Share Like
Simpan

 Vaksin DTP merupakan vaksin gabungan yang digunakan untuk mencegah penyakit difteri, tetanus, dan pertusis. Ketiga penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri dan bisa berakibat fatal.

Difteri terjadi karena racun yang dihasilkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Awalnya penyakit ini menyerupai pilek, yaitu nyeri menelan, demam ringan dan menggigil. Kemudian racun yang dihasilkan kuman akan membentuk suatu selubung/selaput tebal di bagian belakang hidung atau tenggorokan, sehingga si Kecil menjadi sulit bernapas atau menelan. Difteri merupakan penyakit yang berbahaya karena gangguan/kesulitan bernapas bisa berakhir dengan kematian. Racun difteri juga bisa menyerang jantung, sehingga mengganggu fungsi kerja jantung. Jika menyerang saraf, racun difteri bisa menyebabkan kelumpuhan. Penyakit ini ditularkan melalui percikan ludah dalam batuk/bersin penderita.

Tetanus atau lockjaw (kejang mulut) merupakan penyakit berbahaya yang menyerang otot dan saraf tubuh. Penyakit ini terjadi jika kuman Clostridium tetani yang banyak terdapat di tanah, masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka. Di dalam tubuh, kuman akan menghasilkan suatu neurotoksin, yaitu racun yang menyerang sistem saraf tubuh, yang dapat menyebabkan kejang otot. Racun bisa menjalar ke seluruh tubuh melalui darah dan cairan getah bening. Tetanus seringkali diawali dengan kejang otot rahang yang dapat disertai dengan gangguan menelan dan kaku/nyeri otot leher, bahu atau punggung. Kejang otot ini bisa menjalar ke otot perut, lengan atas dan paha.

Pertusis atau batuk rejan merupakan penyakit yang sangat menular dan berbahaya, yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Sama dengan difteri, pada awalnya pertusis juga menyerupai pilek, yaitu hidung meler/tersumbat, bersin-bersin dan mungkin batuk dan demam ringan. Tetapi 1-2 minggu kemudian, batuk mulai berat dan semakin berat. Pertusis juga ditularkan melalui percikan ludah dari batuk/bersin penderita.

Hampir seluruh anak-anak yang mendapatkan dosis lengkap vaksin DTP akan terlindungi dari difteri. Selain melindungi si Kecil dari ketiga penyakit tersebut, vaksin DTP juga dapat membantu menghentikan penyebaran penyakit di masyarakat. Dosis lengkap DTP terdiri dari 5 dosis :
• Dosis 1 pada usia 2 bulan
• Dosis 2 pada usia 4 bulan
• Dosis 3 pada usia 6 bulan
• Dosis 4 pada usia 18-24 bulan
• Dosis 5 pada usia 5 tahun.

Vaksin difteri tidak memberikan perlindungan seumur hidup sehingga, perlu dilakukan booster yaitu Td pada usia 10 dan 18 tahun. Perlindungan vaksin pertusis juga tidak bertahan seumur hidup, sehingga saat remaja dan dewasa perlu divaksinasi ulang meskipun telah mendapatkan vaksinasi lengkap ketika kecil.

Vaksin DTP aman dan efektif mencegah ketiga penyakit tersebut. Sama halnya dengan obat-obatan, vaksin bisa memiliki efek samping, namun jarang menimbulkan efek samping yang berat. Vaksin ini diberikan dalam bentuk suntikan, sehingga kadang timbul nyeri, bengkak, dan/atau kemerahan di tempat penyuntikan. Bisa timbul demam ringan sampai sedang, yang biasanya berlangsung 2-3 hari dan dapat diatasi dengan obat penurun panas. Kadang komponen pertusis dalam vaksin DTP dapat menyebabkan demam tinggi dan kejang. Jika ini terjadi, maka dokter biasanya tidak akan melanjutkan pemberian DTP, tetapi menggantinya dengan vaksin DT.

Nah Ibu, kini Ibu sudah mengetahui tentang pemberian vaksin DTP bagi si Kecil. Manfaat dan risikonya tentu jauh lebih baik daripada si Kecil tidak mendapatkan vaksin sama sekali. Oleh karena itu, yuk berikan si Kecil vaksin DTP untuk mendukung tumbuh kembangnya agar optimal. Apabila Ibu ingin mendapatkan keterangan lebih lanjut, silakan diskusikan dengan dokter atau bidan ya, Bu.