Share Like
Simpan

Anak merupakan sebuah harta yang begitu berharga bagi keluarga. Bisa dibilang, semua mata betul-betul tertuju padanya. Hal ini juga yang saya rasakan saat memiliki anak pertama, Bu. Setiap kali ada saudara-saudaranya di rumah, hampir seluruh anggota keluarga yang hadir langsung menghampiri si Kecil dan bergantian menggendongnya.

Nah, ada kejadian menarik waktu saya datang ke acara keluarga dulu. Jadi, waktu si Kecil sedang menyantap biskuit miliknya, tiba-tiba ada salah satu Tantenya iseng ingin meminta biskuit tersebut. Spontan, ia langsung memegang makanan tersebut erat-erat dan memalingkan wajah, Bu! Melihat tanggapannya tersebut, saya langsung tersenyum. Ya, di usianya saat itu, ia belum begitu memahami apa arti berbagi.

Namun, bukan berarti kita tidak bisa mulai mencoba mengenalkan si Kecil dari sekarang, lho. Memang sih, mengajarkan si Kecil untuk berbagi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Pada awalnya, ia sama sekali tidak mau memberikan apapun yang sudah ia pegang kepada orang lain atau si Kecil justru pilih-pilih orang yang mau ia ajak berbagi. Duh, saya sempat khawatir kalau sifatnya tadi bisa terbawa hingga ia besar.

Apakah Ibu juga pernah merasakan hal sama? Wah, pasti bingung juga ya, seperti saya dulu. Untungnya, saya menemukan jurusnya, Bu. Salah satunya dengan memberikan contoh langsung, misalnya saat sedang makan bersama. Dulu, saya dan suami kerap membagikan camilan yang kami santap untuk si Kecil. Ternyata benar lho, Bu. Setelah beberapa kali melihat saya atau Ayahnya berbagi,  perlahan ia mulai mempraktekkan hal yang sama juga.

Belajar berbagi tentu memiliki banyak manfaat. Jika dibiasakan sejak dini, si Kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang mudah berbaur saat ia besar nanti.  Nah, tahap berbagi makanan atau mainan ini bisa dijadikan sebagai langkah awal agar ia mau belajar berbagi serta mengasihi sesamanya, Bu. Mengingat anak cenderung tidak mau membuka diri dengan orang yang jarang ditemui, mengajarkannya berbagi juga dapat memacu perkembangan bersosialisasinya. Baik, bukan?

Mengajarkan ia arti berbagi dengan orang lain bisa ikut menumbuhkan ikatan emosional tersendiri dengan anggota keluarga lainnya. Apalagi, menginjak usia 9-12 bulan, si Kecil sudah mulai bisa mengenal wajah anggota keluarga yang dekat dengannya dan orang lain yang masih asing baginya. Tidak hanya itu saja manfaatnya, Bu. walaupun saat ini kemampuan bicaranya masih harus berkembang, mengenalkan si Kecil dengan kata-kata “Terima kasih” atau “Silahkan” saat menawarkan sesuatu kepada orang lain juga ikut meningkatkan kemampuan berbahasanya juga, lho.

Nah, belajar berbagi memang memiliki manfaat besar bagi perkembangan emosional dan sosial si Kecil. Namun, agar tumbuh kembangnya semakin optimal, ia tentu membutuhkan nutrisi tepat untuk mendukung perkembangannya. Oleh sebab itu, secara berkala, saya rajin menyajikan menu MPASI yang terbuat dari buah-buahan atau sayur yang kaya akan Vitamin C. Misalnya seperti pisang, alpukat, pepaya, ubi atau buncis yang direbus lalu ditumbuk halus.

Kandungan Vitamin C sendiri memiliki manfaat yang sangat baik bagi tumbuh kembang si Kecil. Tidak hanya sebagai pendukung sistem imun, kandungan yang sering ditemui pada buah-buahan berwarna kuning ini juga bisa mencegah si Kecil dari gangguan mata saat ia besar nanti, Bu. Tidak jarang, saya juga beberapa kali mencampur dua atau tiga jenis buah dan sayur agar rasanya lebih bervariasi. Selain lezat, kandungan gizinya juga lebih banyak, Bu. Hasilnya, si Kecil tetap sehat dan tumbuh kembangnya tetap optimal.

Bagaimana, Bu? Semoga informasi saya ini dapat membantu Ibu dalam mengasah kemampuan si Kecil untuk berbagi.Terima kasih sudah membaca dan jika Ibu punya tips atau cerita seru lainnya, silahkan dibagikan kepada saya dan para pembaca lewat kolom komen di bawah ini, ya!