Whatsapp Share Like Simpan

Ada yang cenderung memberi kebebasan, tapi ada juga yang cenderung protektif terhadap anaknya. Itulah perbedaan pola asuh anak (parenting) yang diterapkan oleh masing-masing orang tua. Bentuk pengasuhan tersebut memang ada beberapa jenis. Itulah mengapa karakter setiap anak juga bisa berbeda-beda.

Dari beberapa pola asuh tersebut, manakah yang dianggap paling ideal untuk diterapkan? Sebelumnya, kenali dulu yuk jenis-jenis pola asuh anak. Berikut informasinya untuk Ibu ketahui:

1. Pola Asuh Permisif

Ciri-ciri pola asuh anak permisif antara lain orang tua agak menuntut, suka memanjakan, dan cenderung menghindari percakapan dengan anaknya. Sebagai dampaknya, anak tidak merasa dekat dengan orangtuanya, kesulitan untuk bersikap mandiri, dan umumnya tidak pandai memimpin.

2. Pola Asuh Lalai

Ciri-ciri penerapan pola asuh anak yang satu ini adalah adanya kebebasan lebih dari orang tua terhadap anaknya. Anak bebas untuk melakukan apa saja yang ia mau. Orang tua juga tidak menuntut, tidak responsif, jarang berinteraksi dengan anak, serta tidak melibatkan anak dalam hal apapun.

Intinya, orang tua hanya berpikir kebutuhan dasar anak tercukupi, sedangkan kebutuhan emosional anak tidak diperhatikan. Jika anak dibesarkan dengan pola asuh lalai, biasanya ia menjadi kurang percaya diri dan tidak mempunyai kontrol diri.

Artikel Sejenis

3. Pola Asuh Keterikatan

Jenis pola asuh yang satu ini cenderung fokus pada anak. Semua kebutuhan dan keamanan anak merupakan prioritas bagi orang tua. Selain itu, orang tua juga kerap menenangkan serta berkomunikasi dengan banyak sentuhan fisik, seperti menyentuh, memeluk, menggendong, hingga tidur bersama anak.

4. Pola Asuh Demokratis

Pada parenting jenis ini, orang tua yang berperan besar dalam membuat pedoman dan aturan di dalam keluarga. Orang tua selalu bersikap responsif saat anak bertanya atau menyampaikan pendapatnya. Orang tua tidak otoriter, tapi tetap mengarahkan anak untuk berbuat yang benar, selalu mendukung, mudah memaafkan, tidak terlalu membatasi, dan tidak menyalahkan anak saat melakukan kesalahan.

5. Pola Asuh Otoriter

Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter akan mempunyai aturan yang ketat pada anaknya. Jika si anak tidak mematuhinya, maka ia akan diberi hukuman. Orang tua juga menuntut anak terlalu tinggi tapi tidak diimbangi dengan pemberian dukungan yang sepadan. Peran orang tua terhadap kehidupan anak juga sangat mendominasi. Dampak dari penerapan pola asuh ini anak memang lebih penurut dan mudah diatur, tapi ia kurang bahagia, takut mencoba, dan sukar mengambil keputusan sendiri.

6. Pola Asuh Helikopter

Layaknya helikopter, orang tua yang mengasuh anaknya dengan pola asuh helikopter suka mengatur pada tiap sisi kehidupan anaknya, mulai dari makanan yang anak konsumsi tiap hari, lingkungan pertemanan, hingga apa yang harus anak lakukan di waktu luangnya. Orang tua juga ingin selalu membantu saat anak mengalami kesulitan. Akibat dari pola asuh anak semacam ini, anak kurang mendapatkan kepercayaan dari orang tuanya.

7. Pola Asuh Positif

Pola asuh positif mengacu pada diskusi antara orang tua dan anak untuk mendapatkan solusi yang adil bagi keduanya. Orang tua akan memberikan beberapa pilihan saran positif kemudian anak bisa memilih mana saran yang paling baik untuknya. Dengan begitu, anak akan terlibat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya. Tidak melulu mutlak keputusan orang tua.

