Share Like
Simpan

Rasanya baru kemarin menggantikan popok si Kecil dan mengajarinya belajar jalan, eh, sekarang sudah waktunya ia melepas popok dan mulai menggunakan toilet untuk buang air kecil atau besar. Hal ini penting, karena si Kecil akan belajar untuk tidak mengompol dan melatih dirinya untuk buang air besar pada tempatnya. Nah, mengajari anak belajar menggunakan toilet memang membutuhkan kesabaran ekstra, namun penting untuk perkembangan psikologi anak tersebut nantinya. Namun, Ibu jangan khawatir. Ada beberapa tips untuk untuk memudahkan Ibu melatih toilet training pada si Kecil untuk memudahkan Ibu:

1. Jangan dipaksakan

Biasanya, toilet training mulai dilakukan kepada si Kecil yang sudah menginjak usia 18 hingga 24 bulan. Namun, toilet training tidak bisa dipaksakan jika si Kecil belum siap dan tidak mau. Jangan sampai ia menjadi stres, karena hal itu dapat berdampak buruk pada perkembangan psikologi si Kecil. Ibu harus memerhatikan tanda-tanda kesiapannya. Beberapa di antaranya adalah:

  • Si Kecil sudah dapat berdiri, belajar jalan sendiri, bahkan bisa berlari dengan stabil.
  • Sudah bisa menjaga popoknya tetap kering dan bersih selama dua jam atau lebih. Ini tandanya si Kecil sudah memiliki kemampuan untuk menahan kemih atau buang air besar.
  • Tidak jijik atau takut terhadap toilet dan tertarik dengan kegiatan di kamar mandi.
  • Ia mulai tidak betah menggunakan popok dan ingin menggunakan celana dalam.
  • Si Kecil sudah belajar bicara ketika ia ingin buang air kecil atau besar atau bisa memberikan isyarat yang jelas bahwa dia ingin BAB atau BAK.
  • Ia sudah mulai mengerti dan mengikuti perintah sederhana dari Ibu.

2. Membuat Rutinitas

Salah satu tips untuk toilet training adalah dengan menjadikan pergi ke toilet menjadi sebuah rutinitas untuk si Kecil. Sebagai contohnya, Ibu dapat mengajaknya duduk di toilet setiap kali bangun pagi atau sekitar 45 menit hingga satu jam setelah ia meminum banyak cairan. Perhatikan juga waktu-waktu biasa si Kecil hendak buang air besar atau kecil, di waktu-waktu tersebutlah Ibu bisa mengajaknya untuk toilet training.

3. Ciptakan suasana menyenangkan

Ketika hendak melakukan toilet training bersama si Kecil, buatlah kegiatan ini menjadi menyenangkan. Beberapa alternatif yang bisa Ibu lakukan adalah:

  • Saat si Kecil belum siap menggunakan toilet sungguhan, ajari ia untuk membuang air kecil dan besar di pispot berbentuk lucu dan memiliki warna kesukaannya. Biarkan kegiatan ini berlangsung untuk beberapa waktu, hingga si Kecil tertarik menggunakan toilet sungguhan.
  • Agar si Kecil tidak merasa tegang ketika akan menggunakan toilet, cobalah menyanyi bersama ketika mengajak ia pergi ke toilet. Ibu bisa menyanyi lagu-lagu bernada ceria, agar suasana hati si Kecil menjadi gembira.
  • Membawa bacaan khusus bagi si Kecil saat toilet training. Pilih sekitar lima buku bacaan yang benar-benar disukainya, namun biarkan ia membaca buku kesukaannya itu hanya ketika ia sedang menggunakan toilet. Temani si Kecil saat membaca dan beri batasan waktu tertentu, agar ia tidak menjadi keasyikan dan terlalu lama duduk di toilet.
  • Beri pujian kepadanya ketika ia sudah berhasil duduk dengan manis di atas toilet dan bisa menggunakan toilet tersebut untuk buang air kecil pun besar. Ibu juga bisa memberi penghargaan berupa hadiah sederhana, seperti stiker yang ditempel di sebuah buku, setiap kali si Kecil berhasil melalui toilet training hari itu dengan baik. Penghargaan seperti ini pastinya akan memberi dampak positif juga bagi perkembangan psikologi anak.

Namun, hal yang harus Ibu perhatikan adalah toilet training yang dapat membantu perkembangan psikologi balita ini tidak berlangsung dalam waktu satu hari dan langsung berhasil. Butuh waktu cukup lama, hingga si Kecil mampu belajar jalan sendiri ke toilet, yaitu sekitar tiga sampai enam bulan, bahkan sampai tahunan proses toilet training. Jadi, harap bersabar ya, Bu. Tetap semangat!