Share Like
Simpan

Baru-baru ini Indonesia melakukan kampanye imunisasi difteri untuk anak-anak dan orang dewasa. Awalnya, saya pikir ini merupakan penyakit baru. Saya pun jadi penasaran soal penyakit ini, terutama tentang dampak difteri pada anak . Tentunya, saya tidak mau si Kecil terserang penyakit tersebut. Berikut ini sedikit informasi soal difteri yang saya dapat dari internet.

Apa Itu Difteri

Menurut situs Hospital Care For Children, difteri adalah infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang saluran pernapasan. Infeksi ini membentuk selaput berwarna putih keabu-abuan, Bu. Jika selaput itu mengenai bagian laring atau trakea dapat menyebabkan suara ngorok dan penyumbatan. Akibatnya, anak-anak akan kesulitan bernapas.

Ternyata, Bu, Kementerian Kesehatan menyebutkan, sejak 1 Januari—4 November 2017, telah ditemukan sebanyak 591 kasus difteri dengan 32 kematian di 95 kabupaten/kota di 20 Provinsi di Indonesia. Banyaknya kasus yang terjadi mendorong pemerintah menyebut ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada akhir tahun 2017, dan mulai melaksanakan imunisasi massal (outbreak response immunization-ORI) pada 12 kabupaten/kota di 3 provinsi yang mengalami KLB, yaitu Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Menurut Mentri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), meski difteri sangat mudah menular, berbahaya, dan dapat menyebabkan kematian, penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi. Oleh karena itu, orang tua dan anak-anak dihimbau untuk mendapatkan vaksin.

Bagaimana Gejalanya?

Pertama-tama, Ibu harus tahu cara difteri bisa menular ke orang lain. Bakteri Corynebacterium diphtheriae bisa ditularkan dari orang yang terjangkit penyakit tersebut melalui media udara. Masa inkubasinya 2-5 hari setelah penularan. Penyebarannya mirip dengan penyakit flu, Bu.

Ibu harus mengetahui beberapa gejala yang biasa dialami oleh anak yang terjangkit difteri. Ini supaya bisa memudahkan pengobatan dan mengurangi risiko penyakit yang lebih besar. Berikut ini beberapa gejalanya.

  • Terjadi radang tenggorokan dan perubahan suara terhadap pasien difteri.
  • Munculnya selaput tebal keabu-abuan di daerah tenggorokan.
  • Adanya pembengkakan kelenjar di leher.
  • Mulai mengalami kesulitan bernapas dan menelan makanan.
  • Hidung mengeluarkan cairan seperti lendir.
  • Terkena demam, tetapi tubuh merasa dingin.
  • Batuk yang sulit berhenti.
  • Kulit berubah pucat, mengeluarkan banyak keringat, dan jantung berdebar kencang.
  • Mengalami gangguan penglihatan.

Apa Saja Dampaknya

Dari sejumlah info kesehatan anak yang saya baca, bakteri difteri akan melepaskan toksin atau racun ketika memasuki tubuh. Bahayanya, Bu, toksin tersebut bisa menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Racun inilah yang memicu terjadinya kerusakan jaringan tubuh, seperti jantung dan saraf. Bila terlambat ditangani, kerusakan ini bisa permanen bahkan berujung pada kematian.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

Untuk mencegah penyebaran dan dampak buruk difteri, Ibu bisa melakukan imunisasi dasar terhadap si Kecil. Pemerintah mewajibkan setiap anak untuk melakukan imunisasi DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis) sebanyak lima kali sejak bayi berusia dua bulan. Sedangkan, untuk anak usia tujuh tahun ke atas diberikan vaksin Td atau Tdap yang diulang setiap 10 tahun. Sebisa mungkin, Ibu dan si Kecil menghindari kontak langsung dengan pasien difteri. Biasakan untuk selalu mencuci tangan dengan bersih dan menjaga kebersihan lingkungan si Kecil tinggal.

Dengan adanya informasi ini, jadi makin jelas ‘kan Bu, betapa pentingnya melengkapi imunisasi dasar  anak yang sudah disediakan oleh pemerintah. Apalagi, dampak difteri pada anak cukup membahayakan jika tidak segera dicegah. Lebih baik mencegah munculnya penyakit dibanding mengobati, Bu, agar si Kecil dapat tumbuh pintar, tinggi, dan kuat. Ayo ajak si Kecil imunisasi, Bu!