Whatsapp Share Like
Simpan

Ibu merasa si Kecil susah belajar? Sudah berkali-kali diajari dengan tekun untuk membaca dan menulis tapi ia tidak bisa juga? Bisa jadi ia menderita disleksia, Bu.

Disleksia merupakan suatu gangguan belajar yang paling banyak menyerang anak di dunia. Supaya tidak terus berlanjut dan membuat si Kecil kesulitan belajar, Ibu pun perlu tahu apa saja ciri-ciri, penyebab, dan cara menanganinya. Ibu bisa melihat semua informasi tersebut dari uraian di bawah ini:

Apa Itu Disleksia?

Disleksia merupakan sejenis penyakit mental yang menyebabkan anak-anak mengalami kesulitan dalam mengeja, membaca, menulis, atau berbicara dengan lancar. Si Kecil yang mengalami disleksia akan membutuhkan usaha ekstra keras untuk bisa mempelajari semua keterampilan tersebut.

Si Kecil mungkin memiliki kemampuan berpikir dan kreativitas yang sangat baik. Sayangnya, kemampuan suara dan visualnya kurang baik sehingga ia akan kesulitan dalam mempelajari keterampilan yang membutuhkan penglihatan dan pendengaran. Akibatnya, ia pun akan memerlukan waktu lebih lama dalam belajar.

Sebagai contoh ketika si Kecil membaca, sinyal dari huruf-huruf yang dilihat oleh matanya akan dikirimkan ke otak sebagai sistem saraf pusat. Setelah itu, otak akan merangkai huruf-huruf tersebut dalam urutan yang benar sampai membentuk kata, kalimat, dan paragraf yang dapat ia baca dan pahami. Namun bagi penderita disleksia, ia akan kesulitan untuk mencocokkan huruf-huruf tersebut sehingga sulit baginya untuk memahami tulisan yang dilihatnya.

Artikel Sejenis

Penyebab Disleksia

Disleksia masih belum diketahui penyebabnya secara pasti, tapi peneliti menyimpulkan bahwa penyebabnya secara umum adalah sebagai berikut:

  • Faktor genetik. Penderita disleksia kemungkinan mengalami cacat gen DCD2 yang merupakan turunan dari anggota keluarga. Hal ini dapat terlihat dari cerebrum (bagian otak yang mengontrol aktivitas bergerak dan berpikir) yang tidak berfungsi.
  • Mengalami cedera atau gangguan lainnya. Si Kecil mungkin juga mengalami cedera atau gangguan lainnya saat persalinan, seperti cedera otak, trauma, atau stroke.

Gangguan belajar ini sangat umum dialami oleh anak-anak dan hampir menyerang 20% populasi jumlah penduduk dan menjadi 80-90% penyebab kesulitan belajar pada anak-anak.

Baca juga: 5 Cara Mengajari Anak Membaca Tanpa Mengeja dengan Cepat

Ciri-ciri Si Kecil Mengalami Disleksia

Bila si Kecil mengalami disleksia, ia akan menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut, Bu:

  • Lambat dalam berbicara. Si Kecil juga akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk bisa berbicara. Ia akan kesulitan membedakan bunyi kata yang berbeda, sering salah dalam mengucapkan kata, atau sering lupa dengan pelajaran yang sudah ia pelajari sebelumnya.
  • Sulit belajar membaca. Coba perhatikan si Kecil saat ia belajar membaca, Bu. Jika ia sering terlihat berusaha keras dalam belajar membaca, sulit mengucapkan huruf atau angka, lama dalam mempelajari huruf, atau terbalik dalam meletakkan mainan huruf, kemungkinan besar ia mengalami kondisi tersebut. Namun hal ini masih bisa ditangani dengan memberikan pengajaran yang tepat.
  • Sulit dalam mengkoordinasikan anggota tubuhnya. Si Kecil yang memiliki disleksia kurang bisa mengkoordinasikan anggota tubuhnya sehingga ia sering terlihat lemah dibandingkan teman seusianya. Ia akan kesulitan menangkap bola karena koordinasi mata dan tangannya kurang baik.

