Whatsapp Share Like Simpan

Setiap Ibu pasti ingin melihat anaknya tumbuh dan berkembang jadi lebih sehat, pintar, kuat, dan tinggi, bukan? Untuk memenuhi tumbuh kembangnya ini, anak membutuhkan gizi seimbang yang bisa Ia dapatkan dari berbagai nutrisi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Kurangnya asupan nutrisi ini bisa menimbulkan dampak buruk, salah satunya akan muncul penyakit kekurangan protein

Sebelum mengetahui apa saja penyakit kekurangan protein, Ibu harus lebih dulu mengetahui pentingnya protein bagi tumbuh kembang anak. Protein berperan penting dalam membentuk dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, membangun antibodi untuk melawan berbagai penyakit, serta memberikan energi sehingga anak bisa tetap aktif saat beraktivitas. Ada sumber protein yang dibutuhkan si Kecil setiap harinya, mulai dari susu, telur, ikan, daging merah, daging putih, dan kacang-kacangan serta hasil olahan lainnya. 

Di dalam tubuh, sumber protein ini diolah menjadi 9 asam amino esensial atau 9AAE yang memiliki fungsi cukup penting untuk pertumbuhan anak. Proses pengubahan protein ini terjadi karena tubuh si Kecil tidak bisa memproduksi sendiri 9 asam amino esensial atau 9AAE sehingga membutuhkan asupan dari makanan berprotein tinggi. Inilah alasannya Ibu perlu mencukupi nutrisi harian si Kecil agar terhindar dari penyakit kekurangan protein.

Penyakit kekurangan protein: Marasmus

Marasmus adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan asupan protein dan kalori. Penyakit kekurangan protein ini menyebabkan anak kehilangan lemak dan otot tubuh, sehingga pertumbuhannya akan terhambat, tidak seperti anak dengan kondisi normal pada umumnya. Gejala utama penyakit marasmus adalah tulang lebih terlihat di permukaan kulit karena hilangnya lemak di jaringan tubuh dan wajah, kondisi kulit pun akan mengendur dan mata menjadi cekung. Selain itu, penyakit kekurangan protein pada anak ini bisa ditandai dengan gejala sebagai berikut:

  • Sering pusing
  • Tubuh lemah dan mudah lemas
  • Kulit kering dan rapuh
  • Berat badan menurun dan mudah sakit 

Efek jangka panjang penyakit kekurangan protein seperti marasmus ini dapat menyebabkan komplikasi serius yang berakibat fatal, seperti bradikardia yang ditandai dengan denyut jantung sangat lambat dan hipotensi (tekanan darah rendah).

Artikel Sejenis

Penyakit kekurangan protein: Kwashiorkor

Apakah Ibu pernah mendengar jenis penyakit kekurangan protein ini? Namanya memang cukup asing, namun ternyata kwashiorkor bisa menyerang si Kecil bila kebutuhan proteinnya tidak tercukupi sejak masih kecil. Kwashiorkor adalah penyakit yang diakibatkan tubuh kekurangan protein kalori yang cukup besar. Penyakit ini muncul akibat sejumlah sel tubuh tidak mendapatkan protein, akhirnya fungsi sel tidak dapat bekerja secara normal. 

Beberapa kondisi bila si Kecil mengalami kwashiorkor antara lain: 

Stunting

Stunting termasuk penyakit yang paling umum dialami oleh anak yang kekurangan protein. Penyakit ini semakin sering dan umum terjadi karena kurangnya kesadaran akan kebutuhan gizi seimbang dan kesehatan anak yang optimal. Anak yang mengalami penyakit kekurangan protein ini biasanya memiliki tubuh pendek. Hal ini terjadi karena kurangnya kolagen (jenis protein fibrosa) yang bertugas membantu menjaga massa otot serta pertumbuhan tulang. 

Masalah pada Rambut, Kulit, dan Kuku

Salah satu fungsi protein adalah mengoptimalkan jaringan tubuh, seperti rambut, kulit, dan kuku. Jenis protein penyusunnya adalah kolagen dan keratin. Bila si Kecil kekurangan asupan protein ini, maka ia akan mengalami gangguan, seperti rambut rontok, kuku lebih rapuh, dan kulit kering dan mengelupas. 

Pembengkakan pada Organ Tubuh

Penyakit kekurangan protein seperti kwashiorkor juga dapat menyebabkan cairan dalam tubuh bisa menumpuk di jaringan dan mengakibatkan terjadinya pembengkakan (edema). Biasanya edema terjadi pada rongga perut. Oleh karena itu, anak yang mengidap edema ditandai dengan perut buncit dan tubuh kurus. 

