Whatsapp Share Like
Simpan

Aduh, kok anakku belum bisa bicara juga, ya? Padahal usianya sudah hampir 2 tahun. Sedangkan anak temanku sudah pintar berbicara. Kira-kira, ia kenapa, ya?

Pernahkah Ibu mengalami masalah seperti itu? Pada dasarnya, kemampuan dalam menguasai keterampilan antara anak satu dengan anak lainnya itu berbeda-beda, Bu, termasuk soal kecepatan berbicara. Jika sudah waktunya, ia pasti akan bisa dengan sendirinya. Namun, Ibu juga patut untuk waspada terhadap speech delay. Apa itu?

Mengenal Speech Delay

Speech delay adalah suatu gangguan berupa keterlambatan bicara pada anak yang sudah berusia 2 tahun. Saat si Kecil mengalami keterlambatan dalam berbicara, belum tentu ada suatu kesalahan pada dirinya. Gangguan ini bisa saja disebabkan oleh adanya gangguan neurologis, pendengaran, atau masalah perkembangan lainnya. Jika dibiarkan terus-menerus, gangguan ini bisa berkepanjangan dan menyebabkan masalah besar ketika anak tumbuh dewasa kelak.

Speech delay merupakan gangguan yang paling sering terjadi pada anak-anak pada kategori usia 3-16 tahun. Hasil penelitian yang diumumkan oleh National Centre for Biotechnology Information mengungkapkan bahwa jumlah penderita gangguan ini adalah sekitar 1-32% dari populasi normal.

Faktor Penyebab Speech Delay

Speech delay bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu:

Artikel Sejenis

  • Adanya masalah di dalam mulut. Keterlambatan bicara pada si Kecil bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami masalah di dalam mulutnya atau yang disebut sebagai ankyloglossia. Masalah bisa terletak pada langit-langit atau lidahnya yang mengakibatkan lidah menjadi tidak dapat bergerak dengan bebas karena frenulum lidah terlalu pendek.

Frenulum merupakan jaringan tipis pada bagian bawah tengah lidah yang menjadi penghubung antara lidah dan dasar mulut. Akibatnya, si Kecil jadi kesulitan untuk mengeluarkan suara tertentu, khususnya D, L, R, S, T, Z, dan Th. Selain itu, kondisi ini juga akan menyebabkan bayi mengalami kesulitan saat menyusu dari ibunya.

  • Gangguan pada indera pendengaran. Si Kecil yang mengalami gangguan pendengaran cenderung akan mengalami masalah dalam berbicara. Tanda-tandanya tidak dapat dilihat secara langsung, tapi salah satunya adalah si Kecil tidak mampu menyebutkan suatu objek tapi paham ketika orang lain memberitahu dengan gerakan. Terlambat bicara dan bahasa juga terkadang menjadi satu-satunya gejala yang nampak.
  • Gangguan bicara dan bahasa. Keterlambatan berbicara merupakan kondisi di mana si Kecil mampu berkomunikasi secara nonverbal, tapi tidak bisa mengucapkan kata dalam jumlah banyak. Sedangkan keterlambatan berbahasa merupakan suatu kondisi ketika si Kecil mengalami kesulitan untuk menyusun frasa hingga bisa dimengerti. Keterlambatan ini bisa dipicu oleh kelahiran prematur yang melibatkan fungsi otak dan bisa saja menjadi pertanda ketidakmampuannya dalam belajar.
  • Cacat intelektual. Speech delay bisa dipengaruhi oleh cacat intelektual. Si Kecil yang belum dapat berbicara saat masanya tiba adalah karena adanya masalah kognitif di mana ia tidak mampu membentuk kata-kata.
  • Kurang mendapatkan stimulasi dengan baik. Selain faktor internal, speech delay juga bisa disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu lingkungan di sekitarnya. Si Kecil yang kurang mendapatkan rangsangan verbal, pernah mengalami pelecehan, atau sering diabaikan juga akan menghambat perkembangan berbicara dan berbahasanya.
  • Autism spectrum disorder. Si Kecil yang menderita autism dapat dilihat dari gangguannya dalam berbicara atau berbahasa. Gejala-gejalanya antara lain melakukan perilaku yang berulang, gangguan interaksi sosial, regresi bahasa dan bicara, mengucapkan frasa yang berulang, serta gangguan komunikasi baik secara verbal maupun non-verbal.
  • Masalah neurologis. Gangguan neurologis, seperti cedera otak, distrofi otot, dan cerebral palsy, bisa mempengaruhi otot-otot yang dibutuhkan untuk berbicara.

Baca juga: Cara agar Anak Cepat Bicara [Stimulasi Tumbuh Kembang]

Apa Saja Gejala Speech Delay?

Speech delay sebenarnya sudah bisa terdeteksi sejak dini. Berikut beberapa gejalanya agar Ibu bisa mengantisipasinya:

  • Dalam waktu 2 bulan bayi tidak mengeluarkan suara.
  • Pada usia 18 bulan belum bisa memanggil ‘mama’ atau mengucapkan kata yang sederhana seperti ‘baba’.
  • Pada usia 2 tahun belum mengucapkan lebih dari 25 kata.
  • Pada usia 3 tahun belum mengucapkan sekitar 200 kata, orang lain susah memahami yang diucapkan anak, dan tidak meminta sesuatu dengan menyebut namanya.
  • Pada usia yang lebih tua belum mampu mengucap kata-kata yang sudah pernah dipelajari sebelumnya.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Speech Delay?

Seorang dokter anak bernama Catharine M. Sambo memaparkan beberapa langkah yang bisa Ibu lakukan untuk mencegah speech delay pada si Kecil, yaitu sebagai berikut:

  • Deteksi dini gejala awal keterlambatan bicara si Kecil.
  • Terus memberikan stimulasi berbicara dengan baik.
  • Kerap mengajak si Kecil mengobrol.
  • Membacakan buku dengan suara jelas.
  • Memberikan respon terhadap ocehan si Kecil.
  • Menjawab pertanyaan si Kecil.
  • Bernyanyi bersama.
  • Hindari memberikan si Kecil televisi dan gadget.
  • Rutin membaca buku panduan kesehatan anak yang berisi data tumbuh kembang dan imunisasi.
  • Mengamati setiap perkembangan si Kecil secara berkala.
  • Konsultasi pada dokter tentang tumbuh kembang si Kecil.

Setiap perkembangan haruslah diamati secara seksama dan berkala. Memberikan stimulasi sesuai usia si Kecil merupakan sebuah upaya untuk mencegah ia mengalami keterlambatan perkembangan. Oleh karena itu, selalu luangkan waktu untuk mengasah keterampilan buah hati agar tumbuh kembangnya sesuai dengan milestone usianya.

Bagi Ibu yang ingin berkonsultasi seputar anak langsung dengan ahlinya, bisa mengunjungi laman Tanya Pakar. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, jangan lupa untuk registrasi dulu ya, Bu.

Sumber:

Tirto