Whatsapp Share Like Simpan

Thalasemia pada anak bisa terlihat dari gejala yang muncul di dua tahun pertama sejak kelahirannya. Penting bagi Ibu untuk mengetahui gejala thalasemia pada anak sedini mungkin agar dapat menghindari risiko komplikasi dari penyakit genetik ini. Bahkan, setiap orang tua yang hendak memiliki anak disarankan untuk menjalani pemeriksaan genetik untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing pihak, agar risiko thalasemia pada anak bisa dikurangi. Sebab, thalasemia termasuk penyakit yang bisa menyebabkan risiko berbahaya dan jangka panjang pada anak-anak. Sebelum membahas mengenai gejala, penyebab, dan cara mengatasi thalasemia pada anak, sebaiknya Ibu kenali dulu apa itu penyakit thalasemia secara garis besar.

Apa itu Thalasemia?

Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Thalasemia pada anak ditandai oleh adanya sel darah merah yang abnormal sehingga membuat penderitanya mengalami anemia atau kurang darah.

Kondisi itulah yang perlu Ibu ketahui lebih dalam mengenai thalasemia pada anak karena banyak orang tua yang menganggap anaknya hanya mengidap anemia biasa akibat kekurangan zat besi. Padahal, anemia tersebut bisa menjadi salah satu tanda si Kecil mengalami thalasemia.

Anemia atau kurang darah yang dialami penderita thalasemia akan menimbulkan keluhan cepat lelah, mudah mengantuk, hingga sesak napas. Thalasemia pada anak patut Ibu waspadai, terutama thalasemia yang berat (mayor) karena dapat menyebabkan komplikasi kesehatan, seperti gagal jantung, pertumbuhan terhambat, gangguan hati, hingga kematian.

Gejala Thalasemia pada Anak

Gejala thalasemia pada anak akan terlihat saat penderitanya lebih mudah merasa lelah dan lemas karena anemia. Selain itu, thalasemia pada anak juga ditandai dengan gejala penyakit kuning, kulit pucat, nafsu makan rendah, dan pertumbuhan anak yang sangat lambat. Namun, gejala tersebut bisa saja tak dialami oleh penderita thalasemia yang ringan (minor).

Artikel Sejenis

Pada thalasemia yang berat (mayor), biasanya penderita akan merasakan gejala kurang darah yang lebih parah. Bahkan, kondisi ini dapat merusak organ tubuh si Kecil hingga menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih serius.

Namun, banyak ahli yang menyebutkan bahwa gejala thalasemia pada anak akan berbeda pada setiap penderita, tergantung waktu muncul dan tingkat keparahannya. Sebab, pada beberapa kasus, penderita thalasemia juga mengalami gejala perut bengkak karena pembesaran limpa atau hati, urine berwarna keruh, kelainan bentuk tulang wajah, dan mata berwarna kuning. Oleh karena itu, sebaiknya Ibu berkonsultasi dengan dokter jika si Kecil mengalami gejala-gejala seperti yang telah disebutkan di atas.

Jenis Thalasemia pada Anak

Di dalam sel darah merah terdapat dua jenis rantai yang membentuk hemoglobin, yaitu alfa dan beta. Mutasi genetik dalam tubuh akan memengaruhi pembentukan salah satu rantai tersebut, sehingga thalasemia dibagi menjadi dua jenis besar, di antaranya:

  • Thalasemia alfa

    Pada kondisi normal, hemoglobin membutuhkan empat gen sehat untuk membentuk rantai alfa. Akan tetapi, thalasemia alfa akan muncul jika salah satu atau sebagian empat gen tersebut mengalami mutasi atau rusak.

    Kerusakan pada satu atau dua rantai alfa akan menyebabkan thalasemia alfa minor (ringan). Tubuh bisa saja tidak menunjukkan gejala apa pun. Namun, jika kerusakan terjadi di tiga atau empat rantai tersebut, kondisi ini menyebabkan thalasemia alfa mayor (berat). Bayi yang terlahir dengan kondisi ini, kemungkinan bertahan hidupnya sangatlah kecil.

  • Thalasemia beta

    Pada kondisi normal, hemoglobin membutuhkan dua gen sehat untuk membentuk rantai beta. Jika salah satu atau kedua gen tersebut rusak, maka tubuh akan mengalami thalasemia beta. Apabila hanya satu gen saja yang rusak, maka penderita akan mengalami thalasemia beta minor (ringan). Sedangkan, apabila kedua gen tersebut bermutasi, maka penderita akan mengalami thalasemia beta mayor atau intermedia.

