Whatsapp Share Like Simpan

Demam berdarah dengue (DBD) termasuk penyakit yang berisiko tinggi yang bisa dialami anak-anak. Gejala DBD pada anak bisa Ibu kenali dari beberapa tanda. Namun, sebelum itu, Ibu perlu tahu bahwa DBD merupakan salah satu penyebab kematian anak yang cukup tinggi di sebagian negara Asia, termasuk Indonesia. Penyakit DBD dibawa oleh virus dengue melalui perantara nyamuk betina dari jenis Aedes aegypti melalui aliran darah. Nyamuk jenis ini biasa ditemukan di daerah beriklim tropis yang hangat dan lembap. Tempat perkembangbiakannya adalah di air yang tergenang. Meskipun termasuk penyakit yang berisiko tinggi, namun Ibu tak perlu khawatir karena gejala DBD pada anak bisa dideteksi dari tingkat keparahannya. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk mengetahui gejala DBD pada anak sejak awal agar dapat mencegah atau mengatasi dengan cepat. 

Gejala DBD pada Anak

Berikut ini beberapa gejala DBD pada anak yang perlu diketahui Ibu, di antaranya:

  • Gejala demam dengue pada anak

    Demam dengue merupakan bentuk gejala DBD pada anak yang masih tergolong ringan. Gejala ini belum atau tidak menyebabkan perdarahan dalam tubuh si Kecil. Pada awalnya, kondisi ini tidak menimbulkan gejala atau tanda apa pun. Terlebih jika si Kecil sama sekali tidak pernah mengalami demam berdarah sebelumnya. Terkadang, gejala DBD pada anak atau demam dengue dapat disalahartikan sebagai flu atau infeksi virus lain. Berikut ini beberapa gejala demam dengue pada anak yang harus Ibu waspadai, di antaranya:

    • Demam tinggi akut 3-14 hari setelah digigit nyamuk
    • Anak mengeluh sakit kepala dan mual
    • Anak mengeluh nyeri otot dan pegal linu di sekujur tubuh
    • Muncul ruam merah pada kulit
    • Kelenjar getah bening anak bengkak

    Selain itu, si Kecil mungkin terjangkit demam dengue apabila saat tes darah jumlah sel darah putihnya rendah. Gejala DBD pada anak yang ringan ini biasanya berlangsung 2 hingga 7 hari.

  • Gejala DBD pada anak

    Apabila demam dengue pada si Kecil semakin parah dengan disertai perdarahan pada beberapa bagian tubuh, kemungkinan itu adalah gejala DBD pada anak yang perlu ditangani dengan lebih baik. Kemunculan gejala DBD pada anak karena demam dengue ini disebabkan oleh diagnosis yang terlambat. Demam berdarah dengue juga dapat terjadi karena sistem imun si Kecil tidak cukup kuat untuk melawan virus meski sudah mendapat perawatan medis. Risiko DBD yang dialami si Kecil bisa fatal apabila terlambat mendapatkan penanganan. Oleh karena itu, Ibu harus memperhatikan dengan cermat gejala DBD pada anak di rumah.

    Artikel Sejenis

    Gejala DBD pada anak umumnya dimulai dalam 24-48 jam setelah suhu tubuh mulai menurun. Berikut ini gejala DBD pada anak yang perlu Ibu waspadai, di antaranya:

    • Si Kecil mengeluh sakit perut, atau perutnya terasa nyeri saat ditekan
    • Suhu tubuh berubah drastis, dari kondisi demam bisa menjadi hipotermia
    • Muntah terus menerus
    • Muntah berupa darah, atau feses yang keluar saat BAB mengandung darah
    • Si Kecil mimisan terus
    • Gusi tiba-tiba berdarah tanpa sebab
    • Dokter menemukan adanya kebocoran plasma saat diperiksa
    • Jumlah trombosit darah menurun
    • Kerusakan pada sistem kerja organ limpa
    • Si Kecil terlihat lelah, merasa gelisah, mudah marah, atau mudah tersinggung

    Hal lainnya yang perlu Ibu perhatikan mengenai gejala DBD pada anak adalah risiko yang bisa terjadi. Apabila daya tahan tubuh si Kecil lemah atau sebelumnya pernah mengalami demam dengue, maka peluangnya lebih besar mengalami demam berdarah dengue (DBD).

