Share Like
Simpan

Agar tumbuh kembang si Kecil tetap maksimal, Ibu tentu perlu memerhatikan kesehatan fisiknya secara menyeluruh. Menurut konsultasi kesehatan anak yang saya lakukan ke dokter, salah satu bagian yang perlu diberikan perhatian ekstra adalah area kelamin si Kecil. Hal ini saya sadari ketika si Kecil mengalami masalah di area yang sedikit “tersembunyi” ini, Bu. Saat itu, ia sering kali menggaruk daerah pangkal pahanya, dan bagian bokongnya pun terlihat kemerahan. Supaya bisa mendapatkan penanganan yang tepat, saya akhirnya memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter si Kecil dan malah mendapatkan lebih banyak info lain, Bu, seputar beberapa gangguan kesehatan yang mungkin terjadi di area kelamin si Kecil. Berikut beberapa di antaranya:

1. Ruam Popok

Ruam popok adalah salah satu kondisi iritasi atau peradangan kulit yang paling umum terjadi pada balita. Gejalanya adalah kulit yang kemerahan, sedikit menonjol, nyeri atau gatal, biasanya pada area yang tertutup popok (daerah kelamin, bokong, dan pangkal paha). Iritasi ini biasanya membuat si Kecil jadi rewel dan bisa makin parah jika tidak segera diatasi, Bu.

Kondisi ini bisa dipicu oleh kulit lembap akibat keringat, sisa urine atau kotoran, ditambah kuman atau bakteri yang terjebak di popok si Kecil. Oleh karena, penting sekali untuk menjaga kulit di area kelamin si Kecil tetap kering selama ia mengenakan popok agar ia terhindar dari ruam popok.

2. Infeksi Saluran Kemih

Infeksi ini bisa disebabkan oleh serangan bakteri Escherichia coli, Proteus spesies, dan Aerobacter aerogenes. Ibu perlu waspada jika si Kecil lebih sering buang air kecil dari biasanya, disertai demam dan nyeri pada daerah kemaluannya. Saat ini, si Kecil bisa jadi belum bisa mengatakan dengan jelas apa yang ia rasakan. Oleh karena itu, Ibu juga perlu lebih memerhatikan tanda lain, misalnya apakah ia menjadi lebih rewel dan sering menangis, susah makan atau muntah, serta terserang demam tanpa sebab yang jelas.

Gejala lain yang cukup jelas adalah urine si Kecil berbau, keruh, atau malah berdarah. Sebagai pertolongan pertama, pastikan menjaga area kelamin si Kecil tetap bersih setiap saat. Periksakan juga kondisi ini ke dokter agar si Kecil bisa mendapatkan penanganan maksimal.

3. Infeksi Cacing Kremi

Jika si Kecil tidak berhenti menggaruk pantatnya, terutama di sekitar anus, bisa jadi ia mengalami infeksi cacing. Ibu mungkin juga bisa melihat cacing kremi tersebut di sekitar dubur atau kotoran si Kecil. Pada anak perempuan, cacing ini bahkan mungkin ditemukan di area vaginanya. Bentuknya seperti parutan kelapa. Si Kecil dapat terkena cacing kremi saat bermain kotor di luar. Telur cacing kremi dapat menempel di kulit atau bawah kuku si Kecil selama berjam-jam, bahkan bertahan hingga tiga minggu pada pakaian, mainan, dan tempat tidur. Jika si Kecil tidak mencuci tangan dengan baik, telur tersebut dapat tertelan, masuk ke usus si Kecil, dan membuat anus si Kecil gatal. Sebenarnya infeksi cacing kremi ini tidak berbahaya dan bisa dihilangkan dengan obat, serta menerapkan kebiasaan cuci tangan untuk hidup sehat. Soal obat, sebaiknya Ibu berkonsultasi dulu dengan dokter anak untuk mendapatkan jenis dan dosis obat yang tepat.

4. Fimosis

Penyakit ini adalah kondisi kulup melekat pada kepala penis dan menutup lubang penis. Akibatnya, urine tidak dapat keluar normal dan kepala penis tidak dapat dibersihkan. Selain karena bawaan lahir, fimosis bisa juga disebabkan oleh infeksi atau peradangan berulang pada kulit depan penis, atau trauma (benturan). Gejalanya adalah si Kecil akan merasa nyeri saat berkemih, bahkan sampai mengejan. Ia bisa jadi menangis setiap kali sedang buang air kecil. Jika terjadi infeksi, bukan tidak mungkin si Kecil akan mengalami demam, Bu.

Jika fimosis terjadi pada si Kecil, hindari sekali-kali membuka kulup secara paksa dengan menariknya ke arah pangkal penis. Tindakan ini berbahaya, karena kulup dapat terjepit, menimbulkan nyeri dan pembengkakan. Ibu disarankan untuk segera konsultasi dokter anak untuk dilakukan pelebaran pada kulup si Kecil.

5. Vulvovaginitis

Penyakit ini merupakan peradangan pada vulva dan vagina. Untuk balita, kondisi ini bisa dipicu oleh beberapa faktor, seperti serangan jamur dan bakteri, kebersihan area kelamin, benda asing (misalnya tisu yang tertinggal di area vagina, celana dalam yang terlalu ketat). Apalagi saat ini, si Kecil belum memiliki rambut kemaluan atau lemak labia untuk melindunginya dari benda asing (bahan pakaian, zat kimia, sabun dan obat) yang bisa menyebabkan iritasi kulit di area vulva.

Gejala awal kondisi ini adalah si Kecil terlihat sering menggaruk pangkal pahanya, merasa perih saat buang air kecil karena ada luka di area kelaminnya, atau ada kotoran vagina yang berbau tak sedap. Salah satu cara untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan menjaga kebersihan area kelamin si Kecil, dan kenyamanannya saat berpakaian. Selain itu, periksakan juga kondisi ini dengan dokter anak untuk mendapatkan penanganan lebih maksimal.

Itulah beberapa kondisi yang berkaitan dengan kesehatan area kelamin si Kecil dan perlu Ibu waspadai sejak dini. Semoga si Kecil selalu sehat ya, Bu!