Pada kondisi yang sangat buruk, si Kecil juga mungkin bisa mengalami kondisi lainnya, seperti dispraksia yaitu gangguan yang menyebabkan si Kecil kesulitan dalam menggerakkan tubuhnya sendiri.

  • Terlambat menguasai berbagai keterampilan. Berbagai keterampilan seperti merangkak, berjalan, berbicara, dan keterampilan lainnya juga akan dikuasai dalam waktu yang lebih lama dibandingkan anak lain yang seusia dengannya.
  • Sulit fokus. Si Kecil biasanya sulit untuk fokus pada suatu hal sehingga dapat mempersulitnya dalam belajar dan memahami sesuatu.
  • Sistem imun lemah. Beberapa anak juga mungkin memiliki sistem imun yang kurang kuat, sehingga akan sering terkena penyakit, seperti demam dan memiliki eksim, asma, atau alergi.

Bagaimana Cara Menanganinya?

Disleksia tidak dapat disembuhkan dengan obat. Peran orang tua lah yang bisa mempermudah buah hatinya dalam belajar agar tidak tertinggal dari anak lainnya. Ibu bisa membawa si Kecil ke psikolog atau konsultan pendidikan untuk mendapatkan terapi. Di samping itu, Ibu juga bisa membantu meningkatkan kemampuan belajar si Kecil dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Terapkan teknik belajar yang disesuaikan dengan kondisi si Kecil. Penderita disleksia tidak bisa belajar dengan teknik belajar seperti anak lainnya. Jadi Ibu bisa membantu meningkatkan kemampuan membaca si Kecil dengan menerapkan metode belajar yang lebih melibatkan kemampuannya dalam melihat, mendengar, dan merasakan. Bila perlu, Ibu bisa mendaftarkan si Kecil ke tempat yang khusus membantu anak-anak yang bermasalah dalam belajar membaca dan terapkan juga di rumah.
  • Berikan si Kecil dukungan sepenuhnya. Terus dukung buah hati untuk belajar membaca dengan cara sebagai berikut:
    • Pilih buku bacaan yang si Kecil sukai.
    • Luangkan waktu untuk membacakan si Kecil buku cerita.
    • Latih si Kecil membaca dengan buku bersuara.
    • Lakukan permainan tebak kata setelah membaca buku bersama.
    • Ciptakan suasana yang menyenangkan saat membaca buku agar ia tidak merasa bosan atau terpaksa untuk belajar membaca.
  • Bebaskan hobi dan minatnya. Si Kecil juga tetap harus diberi kebebasan dalam menjalani hobi dan minat yang ia miliki selama hal tersebut positif. Bisa jadi ia memiliki kekurangan dalam belajar tapi unggul di bidang lainnya, Bu. Jika dikembangkan dan dilatih dengan baik, keunggulannya tersebut bisa membawanya meraih kesuksesan.
  • Tunjukkan rasa sayang dan perhatian. Dukungan juga bisa ditunjukkan dengan selalu memberikan rasa sayang dan perhatian pada si Kecil. Saat ia memperlihatkan kemajuan dalam belajar, berikan ia pujian. Ibu juga perlu meningkatkan kepercayaan diri si Kecil dengan memberikan pemahaman terhadap kondisinya sendiri supaya ia tidak merasa ia tidak beruntung atau lebih buruk dibandingkan anak lainnya. Yakinkan ia kalau ia juga mampu dan tidak kalah dari teman-temannya sehingga ia tidak akan merasa minder.

Jadi, sudah tahu tentang disleksia kan, Bu? Belum terlambat untuk mendukung si Kecil untuk membaca, menulis, maupun keterampilan lainnya. Tetap semangat dalam mengajari si Kecil ya, Bu. Semoga ia bisa cepat belajar dan tidak tertinggal dari teman-temannya.

Laman Tanya Pakar dapat menjadi tempat untuk Ibu berkonsultasi langsung dengan pakar, termasuk soal tumbuh kembang anak Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, jangan lupa untuk registrasi dulu ya, Bu.

Sumber:

Hellosehat