Share Like
Simpan

Bu, beberapa waktu lalu saya sempat membaca di sebuah forum mengenai si Kecil yang punya kebiasaan memainkan alat kelaminnya sendiri. Saat membaca hal tersebut, saya langsung teringat pada waktu si Kecil masih berusia 5 tahun dulu. 

Pada suatu ketika, saya sedang mengajak si Kecil berkunjung ke rumah sang nenek. Setiba di sana, ia yang mengeluh ingin buang air kecil segera saya antarkan ke toilet. Setelah selesai, bukannya langsung memakai kembali celananya, ia malah mulai memegang-megang alat kelaminnya. Melihat hal itu, lantas saya dan sang nenek menegurnya baik-baik, “Hal itu tidak baik, sayang. Ayo dipakai lagi celananya.” Untunglah ia langsung menuruti perkataan kami, sembari saya bantu memakaikan celananya. 

Setelah berbincang dengan suami saya, ternyata itu bukan kali pertama ia memainkan alat kelaminnya sendiri di depan umum. Sang Ayah pun pernah mendapati si Kecil tengah melakukan hal yang sama, lalu menegurnya secara halus. Karena khawatir itu bisa jadi kebiasaan si Kecil, saya menghubungi seorang kerabat yang merupakan ahli psikoanalisis. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan si Kecil memainkan alat kelamin ini disebut sebagai fase falik. Saat masih bayi, kenikmatan si Kecil terletak di mulut (fase oral), lalu beralih ke dubur (fase anal), dan berganti pada organ reproduksi (fase falik) ketika memasuki usia 3-5 tahun.

Kenikmatan yang dimaksud adalah kebiasaan si Kecil yang didasari oleh rasa ingin tahu tinggi tentang organ seksual, sehingga ia bereksplorasi dengan alat vitalnya sendiri. menyebabkan si Kecil memegang, menggaruk, atau bahkan menunjukkan alat kelaminnya kepada orang lain.

Hmm... Sekarang apa yang harus kita lakukan ketika mendapati si Kecil tengah memainkan, atau memperlihatkan alat vitalnya di depan umum? Mari ikuti beberapa tips berikut ini.

  • Alihkan perhatian si Kecil

Ketika Ibu melihat si Kecil mulai berusaha untuk memainkan alat kelaminnya sendiri, alihkan perhatiannya dengan kegiatan yang lebih menarik. Ibu dapat mengajaknya bermain agar ia tidak fokus pada kebiasaan yang kurang baik tersebut. Pastikan kegiatan bermain ini si Kecil aktif menggunakan tangannya, ajarkan bahwa tangan digunakan untuk bermain, makan dan minum-misalnya.

  • Beri penjelasan yang mudah dimengerti

Ibu bisa menjelaskan pada si Kecil bahwa alat kelamin bersifat pribadi dan bukan untuk diperlihatkan kepada orang lain. Ajak sang Ayah untuk membantu Ibu menjelaskankan bahwa kebiasaan itu kurang baik untuk kesehatannya, misalnya “Jangan dipegang-pegang terus nanti kamu bisa sakit, sayang. Apalagi kalau tanganmu kotor.”

  • Hindari teguran yang bersifat intimidatif

Saat mendapati si Kecil sedang “asyik” memainkan alat kelaminnya di depan orang lain. Sebaiknya Ibu menghindari kata-kata yang intimidatif, misalnya, “Hayo! Kamu ngapain, sih? Jangan begitu dong!” Kata-kata seperti itu akan membuatnya kaget dan merasa bersalah. Dekati si Kecil, lalu tegur ia secara halus, contohnya, “Ayo pakai lagi celananya. Kebiasaan itu tidak baik, jadi jangan diulangi ya, sayang.”

  • Hindari memberi hukuman pada si Kecil

Jika si Kecil sedang berada di sekolah, tanyakan kepada gurunya apakah ia sering memainkan atau memperlihatkan alat kelaminnya kepada orang lain. Ibu harus bekerja sama dengan sang guru, serta memastikan si Kecil ditegur sewajarnya dan tidak diberi hukuman.

Nah, itulah beberapa tips yang bisa saya bagikan hari ini. Semoga kebiasaan si Kecil memainkan alat kelaminnya di depan umum bisa dihentikan ya, Bu. Semoga informasi ini bermanfaat!