Whatsapp Share Like Simpan

Anak usia dini adalah anak yang memiliki rentang usia 0-8 tahun. Di kategori usia tersebut, anak memiliki karakteristik yang berbeda dari kategori usia lainnya. Karakteristik anak usia dini sangat bervariasi, tergantung pada sifat bawaan yang diwariskan dari kedua orangtua.

Karakteristik terbagi menjadi dua jenis, yaitu positif dan negatif. Keduanya membutuhkan penanganan yang tepat dari orangtua supaya tidak berpengaruh terhadap masa depan anak. Untuk dapat menanganinya, maka orangtua pun perlu memahami seperti apa sih karakteristik anak usia dini tersebut?

Mempunyai Rasa Ingin Tahu yang Besar

Karakteristik anak usia dini yang paling menonjol adalah selalu ingin tahu tentang berbagai macam hal yang ia temui di sekitarnya. Rasa keingintahuan tersebut bisa terjadi karena si Kecil memang sedang tahap belajar. Apapun yang terlihat di matanya pasti akan sangat menarik perhatiannya.

Saat bayi, rasa keingintahuan ditunjukkan dengan cara meraih benda lalu dimasukkan ke dalam mulut. Di usia 3-4 tahun, si Kecil suka membongkar pasang banyak barang untuk memuaskan rasa keingintahuannya. Si Kecil juga akan sering bertanya apa saja pada orang lain untuk menjawab pertanyaan yang ada di kepalanya.

Sangat Energik dan Aktif

Ibu mungkin sering kewalahan saat menghadapi si Kecil yang terus bergerak aktif seolah-olah energinya selalu terisi penuh dan tidak pernah merasa lelah. Namun, memang ini memang salah satu karakteristik anak usia dini, Bu. Anak-anak di usia ini senang sekali melakukan berbagai kegiatan, karena pada dasarnya ia sedang belajar. Biarkan saja si Kecil aktif bergerak supaya pengetahuannya semakin bertambah, kemampuannya terasah dengan baik, dan tubuhnya lebih sehat.

Artikel Sejenis

Memiliki Jiwa Petualang

Memiliki Jiwa Petualang

Akibat rasa ingin tahu yang besar dan sifatnya yang enerjik, si Kecil pun akan senang sekali menjelajahi sesuatu. Jiwa petualang di dalam dirinya membuat si Kecil terus bergerak ke semua arah, mencoret dinding, membongkar barang, berlari, memanjat, dan sebagainya. Untuk menyikapi karakteristik anak usia dini yang satu ini, Ibu pun perlu mengawasi buah hati dengan baik untuk menghindarkannya dari bahaya.

Kepribadian yang Unik

Setiap anak memiliki kepribadian unik yang terlihat mirip, tapi tetap terdapat ciri khas tersendiri. Misalnya pada bakat, minat, atau gaya belajarnya. Keunikan yang dimiliki oleh anak ini adalah hasil dari warisan orangtua yang dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan. Inilah yang perlu dipahami betul oleh orangtua dalam mendidik buah hatinya. Dibutuhkan pendekatan secara personal untuk bisa menangani anak pada kategori usia dini agar penanganannya dapat berjalan dengan tepat.

Berpikir Sesuai Makna Sesungguhnya

Anak usia dini masih berpikir secara sederhana. Ia akan memproses semua hal di otaknya sesuai dengan makna yang sesungguhnya. Tentunya ini jelas berbeda dari cara berpikir anak pada kategori usia yang lebih dewasa yang sudah mampu berpikir abstrak.

Penuh Imajinasi

Karakteristik anak usia dini yang tak kalah menonjol adalah penuh dengan imajinasi. Si Kecil akan suka membayangkan berbagai macam hal yang tidak nyata dan terkadang menciptakan teman imajiner. Selain itu, si Kecil juga suka berfantasi berdasarkan apa yang ia lihat untuk dikembangkan menjadi lebih luar biasa dalam pikirannya. Karakteristik ini penting untuk dimiliki oleh setiap anak, karena dapat membangun jiwa kreatif dan inovatif.

Daya Konsentrasi yang Masih Pendek

Daya Konsentrasi yang Masih Pendek

Di usia ini perhatian si Kecil mudah sekali teralihkan, karena daya konsentrasinya yang masih pendek. Karakteristik tersebut membuatnya sulit untuk diberi arahan dan diajari. Untuk mengajari si Kecil, maka Ibu perlu menggunakan metode yang bervariasi untuk mencegahnya merasa bosan. Metode baru juga akan membuatnya lebih tertarik. Si Kecil juga sebaiknya tidak belajar dalam rentang waktu lama, karena ia pasti cepat bosan dan tidak fokus lagi.

