Whatsapp Share Like
Simpan

Memiliki anak berusia 2 tahun sering membuat kewalahan ya, Bu. Ia akan sering tiba-tiba ngambek dan menangis tanpa sebab yang jelas. Apalagi kalau sampai anak menangis hingga berteriak dan berguling-guling di tempat umum, Ibu dan Ayah mungkin akan panik dan bingung harus melakukan apa. Mengapa bisa begitu ya, Bu? Agar Ibu bisa menangani tantrum pada anak 2 tahun tersebut, simak dulu deh informasi yang sudah saya kumpulkan berikut:

Mengenal Perkembangan Emosi Anak 2 Tahun

Memasuki usia 2 tahun, si Kecil sudah bisa berjalan dan ingin mencoba melakukan banyak hal sendiri tanpa bantuan orang lain. Di sini ia sedang belajar untuk mengembangkan sifat kemandirian yang ia miliki. Meski begitu, ia tetap saja belum bisa sepenuhnya mandiri dan bergantung pada orang tuanya, terlebih dalam keadaan tertentu, seperti saat takut, sakit, atau lelah. Ia membutuhkan Ibu untuk membuatnya merasa tenang dan nyaman.

Masalahnya adalah sulit untuk mengetahui kapan si Kecil sedang membutuhkan Ibu dan kapan sedang ingin belajar mandiri. Mungkin hari ini ia tidak keberatan untuk jauh dari Ibu, tapi besok ia ingin menempel terus pada Ibu dan anak menangis keras saat Ibu pergi.

Masa ini disebut sebagai first adolescence, yaitu rasa dilema yang dimiliki si Kecil antara ingin menjadi mandiri dan terus bergantung pada Ibu. Ini adalah fase yang sangat normal dimiliki anak berusia 2 tahun, Bu. Menurut para ahli parenting, cara untuk dapat dengan lancar melewati fase ini adalah dengan memberikan si Kecil kasih sayang dan perhatian yang dibutuhkannya. Saat ia sedang mandiri, maka biarkan ia belajar melakukannya sendiri. Namun saat ia sedang ingin manja pada Ibu, maka manjakanlah tanpa berlebihan.

Faktor Penyebab Anak Menangis & Solusinya

Sangat penting untuk mengenali penyebab anak menangis agar Ibu bisa menemukan solusi yang tepat. Ada beberapa faktor yang biasanya menjadi penyebab ia menangis, yaitu sebagai berikut:

Artikel Sejenis

  • Sedih. Rasa sedih akibat kehilangan adalah yang paling umum muncul pada anak berusia 2 tahun. Penyebabnya bisa bermacam-macam, misalnya mainan favoritnya hilang, orang tua harus pergi ke luar kota, atau berpisah dengan keluarga atau teman yang datang berkunjung. Ekspresi yang akan ia tunjukkan pun adalah rewel atau menangis.
    Solusi: ajak si Kecil bicara dengan memberikan penjelasan menggunakan bahasa sederhana. Dikarenakan di usia ini perhatian si Kecil masih sangat mudah teralihkan, maka boleh saja untuk menyibukkannya dengan sesuatu yang menarik perhatiannya. Misalnya dengan mengajak bermain permainan yang belum pernah ia mainkan atau pergi ke luar rumah untuk bermain. Intinya adalah untuk mengalihkan perhatian si Kecil supaya ia tidak rewel lagi.
  • Kesal. Rasa kesal dan membuat anak menangis biasanya dimiliki pada si Kecil yang belum lancar berbicara. Ia menginginkan sesuatu, tapi Ibu tidak dapat memahami maksudnya. Ia pun merasa kesal dan akhirnya meluapkan perasaannya melalui teriakan dan tangisan keras.
    Solusi: penting bagi Ibu untuk tidak terpancing emosi dan ikut merasa kesal, karena hanya akan memperkeruh suasana dan membuat si Kecil semakin ngambek. Tahan emosi Ibu dan bicaralah kepadanya dengan suara lembut tapi bernada tegas dan lakukan kontak mata. Tanyakan sekali lagi keinginannya dan minta ia untuk menyampaikan keinginannya, misalnya menggunakan isyarat tubuh.
    Jika keinginannya sudah terpenuhi, biasanya ia tidak akan rewel lagi. Namun jika masih, artinya ada hal lain yang membuatnya kesal. Berikanlah ia pelukan hangat dan tanyakan secara lembut kenapa ia merasa marah dan kesal. Ia mungkin belum bisa mengutarakan kekesalannya. Jadi, Ibu sebaiknya menebak apa yang menjadi pemicu kekesalannya. Dengan cara ini si Kecil akan memahami bahwa rasa nyaman yang ia rasakan disebut kesal.
  • Lelah. Saat melihatnya bermain, berlarian, dan sulit untuk diam, Ibu mungkin akan berpikir bahwa si Kecil tidak memiliki rasa lelah. Padahal bukan seperti itu juga, Bu. Ia hanya belum dapat mengukur kemampuan dirinya, sehingga belum tahu kapan harus berhenti sebelum merasa benar-benar kelelahan. Sebagai akibatnya, ia akan rewel sebelum kehabisan energi. Ingin tidur tapi belum mengantuk sedangkan sudah tidak memiliki tenaga lagi.
    Solusi: Jika si Kecil sudah cukup lama beraktivitas, Ibu sebaiknya berusaha untuk menyuruhnya beristirahat. Jangan menyuruh secara mendadak ya, Bu, tapi berikan peringatan terlebih dulu. Misalkan 15 menit sebelumnya dan diulang setiap 5 menit. Saat waktunya sudah habis, maka Ibu harus dengan tegas menghentikan aktivitas si Kecil. Memberikan peringatan sebelum menyuruh anak berhenti bermain akan membuatnya bersiap untuk berhenti dan dapat menghindarkannya dari tantrum.

Anak menangis adalah bentuk ungkapan perasaannya, Bu, karena di usia ini si Kecil memang masih belum memahami apa yang ia rasakan dan bagaimana cara mengutarakannya. Ibu harus bisa bersabar dan berusaha memahami apa yang ia rasakan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bu, dan selamat mencoba solusi di atas.

Jika Ibu masih memiliki pertanyaan dan ingin berkonsultasi seputar si Kecil, bisa mengunjungi laman Tanya Pakar, ya. Di sana ada para ahli yang akan membantu Ibu. Jangan lupa untuk registrasi terlebih dulu agar bisa menggunakan fitur tersebut.

Sumber:

www.motherandbaby.co.id, nakita.grid.id