Whatsapp Share Like Simpan

Banyak Ibu yang mengeluhkan masalah mengenai bayinya yang sering muntah setelah menyusu. Bahkan, sebagian bayi hampir selalu mengalaminya. Kondisi bayi muntah setelah minum ASI, atau dikenal dengan sebutan gumoh, umumnya sangatlah normal terjadi. Namun, Ibu tetap perlu waspada karena beberapa kasus semacam ini juga bisa diakibatkan adanya gangguan pada kesehatan. Gumoh dikategorikan masih normal jika bayi tidak menunjukkan rewel atau sulit bernapas. Lantas, bagaimanakah kategori gumoh yang tidak normal?

Penyebab Bayi Gumoh

Bayi muntah setelah minum ASI bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti:

  • Refluks. Ini adalah kondisi dimana ASI yang sudah ditelan kembali ke kerongkongan karena otot pada saluran pencernaannya yang ada di lambung dan kerongkongan masih lemah. Refluks bisa terjadi kemungkinan dikarenakan oleh lambung bayi yang masih berukuran sangat kecil, sehingga membuatnya cepat terisi penuh.

Refluks juga bisa disebabkan oleh katup kerongkongan yang masih belum sempurna dan membuat fungsinya tidak bisa berjalan dengan maksimal untuk menahan isi yang ada di lambung. Kondisi refluks biasanya hanya berlangsung sampai bayi berusia 4-5 bulan dan akan berhenti sendiri setelahnya.

  • Gastroenteritis. Apabila bayi muntah setelah minum ASI dan disertai dengan diare, bisa jadi ia terserang gastroenteritis, Bu. Ini adalah infeksi bakteri atau virus yang perlu mendapatkan penanganan oleh dokter. Salah satu pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter adalah dengan memberikan oralit yang bertujuan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang saat muntah dan diare.
  • Sakit atau mengalami infeksi. Bayi yang muntah karena mengalami infeksi atau sakit akan muncul beberapa gejala berupa:
    • Batuk
    • Hidung tersumbat
    • Demam
    • Nafsu makan berkurang
    • Lesu
    • Muncul ruam
    • Rewel

            Bayi yang muntah juga bisa memiliki tanda-tanda seperti:

  • Demam scarlet yang diikuti ruam merah dan disebabkan oleh bakteri Streptococcus
  • Flu
  • Infeksi telinga
  • Meningitis
  • Infeksi saluran kemih
  • Stenosis pilorus.

Stenosis pilorus terjadi karena otot yang mengawasi katup dari lambung menuju usus mengalami penebalan yang menyebabkan katup tidak terbuka. Akibatnya, makanan akan naik ke esofagus atau tetap tertahan di lambung. Bayi yang menderita kondisi ini bisa muntah terus-menerus selama 30 menit setelah menyusu.

Artikel Sejenis

Stenosis pilorus umumnya dialami bayi saat usia 6 minggu dan bisa muncul kapanpun sebelum usianya memasuki 4 bulan. Di samping bersifat genetik, kondisi ini lebih mungkin menyerang bayi laki-laki dengan risiko empat kali lebih besar dibanding bayi perempuan.

  • Galaktosemia. Ini adalah sebuah kondisi saat tubuh bayi tidak memiliki cukup enzim galaktosa yang berfungsi untuk mencerna ASI. Galaktosemia sangat jarang terjadi dan diperkirakan hanya menimpa 1 dari 70.000 bayi. Bayi yang mengalami galaktosemia akan menunjukkan beberapa gejala yang biasanya baru muncul pada hari ketiga setelah kelahiran bayi. Gejalanya adalah berupa:
    • Gangguan menyusu
    • Muntah
    • Berat badan di bawah normal
    • Gagal hati
    • Katarak
    • Keterbelakangan mental
    • Organ limpa dan hati membengkak
    • Perdarahan
    • Rentan terserang infeksi bakteri E. coli
    • Mengalami penyakit kuning

Ketika bayi terdiagnosa mengalami galaktosemia, maka ia harus mengonsumsi susu bebas laktosa  dan tidak boleh mendapatkan ASI terlebih dulu.

 

Baca juga: Mengapa Bayi Muntah Lewat Hidung & Mulut? Ini Penjelasannya!

Kapan Perlu Waspada?

Bayi muntah setelah minum ASI perlu diwaspadai jika ia juga menunjukkan beberapa gejala lainnya, seperti di bawah ini:

  • Muntah diikuti cairan hijau atau darah
  • Muntah berulang hingga lebih dari 1-2 hari
  • Sesak napas
  • Demam
  • Muncul ruam
  • Kurang atau tidak nafsu untuk menyusu
  • Sulit tidur
  • Rewel
  • Ubun-ubun terlihat menonjol
  • Perut membengkak
  • Dehidrasi (ditandai dengan jarang pipis, bibir kering, ubun-ubun cekung, dan tidak mengeluarkan air mata saat menangis)

Cara Meredakan Bayi Muntah

Melihat bayi muntah setelah minum ASI tentu membuat setiap Ibu merasa khawatir dan sebaiknya memang dihindari supaya bayi tetap bisa mendapatkan cukup asupan nutrisi. Untuk meredakan keluhan tersebut, ada beberapa cara yang bisa Ibu lakukan, yaitu:

  • Usahakan untuk menjaga kepala bayi berada pada posisi yang lebih tinggi dari tubuhnya setiap kali menyusu.
  • Menegakkan tubuh bayi setelah menyusu untuk membuatnya mudah bersendawa.
  • Sendawakan bayi setiap habis menyusu untuk mengeluarkan angin yang masuk ke mulut bayi selama proses menyusu.
  • Meletakkan kepala bayi dengan posisi sedikit lebih tinggi ketika tidur dengan mengganjal kepala dan bahunya menggunakan handuk atau selimut yang digulung.
  • Bayi sebaiknya menyusu dalam kondisi tenang untuk menghindari ia menghisap udara terlalu banyak.
  • Hindari memakaikan bayi popok atau pakaian yang terlalu ketat.
  • Jangan menggendong bayi dengan posisi perut berada tepat di bahu Ibu supaya tidak menekan perutnya.
  • Susui bayi secukupnya tapi lebih sering agar lambungnya tidak terlalu penuh dan memicunya memuntahkan kembali ASI yang telah diminumnya.
  • Biarkan bayi tenang dalam beberapa waktu setelah menyusu.
  • Cari tahu kemungkinan bayi muntah karena minuman atau makanan yang Ibu konsumsi, contohnya susu sapi.
  • Untuk bayi yang sudah lebih besar, dudukkan ia selama 30 menit setiap habis menyusu.

 

Kesimpulannya, bayi muntah setelah minum ASI adalah hal yang wajar terjadi. Namun apabila Ibu menemui adanya gejala yang tidak normal seperti di atas, Ibu sebaiknya membawa bayi ke dokter untuk berkonsultasi mengenai penyebab dan langkah pengobatan yang tepat. Amati dengan teliti ketika bayi muntah dan berapa kali frekuensinya sebagai bahan analisa oleh dokter.

Bagi Ibu yang ingin berkonsultasi seputar anak, bisa langsung berkunjung ke laman Tanya Pakar, ya. Para ahli di sana akan membantu menjawab pertanyaan Ibu. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, jangan lupa untuk registrasi terlebih dulu.

Sumber:

Popmama

Alodokter