Share Like
Simpan

Mengajarkan konsep transaksi di masa tumbuh kembang balita terkadang dirasa belum begitu perlu. Seperti kemarin ketika saya menghadiri acara reuni akbar SMA. Seperti acara reuni pada umumnya, di sana ada beberapa stan yang menjual pernak-pernik hingga makanan. Nah, sewaktu saya dan salah satu teman dekat saya sedang berkeliling, tiba-tiba anaknya merengek meminta ibunya untuk membelikan ia salah satu jajanan kue yang disediakan. Melihat teman saya mencoba menolak dengan berbagai cara mengingatkan saya dengan kebiasaan si Kecil sewaktu berusia lima tahun dulu.

Seiring dengan perkembangan anak saat ini, si Kecil sudah mulai mengerti konsep jajan atau membeli sesuatu karena melihat Ibu melakukannya. Melarangnya membeli sesuatu sebetulnya tidak selalu menjadi solusi untuk mencegah kebiasaan jajan pada anak lho, Bu. Sebaliknya, justru manfaatkanlah momen seperti ini untuk mengajarkan konsep transaksi serta uang kepada si Kecil. Pelajaran seperti ini merupakan sesuatu yang penting bagi perkembangan kemampuan intelektual anak. 

Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari permainan hingga praktik ke tempat perbelanjaan bersama orang tua. Ini merupakan langkah awal agar si Kecil bertanggung jawab dalam hal keuangan. Agar ia bisa memahami dengan baik apa itu konsep transaksi, Ibu dapat melakukan cara berikut ini:

  • Pahami sumber uang

Sebelum mengajarkan konsep transaksi, hal pertama yang perlu Ibu ajarkan pada balita adalah dari mana uang berasal. Jika selama ini si Kecil sering melihat Ibu mengambil uang di ATM atau menggesek kartu debit dan kredit untuk mendapat barang yang diinginkan, berikan penjelasan soal sumber uang tersebut. Misalnya, ceritakan kepadanya bahwa Ibu dan Ayah harus bekerja setiap hari supaya Ibu bisa menyimpan uang di Bank agar bisa membayar benda-benda yang dibeli. Melalui cara ini, Ibu sekaligus mengajarkan kepada si Kecil bahwa barang dapat dibelu jika kita mengumpulkan uang terlebih dahulu. Supaya memudahkan Ibu, Bank mengeluarkan kartu ATM, agar Ibu tidak perlu membawa-bawa uang dalam jumlah yang banyak.  

  • Jelaskan nilai uang

Menurut artikel yang saya baca dari penelitian Dorothy Singer di Universitas Yale, dalam masa perkembangan balita, ia masih sulit memahami nilai uang, Bu. Oleh sebab itu, ajarkan si Kecil bahwa setiap bentuk koin dan lembaran uang memiliki nilai berbeda-beda. Sederhananya, saat mengajari konsep uang receh, saya meminta si Kecil membedakan koin Rp100, Rp200 dan Rp500 berdasarkan ukurannya. Ukuran yang lebih besar memiliki nilai lebih tinggi. Pada uang lembaran, saya mengajarinya bahwa semakin banyak angka nol yang tertulis, semakin besar nilai uang tersebut.

  • Belajar berhitung

Nah, selain belajar bicara, si Kecil juga dapat belajar berhitung dengan matematika sederhana, Bu. Misalnya, berhitung dari 1 sampai 10, lalu ajari menghitung kelipatan lima, seperti 10, 15, 20, dan seterusnya. Setelah itu, baru ajari si Kecil menghitung menggunakan uang koin dan lembaran. Hati-hati saat mengenalkan uang koin agar ia tidak memasukkannya ke mulut atau menelannya. Pastikan juga ia untuk selalu mencuci tangannya setelah memegang uang ya, Bu.

  • Main jual-jualan

Cara paling menyenangkan mendidik si Kecil tentang konsep transaksi adalah dengan membuat sebuah permainan. Saya paling senang mengajak si Kecil untuk menjejerkan buah-buahan, boneka, dan barang lainnya di atas meja. Lalu, kami bersama-sama memainkan peran penjual dan pembeli. Biasanya saya yang menjadi penjual dan si Kecil yang jadi pembelinya. Sebelum mulai bermain, saya sudah terlebih dahulu menyiapkan uang-uangan dari kertas. Nah, ketika ia membayar, biasanya saya sering memberikan kembalian supaya ia memahami bahwa nilai suatu barang berbeda dengan barang lainnya dan sekaligus mengajarkan konsep kembalian.

  • Praktikkan cara berbelanja

Beda tempat belanja, beda pula cara berbelanjanya. Jangan lupa ajarkan ia soal hal ini, ya. Ajak si Kecil ketika Ibu berbelanja baik di toko kelontong maupun supermarket agar ia mengerti perbedaannya. Ibu bisa mulai memintanya membayar sendiri barang yang ia beli. Jangan lupa dampingi si Kecil di awal-awal proses transaksi ini ya, Bu.

  • Terangkan tentang uang kembalian

Umumnya, ketika si Kecil mulai mengerti uang, biasanya secara psikis si Kecil tersebut sudah siap memahami konsep uang kembalian. Jika ia belum terbiasa, Ibu bisa mulai mengingatkan si Kecil untuk mendapat uang kembalian dengan nominal yang sesuai ketika berbelanja.

  • Gunakan uang

Meski ia sering melihat Ibu menarik uang di ATM atau bertransaksi dengan kartu debit dan kredit, tahan dulu keinginan untuk mengajari hal tersebut, ya. Menurut penulis buku The Financially Intelligent Parent, Eileen Gallo, konsep debit dan kredit akan membingungkan balita soal nilai uang. Oleh karena itu, biarkan ia memegang uang tunai dan melihat jumlah uang berkurang dari tangannya.

Bagaimana, Bu? Tak sulit bukan, mengajari balita soal konsep transaksi yang baik? Apalagi, menurut penulis buku Get a Financial Life asal Amerika Serikat, Beth Kobliner, kebiasaan belanja dan menabung bisa mulai dibentuk sejak umur tiga tahun. Meski sebagian orang membiarkan si Kecil tak memahami konsep ini sampai usia tertentu, namun saya berpendapat ini merupakan salah satu hal dasar dalam tumbuh kembang balita, terutama dari sisi psikologi. Jadi, selamat mencoba, Bu!