Share Like
Simpan

Saat hamil, para Ibu cenderung lebih sensitif karena suasana hatinya berubah dengan cepat. Sewaktu mengandung si Kecil sekitar dua tahun lalu, saya juga mengalami hal ini, Bu. Bahkan, pernah suatu kali, hanya karena mendengar pertanyaan atau ucapan suami yang kurang berkenan di hati, saya jadi tersinggung berkepanjangan.

Padahal, menurut info kehamilan yang saya dapat dari sesi live chat yang pernah saya ikuti di Facebook, kestabilan emosi selama masa kehamilan berpengaruh positif pada kesehatan Ibu dan calon buah hati. Oleh karenanya, orang-orang terdekat, terutama suami, perlu lebih berhati-hati saat berbicara dengan Ibu selama masa kehamilan. Masih menurut sesi live chat itu, setidaknya ada lima kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan oleh Ayah karena dikhawatirkan bisa membuat Ibu menjadi emosional. Berikut selengkapnya:

1. “Kok, kamu tidur terus, sih?”
Semenjak mengandung si Kecil, perubahan hormon terjadi pada tubuh Ibu. Pada beberapa Ibu, hal ini membuat rasa kantuk makin tak tertahankan. Tak hanya itu, penyerapan sari-sari makanan dari tubuh Ibu ke tubuh si Kecil juga membuat Ibu lebih mudah lelah dan lemas. Jadi, demi menjaga kesehatan, selain mengonsumsi makanan kaya nutrisi, Ibu juga perlu mencukupi kebutuhan istirahat dengan menambah durasi tidur harian.
Untuk itu, penting bagi Ayah untuk memaklumi Ibu yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur. Hindari berkata “Kok kamu tidur terus sih?” atau kalimat-kalimat bernada protes lainnya, supaya Ibu tidak tersinggung dan merasa dimengerti.

2. “Akhir-akhir ini, rumah kok terlihat berantakan ya.”
Menjalani momen kehamilan dengan serangkaian perubahan fisik dan emosi bukanlah hal yang mudah. Fisik Ibu jadi lebih cepat lelah dan mood pun berubah-ubah. Di sisi lain, Ibu perlu beradaptasi dengan berbagai perubahan, sekaligus mempersiapkan mental untuk menyambut si Kecil dan menyandang status baru sebagai seorang ibu.

Oleh karenanya, suami perlu lebih berempati dan menunjukkan sikap penuh pengertian sebagai bentuk dukungan emosional untuk Ibu. Sebisa mungkin, tahan keinginan untuk bertanya, “Kenapa akhir-akhir ini rumah jadi berantakan sekali, ya?”

Alih-alih bertanya dan membuat Ibu merasa disalahkan atas kondisi itu, akan lebih bijak bila Ayah terjun langsung menyelesaikan pekerjaan rumah, misalnya mengepel lantai rumah, membersihkan meja dapur, atau mencuci pakaian.

3. “Kenapa kamu marah-marah terus, sih?”
Perubahan mood yang begitu cepat selama hamil juga sering kali membuat Ibu mudah mengeluh maupun marah-marah. Ayah perlu menjaga perasaan Ibu dengan lebih bersabar mendengarkan keluh kesah Ibu. Ketimbang berkata “Kenapa kamu marah-marah terus sih?” atau kalimat lain dengan makna serupa, Ayah disarankan membantu Ibu menstabilkan mood dengan memberikan perhatian supaya Ibu merasa lebih baik.

4. “Apakah stretch mark itu bisa hilang setelah melahirkan?”
Membesarnya ukuran perut dan bagian tubuh lainnya secara cepat menjadi faktor utama timbulnya stretch mark (guratan-guratan menyerupai kulit jeruk) pada tubuh Ibu hamil. Perlu Ayah ketahui, hal ini membuat para Ibu terganggu dan bisa menurunkan kepercayaan dirinya karena merasa ia tak lagi menarik. Jadi, hindari memperparah hal ini dengan membahas guratan-guratan itu, apalagi sampai bertanya “Apakah stretch mark itu bisa hilang nantinya?”, ya.

5. “Haruskah saya menemani di dalam ruang bersalin?”
Selain membahagiakan, melahirkan menjadi momen yang cukup mendebarkan bagi banyak Ibu. Terlebih bila ini adalah pengalaman pertama baginya. Untuk itu, Ibu membutuhkan kehadiran orang-orang terdekat, terutama suami, untuk menemaninya melewati berbagai Momen Wow selama kehamilan. Jadi, Ayah sebisa mungkin perlu hadir di ruang bersalin. Hindari mengeluarkan pernyataan maupun pertanyaan yang menunjukkan keengganan seperti, “Haruskah saya menemani di ruang bersalin?”. Hal ini bisa membuat Ibu merasa sedih dan sendirian lho.

Meski demikian, suami boleh saja tidak hadir di ruang bersalin jika memang ada permintaan dari Ibu atau rekomendasi dari dokter.

Nah, itu dia lima kalimat yang sebisa mungkin dihindari oleh Ayah saat Ibu sedang hamil. Yuk, tunjukkan pada Ayah agar ia lebih mudah membantu Ibu menjaga mood selama masa kehamilan!