Whatsapp Share Like
Simpan

Masa mengandung merupakan masa di mana Ibu harus cukup makan makanan bergizi. Tujuannya, tentu saja, agar janin di dalam kandungan mendapatkan cukup nutrisi untuk tumbuh dan berkembang. Termasuk untuk berat badannya. Saat pemeriksaan bulanan, dokter pasti akan memeriksa apakah berat badan bayi sudah sesuai dengan usianya atau tidak. Sayangnya, beberapa bayi harus terlahir dengan berat badan rendah. Mengapa bisa begitu?

Berat Normal pada Bayi Baru Lahir

Bayi dikatakan memiliki berat badan lahir rendah (BBLR) jika berat badannya berada di bawah rata-rata, Bu. Berapakah berat rata-rata tersebut? Berat badan bayi lahir yang normal adalah di atas 2,5 atau 3 kg, sedangkan berat rata-ratanya adalah 2,5 kg. Jadi, saat bayi terlahir dengan berat kurang dari 2,5 kg, maka ia akan dinyatakan memiliki BBLR. Kemudian pada bayi yang terlahir dengan berat di bawah 1,5 kg akan dinyatakan memiliki berat badan lahir sangat rendah.

Apa Penyebabnya?

Badan Litbang Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2014 mengeluarkan data bayi dengan BBLR. Sebanyak 10% berat badan bayi sewaktu lahir tergolong rendah dengan jumlah terbanyak ada di Sulawesi Tengah, yakni angka 17%.

Penyebab berat badan bayi lahir rendah bisa dikarenakan beberapa faktor berikut:

  • Bayi terlahir secara prematur dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Ini adalah penyebab utama bayi mengalami BBLR di mana janin belum mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan di trimester akhir. Akibatnya, ia akan memiliki berat badan yang lebih rendah dan tubuh yang lebih kecil dibanding bayi yang terlahir di usia kehamilan yang cukup.
  • Bayi mengalami intrauterine growth restriction. Bayi yang mengalami kondisi tersebut kurang cukup tumbuh dan berkembang selama di dalam kandungan. Penyebabnya adalah adanya gangguan pada plasenta yang menyebabkan janin kurang mendapatkan nutrisi dan oksigen yang cukup sehingga menyebabkan pertumbuhan dan perkembangannya terhambat.
  • Ibu mengalami malnutrisi. Saat Ibu kurang mengonsumsi makanan atau kekurangan nutrisi, maka hal ini jelas akan berdampak pada tumbuh kembang janinnya.
  • Ibu mengonsumsi minuman beralkohol atau NAPZA. Alkohol yang masuk ke tubuh ibu hamil akan melepaskan senyawa kimia tertentu ke dalam plasenta yang dapat menurunkan suplai oksigen untuk janin. Akibatnya, janin akan mengalami gangguan tumbuh kembang.
  • Usia ibu masih terlalu muda. Ibu yang hamil di usia kurang dari 15 tahun berisiko tinggi melahirkan bayi dengan BBLR.
  • Bayi kembar. Dikarenakan ruang dalam rahim kurang cukup untuk janin kembar, maka biasanya bayi akan lahir dengan berat badan yang rendah.
  • Adanya komplikasi selama kehamilan. Contoh komplikasi yang bisa menjadi pemicu berat badan bayi lahir rendah adalah ibu menderita tekanan darah tinggi atau yang sering disebut dengan istilah preeklampsia.
  • Kondisi emosional ibu selama kehamilan. Saat stres, tubuh akan melepaskan hormon kortisol. Jika kadar hormon tersebut tinggi, maka dapat membuat ibu melahirkan bayi dengan BBLR.

Komplikasi Bayi BBLR

Bayi BBLR dapat berisiko mengalami berbagai komplikasi, diantaranya adalah:

Artikel Sejenis

  • Keterlambatan perkembangan organ tubuh, seperti paru-paru.
  • Adanya masalah gastrointestinal, seperti necrotizing enterocolitis.
  • Adanya masalah pernapasan.
  • Mengalami masalah neurologis, misalnya pendarahan di otak.
  • Kematian mendadak.

Perawatan pada Bayi BBLR

Dokter sangat menganjurkan pemberian ASI untuk bayi BBLR. ASI diketahui dapat menaikkan berat badan dan mendukung tumbuh kembang bayi. Selain itu, bayi yang mengalami BBLR umumnya akan membutuhkan perawatan di rumah sakit setelah kelahirannya. Perawatan yang diberikan tentunya disesuaikan dengan kondisi kesehatan, usia kehamilan, dan respon yang bayi berikan terhadap pengobatan tertentu.

Pada kondisi bayi yang memiliki komplikasi tertentu terkadang akan memerlukan perawatan di ruang perawatan intensif neonatal (NICU). Misalnya saja bayi yang bermasalah pada usus atau paru-parunya belum matang. Di NICU, bayi akan dibaringkan di tempat tidur dengan suhu tertentu serta diberi susu menggunakan alat dan teknis khusus. Jika komplikasi sudah teratasi, maka bayi baru diperbolehkan pulang dan mendapatkan ASI secara normal.

Bila bayi BBLR lahir tanpa komplikasi, biasanya secara perlahan ia akan mampu mengejar pertumbuhannya yang tertinggal. Namun saat tumbuh dewasa, mayoritas dari bayi BBLR berisiko mengalami perkembangan mental yang terlambat, memiliki tekanan darah tinggi, penyakit jantung, obesitas, hingga diabetes.

Kehamilan merupakan masa yang penting bagi tumbuh kembang janin. Oleh sebab itu, ibu hamil harus sangat memperhatikan asupan makanan, gaya hidup, serta kondisi mental. Selain itu, dukungan dari orang di sekitar juga sangatlah besar. Semoga artikel ini bisa menginspirasi ya, Bu. Bagi Ibu yang sedang mengandung, semoga selalu sehat hingga masa persalinan dan berat badan bayi normal.

Untuk mendukung tumbuh kembang janin, Ibu juga bisa mengonsumsi Frisian Flag Mama Tahap 0 SUPRIMA. Susu ini telah diperkaya dengan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, zat besi, kalsium, asam folat, serta serat pangan inulin.

Bagi Ibu yang masih memiliki pertanyaan dan ingin berkonsultasi seputar anak, bisa berkunjung ke laman Tanya Pakar. Di sana ada para ahli yang akan membantu Ibu. Namun untuk bisa menggunakan fitur tersebut, pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dahulu, ya.

 

Sumber:

Alodokter, CNN Indonesia, TheAsianParent