Share Like
Simpan

Anak Cerdas gerak (kinestetik) biasanya menunjukkan kemampuan dan ketrampilan gerak yang melebihi kemampuan anak seusianya. Psikolog anak dari Universitas Paramadina, Alzena Masykouri MPsi mengatakan, anak cerdas gerak menampilkan integrasi yang baik antara pikiran dan tubuh secara bersamaan untuk mencapai suatu tujuan.

Kegiatan-kegiatan sederhana dan sehari-hari yang berkaitan dengan kecerdasan ini, misalnya memanjat pohon, menerbangkan layangan, lompat tali dengan berbagai gaya, petak umpet, bahkan main kelereng. “Selain lihai, anak cerdas gerak mampu pula mengembangkan ketrampilan emosi dan sosialnya melalui kegiatan bergeraknya,”kata Alzena. Jadi tidak semata terampil, tetapi mereka juga mampu membawakan dirinya dengan sportivitas dan interaksi antara individu yang baik.

Bila anak tersebut memiliki minat dan kemampuan dibidang seni tari tak semua anak mampu meniru gerakan tarian dengan tepat hanya dengan melihatnya saja. Namun, anak dengan kecerdasan gerak memiliki kemampuan untuk dapat meniru, menghafal dan menghayati gerakan-gerakan tarian yang dilihatnya. Tak sekedar meniru, tapi juga mampu menampilkannya dengan baik. Sedangkan pada anak yang menggeluti bidang olahraga mereka mampu menangkap maksud pengarahan gerakan yang diajarkan dengan cepat. Selain itu juga mampu untuk menunjukkan ketrampilan teknik dalam melakukan aktivitas olahraga tertentu.

Jay A.Seitz, pakar pendidikan dari Philadelphia University,AS, dalam artikelnya The Development of Bodily-Kinesthetic Intelligence in Children: Implications for Education and Artistry mengatakan, menari ialah bentukan dari intelegensi artistik kinestetik. Umumnya anak mengekspresikan diri diawali dengan gerakan tubuh seperti mimik wajah, bahasa tubuh dan postur tubuh. Dikarenakan sensori reseptor yang menangkap sinyal gerakan berhubungan langsung dengan bagian otak yang mengatur emosi. Pengajaran menari berpotensi mengembangkan konsep ruang anak. Diawali dengan belajar arah (kanan-kiri) merupakan konsep dasar koordinasi tubuh. Seiring perkembangannya anak belajar bergerak ke atas - bawah dan ke depan - belakang yang merupakan gerakan tiga dimensi disebut kinesphere.

Logika Motorik
Sani B Hermawan, Psi, psikolog dan direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, mengatakan anak cerdas gerak umumnya memiliki kematangan motorik baik motorik kasar seperti berlari, menangkap, melempar dan memanjat tebing dan motorik halus seperti menulis, menggunting dan menempel. Kedua tipe gerakan ini membutuhkan koordinasi visual-motorik, ketepatan, keseimbangan dan kelenturan.

Seitz memaparkan, terdapat tiga pusat kemampuan kognitif didalam kecerdasan kinestetik yaitu logika motorik, memori kinestetik, dan kesadaran kinestetik. Ketiga elemen ini merupakan komponen penting dari gerak tubuh. Logika motorik merupakan kemampuan saraf otot untuk bergerak. Komponen kedua, memori kinestetik, kemampuan anak mengatur batas dari gerakan melalui konstruksi otot, gerakan, dan posisi dalam ruang. Sedangkan, komponen terakhir, kesadaran kinestetik merupakan kemampuan indera gerak anak untuk mengikuti perintah dan petunjuk. Indera gerak meneruskan informasi keotak yang kemudian mengatur postur tubuh, gerakan, dan perubahan keseimbangan tubuh.

Namun, lanjut Alzena, kecerdasan gerak tidak sekedar melibatkan gerakan saja, tapi juga melibatkan kemampuan berpikir. Misalnya, meniru gerakan tarian atau menendang bola ke arah gawang. Pada usia 3 tahun, biasanya anak mulai menunjukkan ciri - ciri keunggulan dalam kecerdasan kinestik. Kesiapan motoriknya sudah berkembang mendekati sempurna. Sejalan dengan kesiapan fisiknya, anak juga mulai berkembang kemampuan berpikirnya. Anak mulai mampu meniru serta menghafal gerakan. Sehingga, ketika diminta mengulang kembali gerakan tertentu, ia mampu melakukannya dengan baik.

Orangtua bisa menemukan bakat anak cerdas gerak sedini mungkin. Melalui olahraga atau seni, seperti menyanyi atau menari, anak dapat teramati kemampuan geraknya. Alzena memaparkan, kecerdasan ini dapat diamati saat anak mulai melakukan gerak bertujuan, misalnya berjalan, melompat, memanjat atau berlari. Bila anak terlihat mampu melakukan gerakan dengan sangat terampil dibandingkan anak seusianya, berarti ada kemungkinan ia memiliki kelebihan dalam kecerdasan gerak.

Orangtua dapat mengembangkan cerdas gerak anak dengan mengikutsertakannya dalam kegiatan terstruktur, misalnya les menari atau klub olahraga. Tentunya pilih klub atau les yang memang memiliki program untuk anak usia dini (mulai 3 tahun). Orangtua perlu mengamati minat anak yang sebenarnya. Bisa jadi ia memiliki kecerdsan gerak, namun belum berminat terhadap kegiatan-kegiatan yang melibatkan aktivitas motorik tersebut. Jadi, jangan berharap anak langsung menyukai kegiatan les yang dipilih.

