Whatsapp Share Like
Simpan

Di beberapa bulan kehidupan, bayi pasti akan sering mengalami muntah. Ini sebenarnya hal yang wajar sebab sistem pencernaannya memang belum matang. Bayi juga masih beradaptasi dalam menyusu. Meski begitu, Ibu tetap harus tahu kapan bayi muntah atau sekedar gumoh. Bagaimanakah muntah yang dianggap normal dan yang harus dibawa ke dokter? Apa penyebab bayi sering muntah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab melalui uraian berikut:

Muntah vs Gumoh

Apa sih perbedaan muntah dan gumoh pada bayi? Muntah merupakan proses mengeluarkan isi perut dengan jumlah yang banyak dan diiringi dengan semburan yang kuat. Saat muntah, diafragma dan otot perut berkontraksi dengan kencang yang merupakan reaksi spontan.

Sedangkan gumoh merupakan keluarnya ASI atau susu melalui mulut dengan jumlah yang sedikit dan biasanya dialami oleh anak di bawah usia 1 tahun. Saat bayi menyusu, susu akan melewati bagian belakang mulut, turun ke kerongkongan, lalu menuju lambung. Cincin otot yang terletak antara kerongkongan dan lambung akan menutup setelah susu masuk ke lambung. Namun jika tidak menutup sempurna, maka susu dapat kembali ke kerongkongan hingga terjadi gumoh.

Penyebab Bayi Sering Muntah

Di bulan-bulan pertamanya, bayi akan mengalami gumoh ataupun muntah di hampir setiap selesai menyusu. Ini disebabkan katup kerongkongannya belum cukup matang. Katup kerongkongan bayi baru akan matang saat usianya menginjak 4 hingga 5 bulan dan gumoh baru berhenti saat bayi berusia 1 tahun. Bagaimana dengan muntah?

Jika bayi Ibu sering muntah, maka penyebabnya bisa berupa hal-hal berikut ini:

  • Adanya masalah pencernaan
  • Terlalu banyak menangis
  • Sedang batuk atau flu
  • Mengalami infeksi telinga
  • Ada infeksi kandung kemih
  • Mengalami meningitis
  • Radang usus buntu
  • Stenosis pilorus (cincin otot antara lambung dan usus yang terlalu tebal sehingga jalur ke lambung tertutup dan membuat makanan tidak bisa lewat)

Jika selesai menyusu bayi Ibu sering gumoh, muntah, maupun batuk-batuk sebanyak lebih dari 5 kali sehari, Ibu boleh berkonsultasi dengan dokter. Biasanya dokter akan merekomendasikan pengental susu atau memberi resep antasida khusus bayi untuk menetralkan asam di perutnya. Keduanya bisa langsung dicampurkan ke dalam susu yang diminum bayi Ibu.

Tips Mengurangi Frekuensi Muntah

Ibu tentunya tidak ingin melihat bayi Ibu sering muntah, bukan? Untuk itu Ibu perlu melakukan beberapa tips untuk mengurangi frekuensi muntahnya:

  1. Setelah bayi selesai menyusu, gendong ia secara vertikal selama kurang lebih 30 menit.
  2. Hindari adanya penekanan pada perut bayi setelah menyusu selama 30 menit, seperti menghindari mendudukkan bayi di car seat.
  3. Biasakan untuk menyendawakan bayi untuk mengeluarkan angin yang ikut masuk ke perut selama menyusu.
  4. Jangan mengajak bayi bermain terlalu aktif setelah menyusu, karena akan membuat lambungnya ikut bergerak.

Harus Langsung Dibawa ke Dokter Jika…

Meskipun menjadi hal yang normal untuk bayi mengalami muntah, tapi Ibu perlu waspada jika terjadi beberapa hal berikut:

  • Muntah terus menerus lebih dari 4-6 jam sehari
  • Muntahan berwarna hijau
  • Tidak mau menyusu
  • Dehidrasi (mulut, lidah, dan kulit kering)
  • Frekuensi mengganti popok basah kurang dari 5 kali sehari
  • Mata cekung
  • Napas cepat
  • Ubun-ubun cekung
  • Diare lebih dari 6 kali sehari
  • Kulit pucat
  • Terdapat darah pada muntahan atau feses
  • Demam lebih dari 39°C selama lebih dari 12 jam

Mengenal Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Ibu tidak perlu khawatir jika bayi hanya gumoh. Selama ia masih aktif, berat badan naik, serta pola menyusu dan tidurnya normal, maka bayi Ibu masih dalam keadaan normal. Namun jika anak sering muntah yang disertai rewel, menolak menyusu, sering melengkungkan punggung, berat badan kurang, menangis keras setelah menyusu, bisa jadi anak mengalami Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Di bawah ini adalah gejala-gejala saat si Kecil mengalami GERD:

  • Pertumbuhannya terhambat karena nutrisi yang masuk kurang mencukupi.
  • Mengalami masalah pernapasan, seperti batuk, bersin, tersedak, atau ingin muntah.
  • Merasa kesakitan dan tidak nyaman.
  • Mengalami pneumonia karena adanya inhalasi isi perut ke paru-paru.

Saat Ibu melihat adanya gejala-gejala muntah yang abnormal di atas, maka jangan ragu lagi untuk membawa si Kecil ke dokter ya, Bu. Biarkan dokter memeriksa kondisinya agar bayi Ibu bisa mendapatkan penanganan selanjutnya.

Sebagai pertolongan pertama saat anak sering muntah, Ibu bisa memberikan cukup cairan berupa ASI. Berikan secara sedikit demi sedikit dan tunggu kondisi perutnya membaik. Setelah muntah jangan langsung menyusuinya, tapi tunggu setidaknya 1 jam. Ibu juga bisa menidurkan bayi untuk menenangkannya dan menghilangkan keinginan untuk muntah.

Semoga artikel ini dapat membantu Ibu yang sedang mengalami masalah muntah pada buah hatinya. Selamat mencoba tips di atas dan semoga bayi Ibu lekas membaik ya, Bu.

Sumber: https://id.theasianparent.com, https://www.alodokter.com