Whatsapp Share Like Simpan

Anak tantrum menjadi salah satu masalah yang sering dihadapi oleh Ibu yang memiliki balita. Tak jarang Ibu mengalami kesulitan dalam mengatasi anak tantrum, apalagi di depan umum. Sebab, anak yang tantrum biasanya akan emosi, marah-marah, dan menangis hingga kencang, bahkan ada yang sampai berguling-guling di lantai dan melemparkan barang. 

Ibu pasti bingung dan panik saat melihat anak tantrum seperti itu, bukan? Namun Ibu tidak perlu khawatir ya, kondisi ini sebenarnya normal dialami oleh anak-anak. Untuk mengatasinya, Ibu perlu tahu juga mengenai fase dan penyebab anak tantrum. Simak penjelasannya di bawah ini yuk!

Apa itu Tantrum?

Tantrum adalah suatu kondisi ledakan emosi pada anak yang ditandai dengan sikap keras kepala, marah, menangis histeris, menjerit, hingga membangkang. Terkadang, anak tantrum juga disertai dengan aktivitas motorik yang sulit ditenangkan, seperti memukul, membanting barang, atau berguling-guling di lantai. 

Meskipun membuat Ibu panik dan kesal, sebenarnya tantrum bisa menjadi media untuk mengajarkan si Kecil melatih emosinya secara stabil. Namun sayangnya, tak sedikit orang tua yang justru ikut emosi saat melihat anak tantrum, sehingga emosi dari masing-masing pihak tak terkendali. Ibu pasti tidak ingin hal tersebut terjadi, kan? Untuk itu, Ibu perlu memahami mengenai penyebab dan fase tantrum agar dapat mengatasi anak tantrum dengan baik.

Penyebab Anak Tantrum

Umumnya, tantrum disebabkan oleh terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya, sehingga ia hanya bisa meluapkan emosinya secara berlebihan. Pada kasus tertentu, tantrum pada anak mungkin bisa disebabkan oleh gangguan perilaku atau masalah psikologis, seperti autisme. 

Artikel Sejenis

Selain itu, tantrum juga bisa menjadi media anak melakukan observasi dan mengenali cara mendapatkan keinginannya. Misalnya, saat anak mengamuk untuk mendapatkan sesuatu dan Ibu menuruti keinginannya, maka kemungkinan besar ia akan mengulangi cara tersebut di kemudian hari. Jika terus dibiarkan, hal tersebut bisa menjadi kebiasaan buruk bagi anak. 

Fase Anak Tantrum

Tantrum biasanya terjadi pada anak yang berusia 1-3 tahun. Pada usia tersebut, biasanya kemampuan komunikasi anak sudah mulai berkembang, tetapi ia belum sepenuhnya dapat menyampaikan apa yang ia inginkan. Meskipun tantrum merupakan bagian dari tahap perkembangan anak, Ibu tetap harus mengetahui fase tantrum agar dapat mengatasinya dengan tepat. Berikut ini fase atau tahapan anak tantrum, antara lain:

  1. Penyangkalan

    Anak tantrum biasanya diawali dengan sebuah penyangkalan. Pada fase ini, anak mengabaikan petunjuk dari orang tua, atau terpaku dengan tatapan terkejut dan tidak percaya karena permintaannya tidak dikabulkan. Pada fase penyangkalan, anak tidak akan mendengarkan perintah orang tua.

  2. Kemarahan

    Setelah fase penyangkalan, biasanya anak akan mengalami fase kemarahan. Pada fase inilah yang sering dikenal dengan tahap tantrum itu sendiri, yaitu ketika anak emosi, marah, dan mengamuk. Fase ini dapat ditandai dengan sikap anak yang menangis histeris, berteriak, memukul, dan menendang. Bahkan, anak tantrum dapat berguling-guling dan melemparkan barang ke sekeliling ruangan untuk menunjukkan rasa emosinya. 

    Pada fase ini, Ibu disarankan untuk tetap tenang dan menjaga agar tidak terbawa emosi. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa anak tidak melukai dirinya sendiri maupun orang lain.

  3. Tawar-menawar

    Setelah menunjukkan amarahnya, pada sebagian kondisi anak tantrum biasanya terjadi fase tawar-menawar. Fase ini biasanya terjadi pada anak yang sudah dapat berbicara dengan fasih. 

    Umumnya, anak menawarkan untuk melakukan suatu hal yang baik bila ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Bila Ibu tidak menyetujui, mereka akan mencoba penawaran lainnya, hingga akhirnya menyadari bahwa tawar-menawar tersebut tidak dapat berhasil.

  4. Kesedihan 

    Biasanya fase kesedihan terjadi ketika emosi anak sedikit lebih tenang dibandingkan fase kemarahan. Pada fase ini, anak akan menangis karena keinginannya tidak dikabulkan oleh Ibu dan fase tawar-menawar sebelumnya tidak berjalan dengan baik. 