Masa Belajar Paling Potensial

Kategori anak usia dini berada dalam periode golden age, yaitu masa di mana otak sedang berkembang dengan sangat pesat. Ini menjadikannya sebagai masa belajar yang paling potensial. Dengan stimulasi yang tepat, kemampuan si Kecil dapat terlatih dengan baik sesuai dengan kategori usia dan tahapan perkembangan kemampuan anak.

 

Baca juga: Pentingnya Menanamkan Pendidikan Karakter di Dalam Keluarga

Mempelajari Banyak Hal dengan Tubuhnya

Selain dengan menjelajah, si Kecil juga belajar menggunakan semua anggota tubuhnya. Ia akan mengenali segala sesuatu dengan cara menyentuh, membau, mengamati, merasakan, melompati, dan lainnya. Di sini, semua indera dan kemampuan si Kecil akan terlatih untuk dapat berkembang lebih optimal.

Egosentris

Ini adalah karakteristik anak usia dini yang dimiliki oleh setiap individu. Karakteristik egosentris bisa dilihat dari sikap si Kecil yang cenderung mementingkan dan memperhatikan dirinya sendiri atau melihat segala hal dari sudut pandangnya saja. Contohnya saja ketika si Kecil merebut sesuatu, suka memaksakan kehendak, dan menangis atau marah jika keinginannya tidak terpenuhi. Di sini orangtua perlu menjelaskan pada si Kecil tentang saling berbagi dan menghormati orang lain agar ia tidak tumbuh menjadi anak yang egois dan selalu ingin menang.

Bersifat Spontan

Karakteristik anak usia dini juga cenderung suka melakukan atau berbicara dengan spontan. Ini karena si Kecil memang masih polos apa adanya tanpa rekayasa. Sifat tersebut bisa dilihat saat si Kecil mengucapkan sesuatu dengan ceplas-ceplos tanpa ia tahu bahwa yang diucapkannya itu salah. Begitu juga saat bertindak, ia akan melakukan sesuatu sesuai yang ada di pikirannya.

Memiliki Semangat Belajar yang Tinggi

Karakteristik anak usia dini lainnya adalah memiliki semangat untuk belajar yang tinggi. Saat si Kecil sedang tertarik dengan suatu hal, maka ia akan sangat semangat untuk mempelajari dan memahaminya. Contohnya saja ia sedang tertarik bermain puzzle. Ia pun akan berusaha dengan keras untuk berhasil menyusun puzzle hingga membentuk gambar yang benar.

Sangat Mudah Frustasi

Sangat Mudah Frustasi

Si Kecil pada kategori anak usia dini juga sangat mudah merasa frustasi. Rasa ingin tahu yang besar tapi tidak terpenuhi terkadang bisa menyebabkan si Kecil akhirnya frustasi. Si Kecil akan menunjukkan rasa frustasi tersebut dalam bentuk tangisan, amarah, teriakan, tantrum, dan sebagainya.

Belum Memahami Sebab Akibat

Anak-anak masih belum memahami konsep sebab akibat dengan baik. Akibatnya, ia pun berisiko dalam bahaya. Contohnya saja ia berlarian di jalan. Ia belum memahami bahwa jalan adalah tempat banyak kendaraan berlalu-lalang. Ia bisa saja terluka ketika berlarian di jalan. Namun pada usia ini si Kecil memang lebih tertarik untuk bermain sesuka hati daripada mendengarkan nasihat orangtuanya.

Senang Berinteraksi

Anak usia dini juga merupakan bagian dari makhluk sosial, sehingga ia akan senang berinteraksi dan berada di lingkungan bersama teman sebayanya. Si Kecil suka bermain, bekerja sama, dan saling menyemangati teman-temannya. Ini sebagai cara dirinya membangun konsep tentang dirinya sekaligus belajar bertoleransi terhadap orang lain.

 

Mengenali buah hati dengan baik merupakan cara untuk bisa memahami karakteristik anak usia dini. Oleh karena itu, sediakanlah waktu untuk menghabiskan waktu bersama si Kecil. Cara ini juga membantu Ibu untuk bisa menangani karakteristik si Kecil dengan tepat. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bu.

Ibu memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi seputar anak? Langsung kunjungi laman Tanya Pakar saja ya, Bu. Para ahli di sana akan menjawab semua pertanyaan Ibu secara langsung. Untuk bisa memakai fitur tersebut, pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dulu.

 

Sumber:

Dosenpsikologi