Whatsapp Share Like Simpan

Senang sekali melihat bayi menyusu dan makan dengan lahapnya. Ia pun akan mendapatkan banyak nutrisi dari ASI atau susu serta makanan yang Ibu berikan. Namun jika setelah itu bayi muntah, rasanya panik sekali ya, Bu.

Bayi muntah bisa terjadi saat isi lambung kembali ke kerongkongan dan dikeluarkan melalui mulut menjadi muntah. Sesekali muntah juga bisa keluar melalui hidung yang disebabkan oleh bersin atau cegukan. Bagi Ibu yang ingin mengetahui lebih dalam seputar muntah pada bayi, bisa langsung menyimak informasi berikut ini:

Muntah Lewat Hidung Adalah Kondisi yang Abnormal

Dalam kondisi tertentu, bayi juga bisa mengalami muntah lewat area lain selain mulut, yaitu hidung bahkan mata. Kondisi ini disebut tidak normal, karena keluar melalui area yang tidak wajar. Biasanya sebelum muntah bayi seperti terlihat kesakitan dan wajahnya tampak memerah akibat saluran cernanya mengalami peningkatan tekanan sehingga memicu keluarnya cairan menjadi muntahan. Ada kalanya bayi memuntahkan cairan sampai menyembur dan terasa sakit, sehingga bayi pun akan rewel dan menangis.

Di bawah ini ada beberapa tanda jika bayi mengalami muntah yang tidak normal, yaitu:

  • Bayi tampak sangat kesakitan.
  • Muntah disertai dengan pembengkakan perut.
  • Muntahan berwarna kuning kehijauan yang bisa jadi pertanda ususnya mengalami gangguan.
  • Muntah berulang setelah mengalami cedera yang bisa jadi pertanda bayi mengalami gegar otak.
  • Muntah hebat dan terus-menerus.
  • Pada muntahan terdapat darah dalam jumlah banyak.
  • Muntah disertai dengan mata dan kulit menguning yang bisa menjadi gejala sakit kuning (jaundice).

Jika Ibu mendapati gejala-gejala di atas, sebaiknya segera bawa bayi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan medis dan dapat diketahui penyebabnya.

Artikel Sejenis

Apa Penyebab Bayi Muntah Lewat Hidung?

 

Muntah lewat hidung memang terasa tidak nyaman. Untuk itu Ibu perlu tahu beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, yaitu:

  • Bayi keracunan makanan.
  • Terkena alergi susu.
  • Asam lambung meningkat hingga memicu refluks.
  • Terserang infeksi parasit, virus, atau bakteri.
  • Mengalami infeksi saluran pernapasan atau infeksi telinga.
  • Pneumonia
  • Radang usus buntu.
  • Meningitis
  • Bayi mengalami stenosis pilorus, yaitu sebuah kondisi penyempitan pada pilorus (saluran yang mengangkut minuman dan makanan dari lambung ke usus 12 jari). Sebagai akibatnya, makanan jadi tidak dapat lewat dan dicerna oleh tubuh.

Bayi muntah juga bisa disebabkan karena ia sudah terlalu kekenyangan menyusu atau makan. Oleh karena itu Ibu perlu mengetahui kapasitas perut bayi. Ada bayi yang hanya mampu makan banyak, tapi ada juga yang hanya mampu makan dalam porsi sedikit. Pelajari dengan seksama seberapa besar porsi yang pas untuknya. Terlalu sering muntah juga tidak baik bagi kondisi kesehatannya karena bisa menghambat kenaikan berat badannya.

Namun meski bayi mampu makan banyak, Ibu tetap harus menyesuaikan porsi makannya dengan berat badan dan usia bayi. Jika dibiasakan makan dalam porsi besar, dikhawatirkan bisa mengakibatkan bayi mengalami kegemukan dan menjadi kebiasaan hingga ia besar nanti.

Baca juga: 6 Makanan untuk Anak yang Mengalami Muntah

Cara Mengurangi Risiko Bayi Muntah Lewat Hidung

Jika bayi pernah muntah lewat hidung tapi masih terlihat sehat, tumbuh kembangnya tidak terganggu, dan tidak memiliki gejala komplikasi, Ibu masih belum perlu khawatir secara berlebihan. Namun jika bayi menolak untuk menyusu, maka sebaiknya bawalah ke dokter spesialis anak untuk dilakukan pemeriksaan secara mendetail. Dokter umumnya akan melakukan pemeriksaan fisik dan USG bila perlu guna mengetahui kondisi perut bayi.

Di samping pemeriksaan secara medis, Ibu juga bisa melakukan beberapa langkah untuk menurunkan risiko bayi muntah. Berikut di antaranya:

  • Susui dan suapi bayi dengan porsi yang cukup. Lebih baik bayi makan dan menyusu dalam porsi sedikit tapi sering supaya tidak melebihi kapasitas lambungnya. Tunggulah sekitar 2 jam saat kondisi lambungnya sudah tidak penuh lagi untuk menyusui atau memberinya makan lagi.
  • Sendawakan bayi. Gendong bayi dalam posisi tegak, lalu tepuk-tepuk punggungnya dengan lembut supaya ia bersendawa, sehingga dapat membuat udara yang masuk saat menyusu bisa keluar. Cara ini akan memberikan rasa lega pada perut dan mengurangi rasa ingin muntah.
  • Gendong bayi setelah menyusu dan makan. Hindari membaringkan bayi setelah ia menyusu atau makan. Gendong ia sekitar 30 menit untuk menurunkan makanan yang ia konsumsi ke dalam pencernaan.
  • Istirahat setelah menyusu dan makan. Bayi sebaiknya tidak beraktivitas terlalu berat setelah selesai menyusu dan makan karena dapat berisiko mengembalikan isi perut ke kerongkongan dan memunculkan rasa ingin muntah. Biarkan ia beristirahat atau melakukan kegiatan yang santai, seperti membaca buku atau bernyanyi.

Kini setelah mengetahui informasi tentang bayi muntah, Ibu pun dapat lebih waspada dan tahu kapan harus berkonsultasi pada dokter mengenai kondisi bayi. Setelah ia muntah, tunggulah setidaknya sejam untuk kembali menyuapi atau menyusuinya ya, Bu. Semoga bayi selalu dalam keadaan sehat dan tumbuh kembangnya berjalan optimal.

Untuk Ibu yang ingin berkonsultasi seputar tumbuh kembang bayi, kunjungi saja laman Tanya Pakar. Para ahli di sana akan menjawab semua pertanyaan Ibu secara langsung. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dulu, ya.

Sumber:

Popmama, Alodokter