Sani menambahkan, sebaiknya berikan stimulasi berupa kegiatan yang sesuai dengan usia anak juga meski anak cerdas gerak cenderung lebih mahir. Bagi anak yang lebih muda diberikan latihan yang sederhana, mudah ditiru, dan tidak berbahaya. Sedangkan, untuk yang lebih matang usianya diberikan kegiatan yang lebih kompleks, melibatkan kreativitas dan bersifat menantang.

Psikolog Dr. Mary Ann Diorio mengatakan, anak cerdas gerak memiliki intuisi alami untuk menggunakan fisiknya dan mengeksplorasi dunianya melalui interaksi dalam ruang. Mereka memproses informasi lewat sentuhan dan gerakan. Pesenam, penari, dan atlet masuk dalam kategori ini.

Goenawan Tedjo Sutikno, pelatih dan manager Sekolah Tenis Gunawan Tenis Fun Club, mengatakan kemampuan bermain tenis anak cerdas gerak berbeda dengan anak pada umumnya.” Ini terlihat dari cara anak mengambil keputusan dalam berlari dan memukul bola. Tak sekedar memukul bola dengan tepat dan keras, tapi juga memperhitungkan langkah - langkahnya sebagai strategi,” jelasnya. Untuk mencapai kemenangan anak juga harus cerdas membaca kelemahan dan kekuatan dirinya sendiri juga lawannya, dan mampu membaca situasi dan beradaptasi dilapangan misalnya arah angin dan kasar halusnya tekstur lapangan.” Kemampuan ini bisa diasah dengan latihan, kemampuan atau bakat anak menjadi nomor dua,”sambung Goenawan.

Goenawan memaparkan, anak cerdas gerak juga terlihat cepat dan tepat menangkap bola dalam permainan tangkap bola. Saat melemparkan bola kembali, anak juga mampu melempar dengan arah yang benar. Menurutnya, kemampuan ini bisa dilatih dengan memperbanyak bermain lempar - tangkap dirumah. Untuk melatih kecepatan dan reaksi gerak anak, lempar bola - bola pada anak dengan cepat lalu minta anak menangkap bola - bola tersebut dengan selembar kain.

Ade Nove, pelatih dan pemilik Fame Studio, mengatakan pada anak cerdas gerak yang berminat didunia seni tari bisa dilihat dari gerakan tubuh yang luwes.” Saat mendengarkan musik secara spontan tubuhnya akan bergerak mengikuti irama musik, sehingga terkadang anak terkesan centil,”katanya. Anak juga mudah mengikuti urutan gerak tari dan tampak luwes menarikannya. Selain itu mereka juga tidak malu - malu membuat gerakan tari sendiri meski belum dikatakan sempurna. “Anak bisa dilatih menari mulai usia 4 tahun, ajak anak mengikuti lomba menari untuk menimbulkan rasa percaya dirinya,”sambung Ade.

Namun, anak seringkali merasa bosan mengikuti les menari atau olahraga sekalipun ia memiliki bakat dan kecerdasan gerak. Orang tua harus jeli memilih jenis kegiatannya. “Perlu diingat, jangan hanya difokuskan pada pengembangan ketrampilan gerak atau ketubuhannya saja, tapi juga harus bisa mengembangkan kecerdasan - kecerdasan lainnya,”kata Alzena.

Tips Mengembangkan potensi anak tergolong cerdas gerak:

  • Sediakan ruang luas tempat anak bisa menyentuh apapun yang mereka lihat. Ajak anak ketempat - tempat yang memicu eksplorasinya dalam menyentuh.
  • Berikan anak ruang yang cukup untuk bergerak. Anak cerdas gerak belajar berinteraksi dengan ruang disekitarnya.
  • Minta anak berpartisipasi dalam aktifitas yang berorientasi pada gerakan seperti, senam, balet, dan olahraga. Beberapa aktifitas menawarkan anak belajar melalui interaksi spasial dan gerakan tubuh yang bermanfaat untuk membangun kepercayaan dirinya.
  • Bermain drama juga melatih kemampuan cerdas gerak anak.
  • Latih kemampuan motorik halus anak. Lakukan bebrapa kegiatan yang menunjang kemampuannya ini seperti memasukan manik - manik ke benang, menggunting kertas dan kegiatan kerajinan tangan lainnya.

Sani B Hermawan mengatakan, jika kecerdasan ini tidak diasah maka bakat tersebut hanya berupa potensi dan bukan berupa prestasi. Lingkungan perlu memberikan kesempatan dan keleluasaan anak untuk memunculkan bakatnya. Berikut beberapa pedoman untuk orangtua:

  1. Cerdas gerak juga merupakan kecerdasan yang perlu dikembangkan seperti kecerdasan lainnya.
  2. Orang tua perlu memberikan stimulus gerak sedini mungkin, misalnya dengan melatih anak menagkap bola, melatih gerakan mengikuti musik, melukis, menempel, dan lainnya.
  3. Sadari setiap anak unik dan memiliki minat berbeda dan membutuhkan lingkungan untuk mendukungnya.
  4. Ikutkan anak berbagai lomba yang melibatkan cerdas gerak untuk memastikan bakat dan minatnya.
  5. Cerdas gerak bisa dilatih lebih serius melalui sekolah informal, namun tetap dengan persetujuan anak dan jangan memaksanya.
  6. Hindari label bahwa anak cerdas gerak biasanya rendah dalam prestasi akademis.