagina

Baca juga: 8 Cara Memancing Kontraksi Agar Cepat Melahirkan

Ciri-ciri Bayi Prematur

Seperti yang telah dijelaskan, bayi yang lahir prematur akan terlihat berbeda dari bayi yang lahir normal. Tubuh bayi prematur cenderung berukuran kecil dengan ukuran kepala yang sedikit lebih besar. Selain itu, Ibu juga bisa melihat ciri bayi prematur dari tanda berikut ini:

  • Bayi yang lahir prematur biasanya diselimuti bulu halus yang tumbuh lebat di seluruh tubuh
  • Bentuk mata tidak sebulat bayi normal karena kekurangan lemak tubuh
  • Suhu tubuh yang rendah
  • Sulit bernapas karena perkembangan paru yang belum sempurna
  • Belum bisa mengisap dan menelan dengan sempurna, sehingga sulit menerima asupan makanan

Pencegahan Kelahiran Prematur

Setelah mengetahui beberapa penyebab dan gejala kelahiran prematur, penting bagi Ibu hamil untuk mulai melakukan pencegahan. 

Hal ini penting dilakukan untuk membantu Ibu untuk terhindar dari risiko kelahiran prematur. Berikut adalah beberapa cara mencegah kelahiran bayi prematur yang bisa Ibu lakukan:

  • Rutin lakukan pemeriksaan kehamilan

    Dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, maka dokter dapat memantau kesehatan Ibu hamil dan janin dalam kandungan. Selain itu, dokter juga akan mendeteksi apakah ada kelainan yang mungkin terjadi selama kehamilan. 

  • Hindari paparan bahan kimia berbahaya

    Ibu hamil sebaiknya menghindari paparan bahan kimia berbahaya, seperti asap rokok, makanan kaleng, perawatan kulit dan kosmetik yang tidak aman, alkohol, dan NAPZA. 

    Namun, jika Ibu masih ingin menggunakan perawatan kulit dan kosmetik, pastikan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui jenis produk yang aman sesuai kondisi kesehatan Ibu. 

  • Pertimbangkan jarak kehamilan

    Tahukah Ibu bahwa jarak kehamilan terakhir dengan kehamilan selanjutnya bisa memengaruhi kelahiran janin lho. Pasalnya, kehamilan yang hanya berjarak kurang dari 6 bulan dari persalinan terakhir dapat meningkatkan kelahiran prematur.

  • Konsumsi makanan kaya akan kalsium

    Kalsium termasuk salah satu nutrisi yang dapat mengurangi risiko kelahiran prematur. Asupan zat gizi ini bisa Ibu dapatkan dari sumber makanan kaya akan kalsium, seperti susu, yoghurt, keju, makanan laut, sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, dan makanan yang diperkaya kalsium. 

Oleh sebab itu, Ibu sebaiknya mengonsumsi susu khusus Ibu hamil yang kaya akan nutrisi demi mendukung kesehatan janin dalam kandungan. Susu Frisian Flag MAMA bisa jadi solusi untuk Ibu hamil dan Ibu menyusui karena mengandung protein, serat pangan, vitamin B9 (asam folat), zat besi, dan kalsium untuk mendukung kesehatan Ibu dan si Kecil selama di dalam kandungan hingga setelah lahir. 

Namun, pada beberapa kondisi, mungkin ada Ibu hamil yang memerlukan tambahan suplemen kalsium untuk mengurangi risiko kelahiran prematur. Pastikan Ibu konsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui takaran yang tepat dan aman sebelum mengonsumsi suplemen ini.