  • Gejala DBD pada anak disertai syok

    Gejala DBD pada anak yang tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan kondisinya semakin serius. Kondisi akibat gejala DBD pada anak ini dikenal dengan istilah Dengue Shock Syndrome (DSS). DSS merupakan jenis demam berdarah paling parah. Gejala DBD pada anak yang disertai syok ini bisa saja disertai dengan tanda lain, di antaranya:

    • Perdarahan tiba-tiba dan terus menerus di beberapa bagian tubuh, biasanya di hidung, gusi, mulut, atau feses
    • Tekanan darah menurun drastis yang menyebabkan kesadaran si Kecil menurun cepat
    • Adanya kebocoran pada pembuluh darah
    • Adanya kegagalan fungsi organ dalam
    • Jumlah trombosit bisa merosot hingga di bawah angka 100.000/mm3
    • Denyut nadi si Kecil semakin melemah

    Tanda atau gejala DBD pada anak disertai syok ini dapat menyebabkan kematian bila tidak segera mendapat penanganan medis. Namun, Ibu tidak perlu khawatir ya, gejala DBD pada anak ini bisa Ibu atasi dan cegah sejak awal agar si Kecil tidak mengalami DBD. 

Cara Mengatasi DBD pada Anak

Jika si Kecil tiba-tiba mengalami demam tinggi, muncul bintik merah, atau mengalami pegal linu serta nyeri otot, sebaiknya Ibu perlu membawanya ke dokter. Nantinya dokter akan melakukan sejumlah tes untuk memeriksa apakah ciri-ciri tersebut memang benar gejala DBD pada anak atau bukan. Selain pergi ke dokter, Ibu juga bisa membantu menyembuhkan gejala DBD dengan cara berikut ini: 

  • Memastikan si Kecil mendapatkan istirahat yang cukup
  • Memberikan si Kecil makanan yang bergizi, mudah ditelan dan dicerna, serta mengandung vitamin C
  • Memberikan jus jambu untuk menaikkan trombosit
  • Berikan si Kecil air putih atau cairan elektrolit yang banyak untuk mencegah dehidrasi

Cara Mencegah DBD pada Anak

Seperti yang Ibu ketahui, pencegahan lebih baik dibandingkan mengatasi sebuah kondisi. Oleh karena itu, jika Ibu ingin si Kecil terhindar dari penyakit DBD, sebaiknya Ibu melakukan beberapa pencegahan sejak awal. Sebenarnya Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan anak-anak untuk vaksinasi sebagai langkah pencegahan DBD. Namun, di Indonesia sendiri vaksin DBD masih jarang atau bahkan belum tersedia dalam program imunisasi sosial yang disediakan puskesmas. Namun, Ibu bisa mendapatkan vaksin DBD di beberapa klinik atau rumah sakit tertentu. Selain vaksin DBD, langkah lain yang tak kalah penting adalah mencegah gigitan nyamuk yang bisa membawa virus dengue. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diterapkan di rumah:

  • Pakaikan si Kecil baju dan celana yang tertutup, serta kaus kaki saat pergi keluar rumah
  • Gunakan kelambu untuk menutupi tempat tidur si Kecil
  • Gunakan obat nyamuk sesuai petunjuk. Pilihlah yang mengandung DEET atau minyak lemon eucalyptus
  • Batasi waktu si Kecil untuk keluar pada jam-jam sekitar fajar dan senja
  • Usahakan tidak ada genangan air di lingkungan rumah karena itu bisa menjadi sarang nyamuk
  • Kuras wadah-wadah berisi air, seperti bak mandi dan vas bunga. Selain itu, sikat bagian dindingnya untuk menghilangkan jentik-jentik nyamuk
  • Jika memungkinkan, pasang kawat anti nyamuk pada pintu atau jendela
  • Pastikan kebersihan area rumah tetap terjaga agar terhindar dari virus, bakteri, dan kuman yang dapat menyerang sistem imun si Kecil

Dengan melakukan tindakan pencegahan ini, diharapkan si Kecil bisa terhindar dari wabah demam berdarah yang biasa mengintai anak-anak. Untuk meningkatkan sistem imun si Kecil, Ibu juga perlu nutrisi tambahan agar tumbuh kembangnya lebih optimal dan terhindar dari berbagai penyakit. Salah satu nutrisi yang bisa si Kecil konsumsi adalah susu Frisian Flag PRIMAGRO AAE 3+ yang mengandung 9 asam amino esensial (9AAE) secara lengkap, serta diperkaya juga dengan 9 nutrisi penting lainnya, seperti minyak ikan, omega 3, omega 6, zat besi, zinc, protein, kalsium, magnesium, vitamin D3, serta vitamin dan mineral lain untuk mendukung potensi si Kecil tumbuh pintar, kuat, dan tinggi. Kandungan nutrisi dalam susu Frisian Flag PRIMAGRO AAE 3+ ini sudah ditingkatkan dari sebelumnya demi mendukung potensi tumbuh kembang optimal si Kecil. Hadir dengan tiga varian rasa, yaitu vanilla, madu, dan cokelat yang disukai anak-anak.