    Pada fase kesedihan, sebaiknya Ibu berikan waktu kepada anak dengan tetap memberikan ia rasa nyaman, seperti menjadi pendengar yang baik dan memeluknya. 

  5. Penerimaan

    Pada fase ini, anak tantrum biasanya akan lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Ibu dapat memanfaatkan fase ini untuk menjelaskan kepada anak secara perlahan mengapa keinginannya tidak dikabulkan.

    Baca juga: Pentingnya 9 Asam Amino Esensial Bagi Anak

Cara Mengatasi Anak Tantrum

Meskipun tantrum merupakan kondisi normal, namun sebaiknya Ibu tidak membiarkan anak tantrum dalam waktu yang lama. Sebab, kondisi ini bisa menjadi kebiasaan buruk dan memengaruhi perkembangannya di masa depan. Ibu bisa mengatasi anak tantrum dengan melakukan beberapa cara, di antaranya:

  • Tetap tenang dan sabar

    Saat anak tantrum, Ibu harus tetap tenang. Jangan ikut emosi atau bahkan membalas berteriak hingga memaksa si Kecil menghentikan amukannya. Sikap yang tenang akan membuat tantrum pada si Kecil jadi lebih mudah untuk diatasi. Ibu juga bisa mengajak si Kecil ke tempat yang lebih sepi dan tenang untuk menenangkan emosinya. 

  • Cari tahu penyebab tantrum

    Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab anak tantrum, seperti keinginannya yang tidak terpenuhi, perasaan tidak nyaman, mengantuk, atau merasa lapar yang sulit diungkapkan. Jika si Kecil belum bisa berbicara, salah satu cara untuk mengenali penyebabnya adalah dengan menanyakan secara langsung, “Kamu lapar?” atau “Kamu masih ngantuk?”. Si Kecil mungkin akan mengangguk atau menggeleng. Jika penyebab tantrum pada si Kecil diketahui, maka Ibu akan lebih mudah mengatasinya. 

  • Alihkan perhatian anak

    Anak kecil akan sangat mudah melupakan sesuatu dan tertarik pada hal baru lainnya. Ibu bisa memanfaatkan hal ini untuk mengalihkan perhatian si Kecil saat tantrum. Misalnya, Ibu bisa memberikan mainan andalan si Kecil atau memberikan camilan kesukaannya saat ia rewel, marah, dan menangis. 

  • Hindari memukul anak

    Saat anak tantrum, Ibu pasti ikut panik dan kesal menghadapinya. Namun, Ibu juga harus ingat bahwa kondisi tersebut wajar karena si Kecil memiliki emosi yang ingin ia tunjukkan. Cobalah untuk menerima kekesalan si Kecil dan mencari jalan keluar untuk menenangkannya. Hindari memukul atau mencubit si Kecil saat tantrum karena hal ini justru dapat membuat si Kecil jadi suka memukul untuk menyampaikan keinginannya. 

Sebaiknya Ibu memeluk si Kecil untuk menenangkan dan memberikan si Kecil rasa nyaman. Pelukan juga bisa menjadi cara untuk menunjukkan bahwa Ibu benar-benar peduli dan sayang terhadap si Kecil. Apabila si Kecil tantrum di tempat umum, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh Ibu, di antaranya:

  • Menasihati si Kecil dengan keras dan kasar
  • Menghukum si Kecil dengan kekerasan fisik
  • Memberikan apa yang si Kecil mau 

Jika si Kecil mengalami tantrum yang terlalu sering, atau tantrumnya dapat menyakiti dirinya sendiri dan orang lain, sebaiknya Ibu berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat. Sebab, tantrum berkaitan dengan kemampuan emosional si Kecil yang harus dikendalikan dengan tepat. Jika dibiarkan terus menerus, maka akan memengaruhi emosi dan kebiasaan si Kecil hingga ia dewasa. 

Seperti yang telah disebutkan, tantrum termasuk kondisi yang memengaruhi perkembangan si Kecil. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk selalu memantau tumbuh kembang si Kecil dengan baik. Salah satu caranya dengan memenuhi asupan nutrisi berkualitas dari makanan bergizi dan susu pertumbuhan, seperti Frisian Flag PRIMAGRO AAE 1+

Susu Frisian Flag PRIMAGRO AAE 1+ mengandung 9 asam amino esensial (9AAE) yang lengkap dan 9 nutrisi penting lainnya, seperti minyak ikan, omega 3, omega 6, zat besi, zinc, protein, kalsium, magnesium, vitamin D3 serta vitamin dan mineral lain untuk mendukung potensi si Kecil tumbuh pintar, kuat, dan tinggi. Kandungan nutrisi dalam susu pertumbuhan ini sudah ditingkatkan dari sebelumnya demi mendukung potensi tumbuh kembang si Kecil lebih optimal. 

Ditinjau oleh: Yeni Novianti, S.Gz