Share Like
Simpan

“Duh, kalau melihat sakit asma si Kecil sedang kumat, rasanya saya juga ikut sesak napas, Bu.”

Itulah kalimat yang muncul dari salah satu teman kantor saya saat sedang konsultasi kesehatan anaknya beberapa waktu lalu. Kebetulan, si Kecil yang masih berusia dua tahun itu memiliki penyakit asma. Setelah mendengar beberapa saran dari teman dan keluarga terkait terapi yang aman, nyaman, dan efektif untuk penyakit ini, teman saya akhirnya mengandalkan inhaler sebagai pertolongan pertama untuk si Kecil saat asmanya kambuh.

Mendengar kondisi ini, saya jadi teringat dengan kondisi keponakan saya yang juga memiliki penyakit asma. Memang sedih rasanya melihat anak yang masih berusia dua tahun harus mengalami sesak napas saat kondisi udara terlalu dingin atau sewaktu menghirup udara yang penuh dengan polusi. Selain napasnya yang berbunyi seperti peluit, ia juga mengalami batuk yang sering disebut dengan bengek. Melihat hal ini, akhirnya adik ipar saya memutuskan untuk menggunakan terapi inhalasi sebagai perawatan si Kecil saat bengek menyerang.

Sebetulnya, cara menangani asma ada bermacam-macam, Bu. Bisa dengan memberikan tablet untuk diminum (oral), infus (parenteral), dan juga melalui inhalasi. Banyak yang percaya bahwa terapi inhalasi menjadi cara paling efektif karena dosis obatnya cenderung lebih kecil serta penanganannya langsung ke saluran pernapasan sehingga lebih cepat bereaksi. Apa itu terapi inhalasi? Terapi inhalasi adalah proses pemberian obat kepada orang yang mengalami sesak napas dengan memberikan obat secara langsung ke saluran pernapasan melalui uap yang dihirup.

Supaya Ibu lebih jelas, berikut adalah dua jenis perawatan anak dengan terapi inhalasi yang bisa dicoba untuk mengobati penyakit pernapasan:

  • Nebulizer

Bagi Ibu yang memiliki balita, sebaiknya gunakan nebulizer di rumah untuk mengobati masalah pernapasan sebagai salah satu metode merawat si Kecil. Nebulizer adalah sebuah alat yang dilengkapi dengan masker untuk menguapkan obat asma yang berwujud cairan sehingga bisa langsung mesuk ke saluran pernapasan.

Cara menggunakannya cukup mudah kok, Bu. Coba posisikan si Kecil untuk duduk dengan tegak (jika ia belum bisa duduk sendiri, sebaiknya pangku ia agar Ibu bisa menopang punggungnya dengan baik), kemudian pasangkan masker sehingga menutupi hidung dan mulut si Kecil. Usahakan agar tabung pada masker tetap dalam posisi tegak ya Bu untuk menghindari obat yang tumpah atau penguapan yang kurang maksimal. 

Jika masker sudah terpasang dengan baik, minta si Kecil untuk bernapas lewat mulut. Terapi ini biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit atau hingga cairan obat mengering sesuai dengan dosis yang sudah ditetapkan oleh dokter. Alat inhalasi ini terdiri dari dua jenis, Bu, yaitu portable nebulizer yang mudah dibawa memakai baterai dan nebulizer yang menggunakan listrik.

  • Inhaler

Kebanyakan orang lebih mengenal alat ini sebagai pertolongan pertama pada penyakit asma. Selain bentuknya yang kecil dan mudah dibawa, inhaler tidak membutuhkan baterai ataupun listrik untuk menggunakannya. Alat ini terdiri dari dua jenis, yaitu Metered-dose Inhalers (MDI) berupa kaleng semprot kecil berisi larutan anti-inflamasi dan Dry powder Inhalers (DPIs) yang berupa bubuk untuk meredakan asma. Apabila si Kecil masih berusia di bawah lima tahun, sebaiknya pilihlah inhaler berjenis MDI untuk sebagai salah satu alat perawatan si Kecil agar lebih mudah digunakan ya, Bu.

Sebagai tambahan informasi, terapi inhalasi ini tidak hanya bisa digunakan untuk meredakan gejala asma saja, Bu. Ibu bahkan bisa menggunakan teknik ini untuk mengurangi gejala flu dan batuk pada si Kecil, lho. Saya adalah salah satunya. Saya lebih memilih menggunakan terapi inhalasi ini untuk mengeluarkan dahak ketika si Kecil mulai terserang flu dan batuk. Namun, sebaiknya Ibu temui terlebih dahulu dokter terpercaya untuk diskusi masalah si Kecil seputar mesin yang dipakai, obat dan dosis yang diperlukan, ya.

Nah, itulah kira-kira informasi yang bisa saya berikan seputar terapi inhalasi. Apabila Ibu masih bingung, janganlah ragu untuk konsultasi kesehatan si Kecil terutama dengan ahlinya ya, Bu. Selamat beraktivitas dengan si Kecil!