Penyakit kekurangan protein: Hipoproteinemia

Hipoproteinemia merupakan penyakit kekurangan protein yang cukup tinggi dalam darah. Selain kurangnya protein, anak yang mengidap penyakit ini pun memiliki masalah kesehatan lain, seperti penyakit ginjal, penyakit hati, radang usus, dan celiac (penyakit autoimun). 

Gejala dari penyakit kekurangan protein ini ada yang ringan hingga berat, di antaranya :

  • Sering mengalami infeksi
  • Mudah sakit
  • Mengalami kelelahan yang ekstrem 
  • Rambut tipis, kering, dan rontok
  • Kulit kering dan mudah mengelupas

Penyakit kekurangan protein: Marasmus Kwashiorkor 

Penyakit kekurangan protein ini merupakan gabungan marasmus dan kwashiorkor. Artinya, anak dengan kondisi ini akan memiliki berat badan kurang dari 60% dari berat badan anak normal seusianya. Selain itu, anak juga akan mengalami pembengkakan, tubuh lemah, mengalami masalah kompleks pada rambut, kulit, dan kuku. 

Selain penyakit kekurangan protein di atas, ada pula dampak buruk yang bisa dialami si Kecil bila kekurangan asupan protein, di antaranya :

  • Pertumbuhan gigi terhambat
    Protein berfungsi untuk membentuk jaringan tubuh, salah satunya gigi. Ketika pembentukan jaringan tidak berjalan dengan baik, otomatis pertumbuhan gigi pun akan terhambat.
  • Lemahnya daya tahan tubuh
    Fungsi protein yakni sebagai antibodi. Di masa kanak-anak, daya tahan tubuh si Kecil masih belum sempurna sehingga membutuhkan protein lebih banyak untuk melawan infeksi virus atau bakteri. Jika si Kecil kekurangan protein, antibodi yang seharusnya terbentuk pun akan terhambat dan bisa menyebabkan daya tahan tubuh melemah.
  • Proses penyembuhan luka jadi lebih lama
    Fungsi protein lainnya adalah memperbaiki jaringan yang rusak. Inilah alasannya jika anak kekurangan protein, maka luka yang Ia derita pun akan lebih lama sembuh karena kandungan protein yang tidak cukup.
  • Gangguan fungsi otak
    Asam amino yang ada di dalam protein menghasilkan neurotransmitter yang berperan penting untuk perkembangan otak anak. Jika si Kecil kekurangan protein, maka neurotransmitter yang dihasilkan pun lebih sedikit. Akibatnya, fungsi otak berisiko mengalami gangguan dan kurang optimal dalam menyerap informasi.
  • Kesehatan mental dapat terganggu
    Gangguan fungsi otak juga bisa berdampak terhadap kesehatan mental anak lho, Bu. Ini karena asam amino dibutuhkan untuk memproduksi serotonin dan dopamin, yang merupakan hormon untuk memperbaiki suasana hati dan menjaga kesehatan mental. Jika kedua hormon ini tidak diproduksi dengan baik, akibatnya bisa berdampak pada suasana hati yang buruk yang nantinya memicu gangguan perilaku pada anak.

Baca juga: Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang 9 Asam Amino Esensial

Untuk menangani penyakit kekurangan protein, lebih baik Ibu berkonsultasi langsung dengan dokter untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Namun, bila si Kecil tidak menunjukkan gejala-gejala di atas, saatnya Ibu melakukan pencegahan dengan mencukupi kebutuhan nutrisi si Kecil agar tumbuh kembangnya lebih optimal. 

Pencegahan Penyakit kekurangan protein 

Penyakit kekurangan protein dapat dicegah dengan menjalani gaya hidup sehat dengan gizi seimbang. Meskipun penyakit ini disebabkan karena kurangnya protein, bukan berarti Ibu harus memberikan protein berlebihan kepada si Kecil, ya. Pasalnya, kelebihan protein pun akan berbahaya terhadap tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, Ibu perlu menyeimbangkan kebutuhan nutrisi seimbang yang meliputi :

  • Sumber karbohidrat, seperti nasi, roti, atau kentang
  • Sumber protein, seperti susu, telur, ikan, daging merah, daging putih, dan kacang-kacangan serta hasil olahan lainnya
  • Sumber mineral dan vitamin, seperti buah-buahan, sayuran, serta susu dan produk olahannya 

Selain memenuhi nutrisi dari makanan utama, Ibu juga bisa memberikan si Kecil susu sebagai sumber protein hewani yang baik untuk tumbuh kembangnya. Kandungan protein di dalam susu membantu tubuh untuk memproduksi 9 asam amino esensial (9AAE) yang mengoptimalkan pertumbuhannya serta dapat mencegah munculnya risiko penyakit kekurangan protein pada anak. Susu Frisian Flag 456 PRIMANUTRI bisa jadi pilihan tepat untuk menambah nutrisi harian si Kecil agar tumbuh pintar, kuat, dan tinggi.