Penyebab Thalasemia pada Anak

Thalasemia pada anak disebabkan oleh kelainan genetik yang diturunkan oleh orang tua dan dapat memengaruhi produksi sel darah merah. Bahkan, thalasemia tetap dapat diturunkan kepada anak walaupun orang tua tidak mengalami gejala. Oleh karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan bagi orang tua pembawa sifat thalasemia sebaiknya harus segera memeriksa kondisi kesehatan masing-masing ke dokter. Jika sudah memiliki anak, sebaiknya ia juga ikut diperiksa untuk mengetahui kondisi kesehatannya secara pasti. Tak hanya itu, anak yang menderita anemia pun harus segera diperiksa oleh tim medis untuk diketahui apa penyebabnya. Ini karena anemia merupakan suatu gejala, bukan suatu diagnosis.

Baca juga: Pentingnya 9 Asam Amino Esensial untuk Tumbuh Kembang Anak Lebih Optimal

Cara Mengatasi Thalasemia pada Anak

Thalasemia pada anak harus melalui pengobatan medis karena penyakit ini termasuk kelainan genetik yang membutuhkan perawatan seumur hidup. Penderita thalasemia akan melalui transfusi darah berulang untuk menambah sel darah yang kurang. Kasus thalasemia pada anak yang lebih parah, mungkin dokter akan menganjurkan penderita untuk melakukan transplantasi sumsum tulang. Berikut ini penjelasan mengenai pengobatan thalasemia yang biasa dilakukan oleh dokter, di antaranya:

  • Transfusi darah

    Transfusi darah termasuk pengobatan thalasemia pada anak yang biasa dilakukan dengan cara membantu memberikan suplai darah untuk penderita. Sebab, transfusi ini bertujuan untuk meningkatkan hemoglobin dalam tubuh. Semakin parah bentuk thalasemia seorang anak, semakin sering pula kemungkinan ia akan menerima transfusi darah.

    Transfusi darah bisa bersifat terus menerus atau sewaktu-waktu, tergantung dari jenis thalasemia yang dialami, serta kadar hemoglobin penderita. Para penderita thalasemia sangat penting untuk menjaga kadar hemoglobin dalam keadaan normal (10-11 g/dl).

    Jika kadar hemoglobin di bawah kadar normal dalam kurun waktu yang lama, maka akan merusak bagian-bagian tubuh yang menghasilkan darah merah, seperti sumsum tulang belakang. Tak hanya itu, kadar hemoglobin yang normal ini juga penting untuk menjaga agar pertumbuhan tetap normal.

  • Terapi khelasi

    pengobatan thalasemia pada anak selanjutnya adalah terapi khelasi. Ini merupakan tindakan untuk menyingkirkan penumpukan zat besi di tubuh penderita. Penumpukan zat besi bisa terjadi karena transfusi darah yang rutin dilakukan. Namun, pada beberapa kasus, penderita yang tidak menjalani transfusi darah juga berisiko mengalami penumpukan mineral besi.

  • Transplantasi sumsum tulang

    Pengobatan thalasemia pada anak ini disebut juga dengan istilah transplantasi sel punca. Tindakan ini dapat menjadi pilihan bagi para penderita thalasemia yang sudah parah. Transplantasi sumsum tulang membantu mengurangi kebutuhan akan transfusi darah dan konsumsi obat-obatan.

    Thalasemia pada anak memang tidak dapat dicegah karena penyakit ini merupakan kelainan genetik atau keturunan. Maka dari itu, Ayah dan Ibu yang hendak memiliki anak sebaiknya memeriksa kondisi kesehatan masing-masing terlebih dahulu, terutama kesehatan genetik. Dengan begitu, bisa diketahui secara pasti apakah Ibu dan Ayah pembawa sifat thalasemia atau tidak.

    Bagi anak yang mengidap thalasemia atau pun anak tanpa kondisi medis tertentu, keduanya tetap wajib mendapatkan asupan nutrisi yang penting agar tumbuh kembangnya lebih optimal.

Bila Ibu perlu memberikan asupan nutrisi tambahan dari susu pertumbuhan, Frisian Flag PRIMAGRO AAE 3+ mengandung 9 asam amino esensial (9AAE) secara lengkap. Selain itu, Frisian Flag PRIMAGRO AAE 3+ juga diperkaya dengan 9 nutrisi penting lainnya, seperti minyak ikan, omega 3, omega 6, zat besi, zinc, protein, kalsium, magnesium, vitamin D3 serta vitamin dan mineral lain untuk mendukung potensi si Kecil tumbuh pintar, kuat, dan tinggi.