Share Like
Simpan

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat telepon dari teman. Rupanya, hari itu ia sedang kebingungan melihat perubahan sikap pada si Kecil yang tiba-tiba sering menangis dan seperti tidak mau lepas darinya. Mendengar keluh kesahnya ini membuat saya teringat akan kondisi serupa yang saya hadapi sewaktu si Kecil masih berusia lima tahun dulu.

Tanda-tandanya pun sama persis. Saya pun langsung memberikan penjelasan kepadanya bahwa perilaku si Kecil tersebut patut diwaspadai. Menurut pengalaman saya dulu, bisa jadi si Kecil sedang mengalami depresi dan stres. Ya, hal ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tapi bisa juga dialami oleh balita.

Si Kecil yang masih sangat muda tentunya belum paham apa itu depresi dan stres. Maka, sebagai orang tua, Ibulah yang perlu mengawasi perubahan tingkah lakunya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya adalah si Kecil menjadi pemarah atau moody, menarik diri dari kegiatan yang biasanya membuatnya senang, terlihat cemas, suka mengeluh, dan menangis lebih sering dari biasanya.

Indikasi lainnya adalah si Kecil memperlihatkan ekspresi ketakutan, lebih sering menempel pada Ibu atau Ayahnya, dan memiliki kebiasaan tidur serta makan yang berbeda dari biasanya. Perilaku negatif ini tidak selalu dikaitkan dengan stres, tapi dapat menjadi tanda bahwa ia sedang mengalami sesuatu yang tidak semestinya terjadi padanya.

Selain perubahan perilaku, stres dan depresi pada si Kecil juga bisa dilihat dari gejala fisik, seperti sakit perut atau kepala. Jika ia mengeluh perut atau kepalanya merasa sakit namun dokter tidak menemukan adanya penyakit, bisa jadi, itu adalah reaksi tubuhnya yang sedang mengalami stres atau depresi.

Banyak hal yang bisa menyebabkan si Kecil menjadi depresi atau stres. Berikut ini adalah beberapa di antaranya dan cara mengatasinya:

  • Melihat Orang tua Gelisah dan Stres

Si Kecil memang belum mengerti semua kata yang diucapkan oleh orang dewasa. Namun, ia bisa merasakan bahasa tubuh orang tuanya yang sedang resah. Hal itu bisa membuat ia ikutn gelisah. Maka dari itu, jika Ibu atau Ayah sedang cemas atau stres, cobalah untuk menenangkan diri dulu sebelum bertemu dengan si Kecil. Ibu bisa mencoba meditasi atau mendengarkan musik untuk relaksasi. Menjadi orang tua yang tenang dan pintar mengatur emosi merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat stres pada.

  • Berpisah dengan Orang tua

Si Kecil langsung menangis kencang ketika Ibu hendak meninggalkannya sebentar ke acara reuni teman SMA? Dalam pikirannya, ia merasa takut bahwa Ibu akan pergi untuk waktu yang lama, sehingga ia menjadi stres. Saat Ibu berencana keluar, beri pengertian kepada si Kecil ke mana dan berapa lama Ibu akan pergi. Titipkan ia bersama orang-orang yang sudah dikenalnya dengan baik. Ibu juga bisa meninggalkan foto Ibu dan salah satu baju Ibu untuk membantu menenangkan si Kecil saat Ibu pergi.

  • Dengar ‘Cerita Seram’

Walaupun cerita yang Ibu bacakan kepadanya itu tidak menyeramkan, bisa jadi si Kecil merasakan sebaliknya. Pasalnya, ia belum bisa membedakan mana yang nyata dan tidak. Oleh sebab itu, berhati-hatilah terhadap apa yang si Kecil lihat di buku cerita dan tonton di televisi. Saat ia mulai merasa ketakutan terhadap sesuatu, beri penjelasan padanya bahwa hal menakutkan itu tidak akan menyakitinya. Temani sampai si Kecil merasa tenang dan aman.

  • Menggunakan Toilet

Saat masih batita, si Kecil bebas buang air kecil dan besar tanpa harus berpikir, karena menggunakan popok. Seiring bertambahnya usia, ia harus belajar menahan rasa ingin buang airnya sebentar  untuk pergi ke toilet. Ternyata, hal ini bisa menjadi salah satu penyebab stres pada si Kecil. Bentuk toilet dengan tempat duduk dan lubang besar di tengah bisa terlihat menakutkan untuknya. Maka dari itu, temani si Kecil setiap kali akan buang air di toilet. Mengobrol dengannya juga dapat mengalihkan perhatiannya, dan membuat pengalaman buang air di toilet ini jadi lebih menyenangkan.

Kira-kira itulah informasi yang bisa saya bagikan kepada Ibu. Semoga bermanfaat ya, Bu!