Whatsapp Share Like Simpan

Setelah bayi terlahir ke dunia, menyusui akan menjadi kegiatan sehari-hari Ibu. Bayi hanya bisa menyusu selama 6 bulan di awal kehidupannya. Betapa bahagianya saat bayi menyusu dengan lahap yang menandakan kalau ia dalam kondisi sehat. Namun bagaimana jika suatu ketika bayi muntah menyembur?

Berbeda dengan gumoh yang hanya mengeluarkan sedikit susu setelah menyusu, muntah menyembur terjadi dengan cepat dengan cairan susu yang keluar cukup banyak dan menyembur jauh. Mengapa bayi bisa mengalami hal tersebut?

Ciri-ciri Muntah Menyembur pada Bayi

Bayi mengalami gumoh setelah menyusu adalah hal yang wajar terjadi sebab sistem pencernaannya memang masih belum berkembang dengan sempurna. Saat gumoh, bayi akan mengeluarkan kembali sedikit ASI atau susu yang telah ia minum sebelumnya yang terlihat seperti menetes atau mengalir dari mulutnya. Setelah gumoh, bayi akan kembali membaik dengan cara digendong berdiri untuk disendawakan.

Lain halnya dengan muntah menyembur atau yang disebut juga dengan muntah proyektil. Bayi muntah menyembur mempunyai ciri yang berbeda dengan gumoh. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

  • Muntah terjadi dengan kuat dan cepat.
  • Cairan muntah menyembur jauh.
  • Kadar cairan yang dimuntahkan cenderung banyak.
  • Tidak ditemui tanda rewel sebelum muntah.
  • Dapat terjadi setelah menyusu atau beberapa jam setelahnya.
  • Sangat jarang buang air kecil dan buang air besar.
  • Berlangsung terus-menerus seolah bayi menolak diberi asupan cairan.

Ketika Ibu melihat bayi sering muntah, perhatikanlah gejala yang ditampakkan. Apabila bayi terus menolak menyusu, sebaiknya segera periksakan ke dokter karena dikhawatirkan ia akan terkena dehidrasi karena kekurangan asupan cairan.

Artikel Sejenis

Baca juga: 6 Makanan untuk Anak yang Mengalami Muntah

Apa Penyebab Bayi Muntah Menyembur?

Bayi yang muntah menyembur bisa terjadi karena beberapa alasan berikut:

  • Stenosis pilorus

Bayi muntah menyembur lebih sering disebabkan oleh stenosis pilorus. Apa itu? Ini adalah sebuah kondisi saat pilorus (saluran antara usus kecil dan lambung) mengalami penyempitan. Sebagai akibatnya, bayi akan kesulitan mencerna cairan dan nutrisi yang masuk ke tubuhnya.

Kondisi tersebut kemudian akan menutup jalur makanan bayi dari perut ke usus kecil. Kondisi stenosis pilorus pada bayi ini biasanya bisa diatasi dengan jalan operasi kecil agar bayi dapat menerima asupan nutrisi pada tubuhnya dengan baik. Ibu tak perlu khawatir, karena operasi ini minim risiko.

  • Terlalu Banyak Menyusu

Bayi yang terlalu banyak minum ASI atau susu juga bisa mengalami muntah proyektil. Pada kondisi ini, bayi harus menelan cepat dan menyebabkan udara yang masuk ke mulutnya menjadi terlalu banyak sehingga akan berpotensi memicu muntah. Untuk bayi yang mengonsumsi susu, udara yang masuk ke perutnya dapat terjadi ketika ia menyusu dari botol dot yang ukurannya terlalu besar bagi usianya.

  • GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

Bayi yang terlalu banyak minum ASI atau susu juga bisa mengalami muntah proyektil. Pada kondisi ini, bayi harus menelan cepat dan menyebabkan udara yang masuk ke mulutnya menjadi terlalu banyak sehingga akan berpotensi memicu muntah. Untuk bayi yang mengonsumsi susu, udara yang masuk ke perutnya dapat terjadi ketika ia menyusu dari botol dot yang ukurannya terlalu besar bagi usianya.

GERD merupakan sebuah gangguan pencernaan yang memiliki gejala kenaikan asam lambung yang terjadi secara berulang dan dalam jangka panjang. GERD tidak hanya bisa menimpa dewasa, tapi juga bayi.

Kondisi ini akan membuat ASI yang masuk ke lambung kembali naik ke kerongkongan bersamaan dengan cairan asam lambung. Jika bayi muntah menyembur karena GERD, cairan yang dimuntahkan akan berwarna hijau atau kuning. Bayi juga akan tampak kesulitan bernapas dan menolak untuk menyusu atau makan.

  • Alergi

Bayi yang mengalami alergi tak mesti selalu muncul gatal, ruam, atau memerah pada kulitnya. Respon alergi bayi terhadap makanan tertentu juga bisa berupa muntah proyektil. Ibu perlu berkonsultasi kepada dokter untuk kemungkinan tersebut. Untuk bayi yang menyusu secara langsung, coba ingat kembali makanan apa yang Ibu konsumsi sebelum menyusui sebagai cara mendeteksi alergi yang dialami bayi.

Mencegah Bayi Muntah Menyembur

Gerak usus (refluks) yang dialami oleh bayi sebenarnya mampu dicegah dengan mengetahui posisi yang benar saat bayi makan atau menyusu. Ibu bisa mencoba beberapa hal berikut ini:

  • Posisikan bayi di sebelah kiri.
  • Menyusui bayi pada posisi tegak.
  • Jangan menggoyang bayi setelah menyusu atau makan.
  • Angkat posisi bayi setelah menyusu atau makan.

Hal yang Perlu Diwaspadai

Ibu harus waspada saat bayi muntah dengan kuat dan disertai keluarnya cairan selain susu, seperti darah, cairan berwarna kuning atau hijau, atau yang mengandung material yang tampak seperti bubuk kopi.  Jika akibat dari muntah proyektil mengakibatkan bayi terlihat tidak nyaman, seperti terus muntah, tampak pucat, malas menyusu, menangis kesakitan, kurang cairan, dan lemas, segera ambil tindakan dengan membawa bayi ke dokter. Pada bayi yang sudah makan makanan padat, refluks ringan bisa diatasi dengan cara mengentalkan makanan bayi menggunakan pengental makanan bayi atau tepung jagung.


Pada dasarnya, bayi dan anak-anak memang cenderung kerap muntah dan umumnya akan sembuh dengan sendirinya. Setelah bayi muntah menyembur, ia mungkin akan merasa lapar dan haus. Agar mencegah ia terserang dehidrasi, maka Ibu bisa memberikan air. Tak hanya mampu mencegah dehidrasi, air juga mampu membersihkan asam lambung di dalam tubuh bayi. Semoga informasi di atas bermanfaat ya, Bu.

Bagi Ibu yang ingin berkonsultasi seputar bayi, bisa berkunjung ke laman Tanya Pakar, ya. Pertanyaan Ibu akan dijawab langsung oleh ahlinya. Untuk bisa mengakses laman tersebut, jangan lupa untuk registrasi terlebih dulu.

 

Sumber:

Sehatq