8. Pola Asuh Narsistik

Ini adalah tipe pola asuh anak yang diterapkan oleh sebagian besar orang tua. Ada sisi positif dalam pola asuh narsistik, yakni orang tua mendukung penuh minat anak. Sayangnya, dukungan yang diberikan terlalu berlebihan sehingga dapat membentuk karakter sombong pada anak. Pola asuh ini boleh saja diterapkan, tapi harus diseimbangkan dengan nasihat agar anak tetap menjadi pribadi yang rendah hati dan ramah terhadap orang lain.

9. Pola Asuh Pendampingan

Orang tua yang menerapkan pola asuh pendampingan akan membebaskan anaknya untuk bereksplorasi tapi tetap di bawah pengawasannya. Ini adalah jenis pola asuh yang baik untuk diterapkan di masa kini, menimbang besarnya rasa ingin tahu anak-anak. Di samping anak bisa bereksplorasi, anak juga akan belajar bertanggung jawab terhadap hal yang dilakukannya.

10. Pola Asuh Hypnosis

Pada dasarnya pola asuh hypnosis bertujuan untuk menyuntikkan sugesti positif pada anak yang diharapkan dapat membimbing anak tanpa merasa dipaksakan. Pola asuh ini memiliki dampak positif anak lebih terbuka kepada orang tua terhadap segala hal. Jadi, orang tua tidak perlu lagi berusaha mengorek informasi dari anaknya.

11. Pola Asuh Lumba-lumba

Pola asuh lumba-lumba mengedepankan kebebasan yang bertanggung jawab dan dapat menggali potensi kreatif pada diri anak. Selain itu, pola asuh ini juga membiarkan anak untuk bersosialisasi dengan orang lain secara terbuka, sehingga anak menjadi mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan.

12. Pola Asuh Meracuni

Pola asuh ini harus sangat dihindari ya, Bu. Pada pola asuh meracuni, orang tua sering melakukan kekerasan, baik secara fisik maupun emosional. Kebutuhan anak pun terabaikan. Sebagai dampaknya, anak jadi tidak dapat mengenali dirinya sendiri dan kurang memiliki kepercayaan diri.

13. Pola Asuh Mercusuar

Orang tua yang mengasuh anaknya dengan pola asuh mercusuar membiarkan anaknya mengalami dan merasakan kegagalan serta konsekuensi yang menyertainya. Di samping itu, orang tua akan memberikan dukungan, dorongan, dan nasehat agar anak berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan pola pengasuhan ini, anak pun dapat tumbuh menjadi pribadi yang cakap dan tangguh.

14. Pola Asuh Holistik

Menerapkan pola asuh holistik, orang tua akan memberikan contoh yang baik dari dirinya sendiri. Di samping itu, orang tua juga menghargai adanya perbedaan kepribadian dengan sang anak serta memberikan kebebasan pada anak untuk mengembangkan potensi dan keyakinan yang anak miliki. Dengan begitu, anak akan lebih menghargai lingkungan sekelilingnya dan memiliki kesadaran batin.

Melihat banyaknya jenis pola asuh anak di atas membuat sebagian orang tua bingung ingin menerapkan yang mana kepada buah hatinya. Namun pola asuh yang tidak mengekang tapi tetap bertanggung jawab adalah jenis yang dianggap paling ideal. Anak tidak akan merasa dibatasi untuk mengembangkan potensinya, tapi masih memiliki rasa tanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya. Semoga informasi di atas bermanfaat.

Bila Ibu ingin bertanya atau berkonsultasi seputar anak, bisa berkunjung ke laman Tanya Pakar ya, Bu. Di sana ada para ahli yang akan membantu Ibu. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dahulu.

 

Sumber:

TheAsianParent, Popmama